Doa hari Arafah dan dzikir terbaik

📋 DOA HARI ARAFAH DAN DZIKIR YANG TERBAIK

                                    بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah, dan sebaik-baik dzikir yang aku ucapkan dan juga diucapkan para nabi sebelumku adalah,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Laa ilaaha illallah, wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syaiin Qodiir” (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah yang satu saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kekuasaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu).” [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 1536]

📝 #BEBERAPA_PELAJARAN:

1) Doa di hari Arafah adalah yang paling afdhal, karena pahalanya paling besar dan terkabulnya paling cepat.

2) Diantara adab berdoa adalah memuji Allah ta’ala, dan sebaik-baik pujian kepada Allah ta’ala adalah dzikir terbaik yang disebutkan dalam hadits yang mulia ini.

3) Bisa jadi pula doa yang dimaksud untuk dibaca di hari Arafah adalah dzikir tersebut, hal itu didukung dengan satu riwayat Al-Imam Ahmad dari ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya:

كان أكثر دعاء النبي صلى الله عليه وسلم يوم عرفة لا إله إلا الله

“Kebanyakan doa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di hari Arafah adalah: Laa ilaaha illallah (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah).”

Al-Husain bin Al-Hasan Al-Marudzi rahimahullah berkata,

سألت سفيان بن عيينة عن أفضل الدعاء يوم عرفة فقال : لا إله إلا الله

“Aku bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah tentang doa yang paling afdhal di hari Arafah. Beliau berkata: Laa ilaaha illallah (Tidak ada yang berhak disembah selain Allah).” [Mir’atul Mafatih, 9/140]

4) Dzikir tersebut adalah dzikir yang paling afdhal karena mengandung tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala dan menafikan semua bentuk ibadah kepada selain-Nya, sedang tauhid adalah kewajiban hamba terbesar dan amalan yang paling dicintai Allah ta’ala.

5) Pelajaran terbesar dari ibadah hari Arafah dan ibadah haji, bahkan dari seluruh ibadah adalah peringatan bagi setiap hamba untuk senantiasa beribadah hanya kepada Allah ta’ala yang satu saja, tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.

📚 [Disarikan dari Tuhfatul Ahwadzi (Syarah Hadits: 3509) dan Mir’atul Mafatih (9/140)]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Oleh : Al-Ustâdz Abu Abdillah, Sofyan Chalid bin Idham Ruray 

💻 Sumber:

http://sofyanruray.info/doa-hari-arafah-dan-dzikir-yang-terbaik/

═════ ❁✿❁ ═════

➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam ⤵

📮 Join Telegram: http://goo.gl/6bYB1k

📲 Gabung Group WA: 08111377787

🌍 Fb: http://www.fb.com/taawundakwah

🌐 Web: http://www.taawundakwah.com

📱 Android: http://bit.ly/1FDlcQo

🎬 Youtube: Ta’awun Dakwah

📒 Hastag: #Mutiara_Sunnah

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Iklan

Bolehkan berqurban untuk orang meninggal

Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal

Ada beberapa pendapat di kalangan ulama dalam pembahasan ini. Mungkin, dari pembahasan tersebut, bisa disimpulkan bahwa udh-hiyyah untuk orang yang telah meninggal mengandung tiga keadaan:

1⃣ Pertama, udh-hiyyah diperuntukkan bagi orang-orang yang masih hidup, tetapi orang yang telah meninggal diikutkan juga di dalamnya. Hal seperti ini adalah boleh berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ.

“Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad.” [1]

Penyebutan keluarga dan umat Muhammad dalam hadits di atas tentunya juga mencakup orang-orang yang telah meninggal.

2⃣. Kedua, udh-hiyyah untuk orang yang telah meninggal karena melaksanakan wasiatnya. Hal ini juga diperbolehkan berdasarkan firman Allah Subhânahû wa Ta’âlâ tentang keharusan pelaksanaan wasiat,

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka barangsiapa yang mengubah (wasiat) itu setelah mendengar (wasiat) tersebut, sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubah (wasiat) itu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 181]

3⃣. Ketiga, udh-hiyyah yang dikhususkan untuk orang yang telah meninggal. Sejumlah ulama memandang bahwa hal tersebut adalah boleh karena udh-hiyyah untuk orang yang telah meninggal sama dengan bersedekah untuk mayyit, sedang bersedekah untuk mayyit adalah boleh.

➡ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh berkata, “Dan boleh ber-udh-hiyyah untuk orang yang telah meninggal sebagaimana boleh berhaji dan bershadaqah untuknya. (Udh-hiyyah) disembelih untuknya di rumah, (tetapi) udh-hiyyah maupun selainnya tidak boleh disembelih di kuburan.”[2]

➡ Namun, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullâh[3] berpendapat bahwa ber-udh-hiyyah untuk mayyit bukanlah sesuatu yang afdhal karena tidak dilakukan oleh Rasullullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam untuk Khadîjah, Hamzah, maupun keluarga dan orang lain yang beliau cintai. Andaikata hal tersebut memang afdhal, beliau dan para shahabatnya akan memberi contoh dalam hal tersebut.

Wallâhu A’lam.

[1] Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ.

[2] Majmû’ Al-Fatâwâ 26/306.

[3] Bacalah Asy-Syarh Al-Mumti’ 7/479-480 dari Risalah Ahkâmul Udh-hiyyah wa Adz-Dzakâh.

Sumber:

📚 Buku Mendulang Pahala di Bulan Dzulhijjah Karya

✒ Al-Ustâdz Dzulqarnain M. Sunusi

Markaz Dakwah untuk Bimbingan, Taklim, dan Keamanan Berpikir

• Website : http://markazdakwah.or.id

• Facebook : fb.com/markazdakwahbt

• Telegram : telegram.me/markazdakwahbt

• Twitter : twitter.com/markazdakwahbt

• Instagram : instagram.com/markazdakwahbt

• Youtube : http://youtube.com/markazdakwahbt

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Apakah hukum qurban dengan kerbau

Hukum Qurban dengan Kerbau

Qurban Kerbau

● Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya berkurban dengan kerbau, apakah bisa disamakan dengan sapi?

● Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

• Para ulama menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah, 2:2975).

• Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau. Diantaranya dari kalangan Syafi’iyah sebagaimana keterangan di Hasyiyah al-Bajirami, dan Madzhab Hanafiyah sebagaimana keterangan di Al-Inayah Syarh Hidayah 14:192 dan Fathul Qodir 22:106, mereka menganggap keduanya satu jenis.

• Syaikh Ibn al-Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.

Isi Pertanyaan:

”Kerbau dan sapi memiliki perbedaan dalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab:

”Jika kerbau termasuk (jenis) sapi, maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam Alquran adalah jenis hewan yang dikenal orang Arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang Arab.” (Liqa’at Bab al-Maftuh, 200:27).

• Dalam situs resmi Syaikh Shaleh al-Fauzan, disebutkan salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada beliau: …apakah kerbau juga termasuk jenis bahimatul an’am (hewan ternak yang boleh dijadikan qurban)?

Beliau menjawab: “Kerbau termasuk salah satu jenis sapi.”

Sumber: http://www.alfawzan.ws/node/9205, jawaban dalam bentuk rekaman suara.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa berqurban dengan kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi.

Dijawab oleh Al-Ustâdz Ammi Nur Baits 

(Dewan Pembina konsultasisyariah.com )

○ [ https://konsultasisyariah.com/author/ammi

○ [ https://konsultasisyariah.com/category/fikih

○ [ https://konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih

○ [ https://konsultasisyariah.com/category/fikih/ibadah-fikih/fikih-qurban

[Sumber: https://konsultasisyariah.com/14067-hukum-qurban-dengan-kerbau.html ]

~

• Website : konsultasisyariah.com 

• Facebook : https://facebook.com/KonsultasiSyariah

• Twitter : https://twitter.com/kons_syariah

• Telegram : https://t.me/KonsultasiSyariah

• Android : https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz

Konsultasi Kesehatan dan Tanya Jawab Pendidikan Islam 

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Hewan apakah yang digunakan untuk berqurban

Yang Lebih Utama dalam Berkurban adalah Unta, Kemudian Sapi, Kemudian Kambing, Kemudian Kerjasama

● Soal :

Mana yang lebih utama dalam berkurban? 

Berkurban kambing atau patungan untuk satu sapi?

● Jawab :

Alhamdulillah

Sebaik-baik hewan kurban adalah unta, kemudian sapi, kemudian kambing, kemudian kurban kolektif dalam satu sapi, inilah pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i, berdasarkan hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada shalat Jum’at:

( مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ) رواه البخاري (881) ومسلم (850(

“Barang siapa yang berangkat (ke masjid) pada awal waktu maka seakan ia mendapat badanah (unta), dan barang siapa yang berangkat pada waktu kedua maka ia seakan mendapat sapi, dan barang siapa yang berangkat pada waktu ketiga maka ia seakan mendapatkan kambing bertanduk, dan barang siapa yang berangkat pada waktu keempat maka seakan ia mendapatkan ayam, dan barang siapa yang berangkat pada waktu kelima maka seakan ia mendapatkan telur”. (HR. Bukhori 881, dan Muslim 850)

Karena kurban itu adalah sembelihan untuk bertaqarrub kepada Allah, maka unta (gemuk) lebih utama, seperti hady (sembelihan haji).

Seekor kambing lebih baik dari pada patungan (kerjasama/kolektif) pada unta; karena tujuan berkurban adalah mengalirkan darah, dan orang yang berkurban perorangan ia bertaqarub kepada Allah dengan mengalirkan darah sepenuhnya. Dan kambing kibas adalah sebaik-baik kambing; karena kibas adalah hewan kurban Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan sebaik-baik daging. (Al-Mughni: 13/366)

• Lajnah Daimah pernah ditanya: Mana yang lebih utama untuk berkurban, kambing kibas atau sapi?

Mereka menjawab:

“Sebaik-baik kurban adalah unta, lalu sapi, kemudian kambing, kemudian kurban kolektif dalam satu unta maupun sapi. Berdasarkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pada shalat Jum’at:

( مَنْ راح في الساعة الأولى فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً . . . إلخ الحديث (

“Barang siapa yang berangkat (ke masjid) pada awal waktu, maka seakan ia mendapatkan badanah (unta gemuk)…. dan seterusnya.

Hadits di atas menunjukkan adanya tingkatan dalam bertaqarrub kepada Allah antara unta, sapi dan kambing, dan tidak diragukan lagi bahwa berkurban adalah termasuk bentuk bertaqarrub kepada Allah yang paling agung, dan unta adalah yang paling mahal harganya, paling banyak dagingnya, paling banyak manfaatnya, oleh karenanya pendapat ini didukung oleh tiga imam, yaitu; Abu Hanifah, Syafi’i, dan Ahmad. Malik berkata: Kurban yang paling baik adalah kambing yang berumur 8-9 bulan, kemudian sapi, kemudian unta; karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkurban dengan dua kambing, dan beliau tidak akan melakukan sesuatu kecuali sesuatu tersebut adalah yang lebih utama.

Jawaban dari pendapat Imam Malik tersebut adalah: Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak selalu melaksanakan yang lebih utama; sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada umatnya; karena mereka berqudwah kepada beliau, dan Rasulullah tidak suka menyulitkan mereka. Dan telah dijelaskan sebelumnya tentang keutamaan unta, sapi dan kambing. Wallahu ‘alam.

(Fatawa Lajnah Daimah: 11/398)

• Syaikh Ibnu Utsaimin dalam “Ahkam Udhhiyyah” berkata:

“Hewan kurban yang paling utama adalah unta, lalu sapi jika ia berkurban penuh, kemudian kambing kibas, kemudian kambing biasa, kemudian 1/7 unta kemudian 1/7 sapi.

Soal Jawab Tentang Islam

• Published Date : 2014-09-16 M

• No. : 45767

○ [ https://islamqa.info/id/cat/503

○ [ https://islamqa.info/id/cat/306

[Sumber: https://islamqa.info/id/45767 ]

http://www.islamqa.info | Islam – Question & Answer

General Supervisor : Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Apakah mendahulukan membayar hutang atau berqurban

✔ APAKAH MENDAHULUKAN BERKURBAN ATAU MEMBAYAR HUTANG?
Orang yang memiliki hutang, apakah dia berkurban dahulu di hari Id ataukah lebih utama baginya untuk melunasi hutangnya?
Alhamdulillah.
Melunasi hutang lebih utama dan lebih wajib disbanding berkurban di hari Id, karena beberapa sebab:
1.      Melunasi hutang itu wajib, sedangkan berkurban itu sunah mu’akkadah (sangat ditekankan). Yang sunah tidak didahulukan dari yang wajib. Bahkan seandainya berpedoman pada pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa berkurban itu wajib, tetap saja melunasi hutang itu didahulukan, karena berkurban diwajibkan, bagi mereka yang berpendapat wajib, jika seseorang memiliki kemampuan, sedangkan orang yang memiliki hutang berarti dia tidak memiliki kemampuan.
2.      Melunasi hutang merupakan pembebasan diri dari tanggungjawab, apabila dia berkurban, maka dia mengalihkan perhatiannya dari itu. Tidak diragukan lagi, bahwa membebaskan diri dari beban kewajiban lebih utama dari sibuk berkurban.
3.      Hutang adalah hak hamba sedangkan berkurban adalah hak Allah yang bersifat sunah dan luas.
4.      Membiarkan hutang boleh jadi sangat berbahaya. Dikhawatirkan, orang yang berhutang harus melunasinya di hari kiamat dengan kebaikan-kebaikannya jika Allah tidak lunasi atas namanya. Ini berarti sangat berbahaya. Karena ketika itu, seorang muslim sangat membutuhkan kebaikan walau hanya satu.
Maka jelas dengan hal itu bahwa menunaikan hutan lebih wajib dari Menyembelih hewan kurban. Dikecualikan jika hutangnya bersifat jangka panjang, dan besar kemungkinan orang yang berhutang dapat melunasinya pada waktunya jika dia berkurban pada masa sekarang. 
Atau dia telah menyerahkan jaminan yang membuatnya dapat menjamin pelunasan hutangnya jika pada waktunya dia tidak mampu melunasinya. Ketika itu, tidak mengapa dia berkurban sesuai kemudahan yang Allah berikan kepadanya, baginya pahala dari sisi Allah Ta’ala.
Disebutkan dalam Al-Liqo Asy-Syahri, no. 53, soal no. 24;
Soal:
Apa hukum berkurban jika dia memilik hutang bertempo, apakah sah kurbannya jika dia telah meminta izin dari orang yang dia hutangi?
Jawab:
Saya berpendapat hendaknya seseorang tidak berkurban jika dia memiliki hutang, kecuali jika hutangnya memiliki tempo dan dia mengetahui bahwa dirinya mampu melunasi hutangnya, maka tidak mengapat ketika itu dia berkurban. Jika merasa tidak mampu, maka hendaknya uangnya dia simpan untuk melunasi hutangnya. Hutang itu penting wahai saudara-saudaraku. 
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah disodorkan jenazah, namun dia tidak menyalatkannya. Hingga suatu hari beliau diantarkan jenazah seorang Anshar, lalu ketika dia melangkah beberapa langkah, beliau bertanya, “Apakah orang ini punya hutang?” Mereka berkata, “Ya.” Maka beliau berkata, “Shalatkanlah saudara kalian.” Beliau tidak menshalatkannya, hingga Abu Qatadah radhiallahu anhu bangkit dan berkata, “Dua dinar (hutangnya) tanggungan saya.” Maka beliau berkata, “Apakah engkau mau menanggung orang yang berhutang dan mayat jadi bebas dari tanggungan?” Dia berkata, “Ya wahai Rasulullah, maka beliau maju dan menshalatkannya.”
Ketika beliau ditanya tentang orang yang mati syahid di jalan Allah dan bahwa dia menghapus segala sesuatu, beliau bersabda,
إلا الدَّيْن
“Kecuali hutang.”
Mati syahid tidak menghapus hutang. Hutang bukan perkara ringan wahai saudaraku. Selamatkan diri kalian. 
Tidaklah sebuah negeri ditimpa permasalah ekonomi di masa depan kecuali karna mereka berhutang dan meremehkannya, maka akibatnya sesudah itu mereka menjadi bangkrut, kemudian orang yang dihutangi mereka menjadi bangkrut. Masalah ini sangat berbahaya. 
Selama Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan bagi hamba-hambaNya dalam ibadah harta yaitu bahwa mereka tidak diwajibkan kecuali memiliki keluangan, hendaklah memuji Allah dan beryukur kepadaNya.”
Dikatakan dalam kitab Asy-Syarhul Mumti, 8/455, “Jika seseorang punya hutang, hendaknya dia mulai dengan melunasi hutangnya sebelum berkurban.” Lihat jawaban soal no. 41696
Wallahua’lam.
(Oleh Syaikh Mohammad Al Munnajjed).
Sumber: https://islamqa.info/id/112426
 📝💡 Reposted by Group Kajian WA ISLAMADINA (08170071531 & 087782400868)   
SILAKAN BERGABUNG di Telegram Channel:  @kajianIslamadina ▶ KLIK : https://goo.gl/qSyuEO

Tahukah hukum berqurban

HUKUM BERKURBAN

Oleh

Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar

● HUKUM BERKURBAN

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum kurban menjadi beberapa pendapat, yang paling masyhur ada dua pendapat, yaitu.

1. Pendapat Pertama : Hukum kurban adalah sunnah mu’akkadah, pelakunya mendapat pahala dan yang meninggalkannya tidak berdosa. Inilah pendapat mayoritas ulama salaf dan yang setelah mereka.

2. Pendapat Kedua : Hukum kurban adalah wajib secara syar’i atas muslim yang mampu dan tidak musafir, dan berdosa jika tidak berkurban. Inilah pendapat Abu Hanifah dan selainnya dari para ulama.

Setiap pendapat ini berdalil dengan dalil yang telah dipaparkan dalam kitab-kitab madzhab. Pendapat yang menenangkan jiwa dan didukung dengan dalil-dalil kuat dalam pandangan saya bahwa hukum kurban adalah sunnah mu’akkadah, tidak wajib.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Kurban hukumnya sunnah hasanah, tidak wajib. Barangsiapa meninggalkannya tanpa kebencian terhadapnya, maka tidaklah berdosa [8]

Sedangkan Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban kurban atas orang yang mampu. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa kurban itu sunnah bagi orang yang mampu, jika tidak melakukannya tanpa udzur, maka ia tidak berdosa dan tidak harus mengqadha’nya. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kurban itu wajib atas orang yang mampu.[9]

___

Footnote

[8]. Al-Muhalla (VIII/3)

[9]. Shahiih Muslim bi Syarh An-Nawawi (XIII/110) dan lihat dalil dua pendapat ini dan perdebatannya dalam Fathul Baari (X/3), Bidaayatul Mujtahid (I/448), Mughniyul Mubtaaj (IV/282) Majmu Al-Fatawaa (XXVI/304), Al-Mughni dan Syarhhul Kabiir (XI/94) dan Al-Mughni (VIII/617) dan setelahnya.

[Disalin dari kitab “Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah”, Edisi Indonesia : Lebaran Menurut Sunnah yang Shahih, Penulis : Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah : Kholid Syamhudi Lc, Penerbit : Pustaka Ibnu Katsir]

[Dikutip dari: https://almanhaj.or.id/1692-definisi-asal-dan-hikmah-pensyariatan-kurban-serta-hukum-kurban.html ]

~

• Website : almanhaj.or.id 

• Android : https://play.google.com/store/apps/details?id=com.fazrilab.almanhaj&hl=in

Media Islam Salafiyyah, Ahlussunnah wal Jama’ah

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Tahukah doa dihari jumat

👆🏻📖 Doa di Hari Jumat

✒ Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, Msc حفظه الله تعالى. 

Di antara barokah di hari tersebut, Allah Ta’ala memberi satu waktu utama untuk memanjatkan do’a kepada-Nya. Di mana do’a saat itu adalah do’a yang mustajab (mudah diijabahi).
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hari Jum’at, lantas beliau bersabda,
فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“Di hari Jum’at terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas ia memanjatkan suatu do’a pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang ia minta.”

(HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852)
▶ Kapan waktu mustajab yang dimaksud?
Para ulama menyebutkan beberapa pendapat dalam masalah ini yaitu tentang kapan waktu yang dimaksud. 
Ada riwayat dari Imam Muslim, yaitu hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan waktu yang dimaksud.
Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al Asy’ari. Ia berkata, “’Abdullah bin  ‘Umar bertanya padaku, ‘Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyebut suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai waktu mustajabnya do’a di hari Jum’at?” Abu Burdah menjawab, “Iya betul, aku pernah mendengar dari ayahku (Abu Musa), ia berkata bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هِىَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ
“Waktu tersebut adalah antara imam duduk ketika khutbah hingga imam menunaikan shalat Jum’at.”

(HR. Muslim no. 853)
Kata Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, “Hadits ini memiliki ‘illah (cacat) dan tidak shahih. Al Hafizh Ad Daruquthni rahimahullah menyatakan cacatnya hadits tersebut. Al Hafizh Ibnu Hajar juga menyatakan hal yang sama bahwa hadits tersebut memiliki ‘illah karena adanya idhthirob dan inqitho’ (sebab yang membuat hadits menjadi dho’if, pen).”
Ada hadits lain yang secara sanad shahih menyebutkan tentang kapan waktu mustajab di hari Jum’at yang dimaksud. 
Hadits tersebut adalah hadits Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
« يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ ». يُرِيدُ سَاعَةً « لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ ».
“(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah ‘Ashar.”

( HR. Abu Daud no. 1048. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Musthofa Al ‘Adawi menyatakan adanya cacat dalam hadits ini walaupun sanadnya shahih)
Kata Syaikh Musthofa, “Walaupun sanadnya shahih, namun hadits tersebut memiliki ‘illah (cacat)”. Karena hadits dikatakan shahih tidak semata-mata dilihat dari sanadnya yang selamat, namun juga dilihat adakah ‘illah (cacat) dalam hadits tersebut ataukah tidak. Demikianlah yang dapat dipahami dari ilmu mustholah hadits.
Pendapat yang disebut dari hadits terakhir, itulah yang lebih mendekati tentang maksud waktu di hari Jum’at.  Kata Syaikh Musthofa Al ‘Adawi rahimahullah, “Namun demikian, sudah sepantasnya seorang muslim berusaha untuk memperbanyak do’a di hari Jum’at di waktu-waktu yang ada secara umum.”
Ibnu Hajar sendiri menyebutkan ada 40 pendapat dalam masalah ini. 
Beliau rahimahullah mengatakan,
أَنَّ كُلّ رِوَايَة جَاءَ فِيهَا تَعْيِين وَقْت السَّاعَة الْمَذْكُورَة مَرْفُوعًا وَهْم ، وَاَللَّه أَعْلَم .
“Setiap riwayat yang menyebutkan penentuan waktu mustajab di hari Jum’at secara marfu’ (sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memiliki wahm (kekeliruan). Wallahu a’lam.”

(Fathul Bari, 11/199)
Jadi, yang mestinya dilakukan adalah hendaknya setiap muslim memperbanyak do’a di sepanjang hari Jum’at untuk mendapatkan keutamaan terkabulnya  do’a, tidak dikhususkan pada waktu tertentu mengingat alasan yang telah diulas di atas. Moga Allah perkenankan setiap do’a-do’a kita.

📚 Tulisan ini adalah faedah ilmu dari pembahasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi hafizhohullah (ulama Mesir dan termasuk murid Syaikh Muqbil) dalam kitab beliau Fiqhud Ad Du’a, terbitan Maktabah Makkah, cetakan pertama, 1422 H, hal. 46-48

🌎 rumaysho.com
📝💡 Reposted by Group Kajian WA ISLAMADINA (08170071531 & 087782400868) 
SILAKAN BERGABUNG di Telegram Channel:  @kajianIslamadina ▶ KLIK : https://goo.gl/qSyuEO