Strategi Pendidikan era RI 4.0

*3 Strategi Pendidikan Indonesia Memenangkan Revolusi Industri 4.0*

Oleh: Zaki Mubarak

Problematikan pendidikan Indonesia semakin rumit dihadapkan dengan Era Revolusi Industri 4.0. Sejak dulu, permasalahan pendidikan Indonesia belum mencapai kesuksesan optimal seperti yang diharakan. Beberapa konsep yang everlasting problem (masalah yang tak pernah selesai) belum tuntas dicari solusinya. Bongkar pasang kurikulum, perumusan standar pendidikan, meningkatkan kompetensi guru serta banyak masalah kebijakan pendidikan yang jauh panggang dari apinya. Masalah ini terus dibicarakan, didiskusikan, dierdebatkan bahkan diimplementasikan dengan banyak ragam. Kadang, implementasinya tergantung kepada siapa pemegang kekuasaan pendidikan.

Belum tuntas masalah pendidikan yang begitu runyam ini dalam melihat kemajuan pendidikan Indonesia, sekarang kita dihadapkan pada pendidikan di Era revolusi Industri 4.0 (RI 4.0). Era ini bukan saja melanjutkan kehebatan era dahulu yang belum sempat terkejar oleh pendidikan kita, namun era yang memiliki ekosistem yang berbeda dengan sistem sebelumnya. Ada banyak disruptive (kekacauan) dalam banyak faktor. Pendidikan kita semakin memiliki beban yang sangat berat.

Dahulu kelas itu harus memiliki bangunan, di era ini kelas tidak mesti harus ada secara real tapi bisa dengan sistem digital. Dahulu model pembelajaran itu lebih banyak digiring kepada menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, hari ini kita harus menggunakan ilmu dan teknologi itu menjadi sebuah produk yang lebih bermanfaat. Dahulu literasi yang dihasilkan dalam lembaga pendidikan kita adalah calistung (membaca, menulis dan berhitung), hari ini kita harus menguasai tiga literasi pokok yakni literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Calistung tidak lagi dibicarakan menjadi yang pokok, tapi itu menjadi fondasi dalam kehidupan era ini. Jadi era ini adalah era dimana perubahan fundamental terjadi, dan dunia pendidikan kita masih meraba untuk menjalaninya.

Kelompok Pendidikan Indonesia

Dunia pendidikan kita masih mencari model yang paling cocok dalam adopsi, adaptasi dan replikasi RI 4.0 ini. Dalam memaknainya, ada tiga kelompok yang paling mudah diklasifikasi. (1) Kelompok konservatif yang berpikir bahwa era digital harus diproteksi dengan banyak cara. Menghindarkan anak dalam penggunaan gadget, tidak mengizinkan koneksi internet, menjauhkan dunia kebisingan internet adalah beberapa langkah yang dilakukan oleh kelompok ini. Prinsip dasarnya adalah bahwa instrument RI 4.0 memiliki banyak madharat dari pada maslahat. Solusinya adalah menghindarinya.

(2) Kelompok integratif atau konvergen yang berpikir bahwa memadukan pendidikan tradisional dan pendidikan digital adalah solusi baik. Prinsip “Al muhafadhotu ala qodimi sholih, wal ahdu bil jadidi Aslah” Menjaga tradisi yang baik masa lalu dan mengambil hal yang lebih baik di masa sekarang adalah hal yang paling memungkinkan. Kebanyakan kelompok ini mengambil prinsip “tradisional” dalam konteks moralitas, nilai dan kemanusiaan. Sedangkan prinsip “digital” adalah lebih kepada pengetahuan dan keterampilan baru. Pengetahuan dan keterampilan ini merupakan adaptasi dari disrupsi yang hadir dan tak dapat tertolakan dalam kehidupan nyata. Pendidikan harus menghadapinya bukan menghindarinya.

(3) Kelompok fully digital atau digital penuh yang berpikir bahwa digital adalah solusi pendidkan saat ini. Domain pendidikan yang diklasifikasikan oleh Bloom menjadi tiga; kognitif, afektif dan psikomotorik dapat diselesaikan dalam ekosistem digital. Dalam konteks ini, memang afektif menjadi hal yang paling diperdebatkan oleh ahli pendidikan. Mereka meyakini bahwa digitalisasi pendidikan tidak akan menyempurnakan domain pendidikan secara utuh. Jika pendidikan itu hanya berisi tentang transfer ilmu dan keterampilan ilmu dimaksud, maka digital bisa menjadi core pendidikan, tapi pendidikan bukan hanya tentang kedua hal itu. Ada aspek afektif yang tidak bisa diselesaikan oleh digital. Namun, hal ini dibantah oleh kelompok ini, dimana “Artificial Intellegent” (kecerdasan buatan, produk digital akan memiliki rasa atau emosi seperti manusia) menjadi solusi yang sedang dikembangkan.

Apapun klasifikasinya, saya harus putuskan bahwa pendidikan Indonesia harus memilih dua kelompok terakhir. Kemungkinan besar kelompok pertama (konservatif) adalah kelompok lembaga pendidikan Islam semacam pesantren. Lembaga ini memiliki tujuan “melestarikan ilmu dan nilai” yang telah didesain oleh para ulama terdahulu. Tujuan ini dapat dicapai dengan melakukan prinsip kelompok konservatif. Namun, untuk lembaga pendidikan Indonesia yang kreatif, produktif dan inovatif dan mengacu kepada masa depan, maka kelompok integrative atau fully digital menjadi solusi.

Karakteristik Pendidikan Revolusi Industri 4.0

Sebelum melaksanakan strategi bagaimana pendidikan Indonesia bersenyawa dengan RI 4.0, penting kita memahami karakteristik era ini. Ada beberapa dimensi yang harus dipikirkan dalam memahami RI 4.0. (1) Dimensi demografi. Dahulu pendidikan dibatasi oleh ruang dan waktu, dimana demografi menjadi bagian penting dalam pertimbangannya. RI 4.0 tidak lagi melihat ruang dan waktu sebagai batasan. Sekolah bisa menggunakan placeless (tak bertempat), timeless (tak berwaktu). Artinya, tempat nyata diganti dengan tempat virtual yang tidak terbatas, begitu juga waktu belajar tidak ada batasnya. Peserta didik bisa belajar kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja.

(2) Dimensi profesi. Era sebelumnya, profesi sudah tertata dengan baik dan memiliki tingkat kemapanan tinggi (hasil konsensus masyarakat masa lalu). Dalam era RI 4.0 ini, terjadi disruptif pekerjaan dimana jenis pekerjaan yang dahulu mapan sekarang dianggap tidak relevan. Pekerjaan baru ini berhubungan dengan perubahan dan perkembangan dunia digital. Pekerjaan-pekerjaan itu harus disiapkan oleh lembaga pendidikan, sehingga mau tak mau lembaga pendidikan harus memiliki strategi khusus dalam membuat link and match antara konsep pendidikan dan praktek pekerjaan.

(3) Dimensi literasi. Literasi adalah melek. Melek bisa didefinisikan sesuai dengan jenis keterampilan berpikirnya. LOTS (Lower Order Thinking Skills) mendefinisikan melek dengan menghapal, mengerti dan mengaplikasikan. HOTS (Higher Order Thinking Skills) bisa mendefinisikan melek dengan mengevaluasi, menganalisi dan mencipta. Calistung yang dahulu menjadi literasi utama sudah tidak relevan dalam era ini. RI 4.0 membutuhkan literasi tingkat tinggi dari sekedar Calistung.

Literasi pertama adalah literasi data. Peserta didik bukan hanya disajikan data (pengetahuan, informasi, materi) dengan sifat single reality (kebenaran tunggal) tetapi harus multiple reality (kebenaran jamak). Materi pelajaran begitu berjibun dan mudah diakses melalui dunia digital dan itu harus adalah fakta yang tak terbantahkan. Data yang dijadikan materi pelajaran harus mampu dianalisis menjadi sebuah pengetahuan yang berguna dan baik untuk kehidupan ppeserta didik.

Literasi kedua adalah literasi teknologi. Peserta didik dalam RI bertujuan memahami sumber data melalui alat teknologi. Memahami cara kerja serta maintenance adalah hal mutlak yang harus diketahui. Kemampuan ini akan membantu pendidikan menjadi lebih berkembang cepat. Produktivitas sebagai karakteri RI 4.0 akan lebih cepat terealisasi apabila mereka memahami tata cara kerja mesin yang digunakan sebagai bagian penting dalam pembelajarannya.

Literasi ketiga adalah literasi manusia. Data dan alat teknologi adalah sesuatu yang pasif dan bisa bekerja sesuai kehendak usernya. Manusia sebagai user tunggal harus memahami hakikat hidup dirinya dan melanjutkan kehidupan masa depan. Manusia sebagai mahkuk sosial, politik dan budaya tidak lepas dari dinamika kehidupan yang bervariasi. Peserta didik harus mampu memahami itu semua sehingga dua literasi (data dan teknologi) akan bekerja sesuai dengan hakikat manusia itu sendiri. Lembaga pendidikan jangan menjadi instrument untuk memberikan ruang teknologi secara luas untuk mengontrol manusia. Tapi harus sebaliknya, manusialah yang mengontrol teknologi.

Tiga Strategi Pendidikan Revolusi Industri 4.0

Karena RI 4.0 adalah “binatang” baru dalam dunia pendidikan, maka perlu banyak dikaji dan dianalisis strategi yang paling relevan dalam era ini. Bila mengacu pada dimensi karakteristik RI 4.0 yang dijelaskan di atas, maka paling tidak ada tiga strategi yang harus dilakukan oleh pendidikan Indonesia.

Strategi pendidikan pertama adalah mengubah sistem pendidikan Indonesia. Paling tidak dari dua kelompok pendidikan (integratif dan fully digital), maka akan ada dua perubahan fundamental dalam merekonstruksi pendidikan. Perubahan pertama adalah dengan pendekatan “blended learning” (sistem pembelajaran campuran, atau biasa juga disebut hybrid). Pendekatan kedua adalah menggunakan sistem ODL (online distance learning).

Sistem Blended Learning adalah sistem yang memadukan sistem tradisional pendidikan yang berdemografi secara faktual dengan sistem digital yang virtual. Kedua sistem ini dipadukan dengan merubah ekosistem pendidikan. Pembagianya bisa didiskusikan dengan berbagai pertimbangan, apakah 50% untuk setiap sistem, 70:30, 60:40, atau 80:20. Semua tergantung dari jenis persekolahan dan kemampuan lembaga pendidikan untuk mengadopsi dan mengadaptasi sistem digital.

Sistem ODL adalah sistem yang mencoba untuk meletakan dunia pendidikan sebagai fully online (online penuh). Ekosistem yang dibangun harus betul-betul dipikirkan dari sisi perencanaan, pengorganisasian konten, pelaksanaan pembelajaran (misalnya SPADA; sistem pembelajaran daring Indonesia) dan alat evaluasinya. Menitipkan tujuan pendidikan dengan menggunakan sistem ini harus diujui karena akan menghilangkan “nilai” sistem pendidikan yang terdahulu. Guru akan diganti, konten akan sangat beragam, kontrol pelaksanaan akan memiliki perbedaan yang sangat signifikan. ODL memang sangat bisa dilaksanakan di perguruan tinggi, tapi saya tidak yakin ODL akan baik diterapkan di persekolahan. Perlu ada penelitian dan pengembangan valid untuk meyakininya.

Strategi kedua adalah mempersiapkan profesi di era RI 4.0 di sekolah/madrasah. Kita mengetahui bahwa link and match pendidikan Indonesia dengan industri sangat lemah sejak dahulu. Ketika disruptif pekerjaan di era ini berubah, maka ada kesempatan baru bagi dunia pendidikan untuk segera mengadaptasi pekerjaan era ini. Namun, perlu ada pertimbangan khusus untuk memahami pekerjaan era ini. Paling tidak ada tiga prinsip yang harus dipikirkan.

(1) prinsip kreatifitas dan inovasi. Pekerjaan dalam era ini adalah era inovasi dan kreatifitas. Bila saja lembaga pendidikan hanya mengikuti tren yang ada dan tidak menjadi pelaku utama, maka lembaga pendidikan tidak akan menjadi agent of change dalam kehidupan manusia. Prinsip kreatifitas dan inovasi akan meng-engage peserta didik menjadi produktif yang memproduk jenis kreatifitasnya. Mereka akan menjadi pemain dalam era ini, bukan sebagai konsumen. Industri kreatif akan lahir dalam dunia pendidikan.

(2) prinsip spesifikasi atau kekhasan. Prinsip ini harus ditanamkan oleh pendidikan Indonesia dimana kekhasan pendidikan Indonesia harus dimodifikasi dan didesain secara matang. Berkaca kepada Korea, negara tersukses dalam inovasi, Indonesia harus benar-benar mencari desain yang khas. Korea dengan K-Pop-nya, Drama Koreanya, Inovasi Samsung dan LG-nya dan Percepatan industri Automobil melalu KIA dan Hyundai-nya. Kesemuanya memiliki ciri khas dan dunia menyukainya. Itu semua berawal dari keseriusan pendidikan dalam mendesain masyarakat Korea dalam memahami sumber daya yang ada dalam dirinya.

(3) prinsip ketekunan dan tak pernah menyerah. Pekerjaan di era ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang tinggi. Membuat konten kreatif dalam digital membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas. Uang dalam dunia digital bisa sangat banyak bisa juga nihil. Tidak ada yang pasti dalam dunia ini, sehingga tidak putus asa, terus semangat adalah prinsip yang harus ditanamkan dalam pendidikan kita.

Strategi ketiga merekonstruksi kurikulum dengan pendekatan tiga literasi utama di RI 4.0. Calistung yang menjadi ciri khas era sebelumnya harus sesegera mungkin dikonstruksi ulang agar pendidikan tidak ketinggalan. Ada beberapa sub strategi dalam implmentasi rekonstruksi kurikulum ini.

(1) memahamkan guru tentang paradigma era RI 4.0 ini. Patut kita pahami bahwa kebanyakan guru kita adalah guru zaman Old. Paradigmanya masih menggunakan revolusi industri 3.0 dimana masih menggunakan teknologi sederhana dalam dunia digital. Bahkan sebagian besar guru kita masih tidak melek terhadap komputer. Paling hebat, guru kita adalah guru milenial (yang lahir tahun 2000an, atau generasi Y). Mereka bisa menjadi leading sector dalam menggerakan pendidikan kita, tapi jumlahnya masih sedikit. Juga, banyak sekali mereka belum dibekali kemampuan digitalisasi di kampus mereka menempuh ilmu keguruan.

(2) mulai me-migrasikan konten pendidikan dari yang asalnya tradisional ke digital. Tradisional ini bisa didefinisikan buku cetak, materi parsial tidak holistik, sulit mengsinkronkan materi satu dengan materi lain dan seterusnya. Konten dalam dunia digital akan lebih mudah, sistematis dan tentu saja holistik bila menggunakan ekosistem digital. Penggunaan aplikasi konten materi pelajaran harus mulai dilakukan oleh pengembang aplikasi pendidikan, sehingga guru akan memiliki pilihan aplikasi dalam model pembelajarannya. Ke depan, media pembelajaran lebih banyak dibantu dengan aplikasi teknologi digital daripada media tradisional yang sekarang masih digunakan.

(3) membangun sistem sekolah digital percontohan yang dibangun oleh pemerintah. Sistem Blended Learning yang menjadi solusi alternative dalam dunia pendidikan harus segera dibangun percontohannya sehingga sekolah yang belum melaksanakan akan memiliki contoh konkrit dan legal. Pemerintah harus mengeluarkan dana lebih untuk melakukan research dan development untuk membuat projek adaptasi dari tradisional ke digital. Dengan cara ini juga pemerintah akan segera merubah paradigma sistem persekolahan tradisional ke persekolahan yang digital secara menyeluruh. Tapi, tentu saja pemerintah akan mempertimbangkan kemanfaatan dan kemudharatan sistem ini sehingga pemerintah bisa menentukan jenis dan model seperti apa yang akan diimplementasikan secara luas di Indonesia.