Kebenaran bukan soal jumlah

Kebenaran Bukan Soal Jumlah

✍ Al-Imam Al-Fudhoil bin ‘Iyadh berkata:

إتبع طرق الهدى ولا يضرك قلة السالكين، وإياك وطرق الضلالة ولا تغتر بكثرة الهالكين

“Ikutilah jalan petunjuk (kebenaran), karena tidak akan merugikanmu sedikitnya orang yang berjalan di atasnya, dan hati-hatilah engkau dari jalan kesesatan dan jangan engkau terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom 1/112 – Al-Imam Asy-Syathibi)

Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah, banyak sedikitnya pengikut atau pengajian yang membludak. 

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Muhsin Al-‘Abbad menyampaikan, “Banyaknya pengikut tidaklah menunjukkan selamatnya manhaj dan benarnya aqidah. Manhaj yang selamat dan aqidah yang benar hanyalah dicapai dengan mengikuti Salafnya umat ini dari kalangan Shohabat Nabi dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka.”

Mengikuti Salafussholih, tauhid dan sunnah serta menjauhi syirik dan bid’ah bukan sekedar klaim atau pemanis bibir semata, tetapi juga dibuktikan oleh pengamalan serta kesungguhan di dalamnya.

Al-Ustâdz Fikri Abul Hasan

[Sumber: http://manhajul-haq.blogspot.co.id/2017/07/kebenaran-bukan-soal-jumlah.html?m=1 ]

~

• Facebook : https://facebook.com/madrasahjihad

• Telegram : https://t.me/manhajulhaq

• Blog : manhajul-haq.blogspot.co.id

Manhajul Haq – Jalan Salaf Lebih Selamat

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahIslam 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Selektif mengambil ilmu

🔎 SELEKTIF MENGAMBIL ILMU

🌸 Nasehat Syaikh Shålih Fauzan al-Fauzån hafizhahullåhu 

❗لا تأخذ دينَك من كلِّ أحد، وإياك أن تغتر بالظاهر وتكتفي به دون السؤال والتحري!

Jangan mengambil agamamu dari setiap orang. Jangan mudah tertipu dengan penampilan fisik (zhahir) dan mencukupkan dengannya tanpa mau bertanya dan menyelidiki ❗

• يقول فضيلة الشيخ العلامة صالح الفوزان حفظه الله تعالى:

💬 Syaikh yang mulia, al-‘Allåmah Shålih al-Fauzån, semoga Allåh menjaga beliau, mengatakan :

. «ليست العبرة بالإنتساب أو فيما يظهر!

. >>> بل العبرة بالحقائق وبعواقب الأمور، والأشخاص الذين ينتسبون إلى الدعوة يجب أن يُنظر فيهم:

▫Yang menjadi patokan itu bukanlah sekedar pengakuan (intisåb) atau apa yang ditampakkan! 

▪Namun yang menjadi patokan adalah realitanya dan dampak dari keadaannya. 

👉  Orang yang menyandarkan diri kepada dakwah (salafiyah), wajib diperhatikan padanya :

أين درسوا؟

💢 Di mana belajarnya?! 

ومَن أين أخذوا العلم؟

💢 Dari siapa dia mengambil ilmunya (siapa gurunya)?! 

وأين نشأوا؟

💢 Di mana dia berkembang (tinggal)?! 

وما هي عقيدتهم؟

💢 Apa aqidahnya?! 

وتنظر أعمالهم وآثارهم في الناس وماذا أنتجوا من الخير؟

👀 Kita perhatikan aktivitas mereka dan dampaknya terhadap manusia, apakah menghasilkan kebaikan? 

وماذا ترتب على أعمالهم من الإصلاح؟

❓Apakah aktivitas perbuatannya berpengaruh terhadap perbaikan (ishlåh)? 

يجب أن تُدرس أحوالُهم قبلَ أن يُغترَّ بأقوالِهم ومظاهرِهم.

💢 Wajiblah dipelajari keadaannya sebelum nanti tertipu dengan ucapan dan penampilannya. 

هذا أمر لابد منه خصوصاً في هذا الزمان الذي كَثُرَ فيه دعاة الفتنة؛ وقد وصف الرسول ﷺ دعاة الفتنة بأنهم: (من جلدتنا ويتكلمون بألسنتنا!)».

💢 Hal ini mau tidak mau harus dilakukan, terutama di zaman yang banyak dengan “du’åtul fitnah” (da’i yang mengajak kepada fitnah). Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sendiri mensifatkan du’åtul fitnah bahwa mereka “dari bangsa kita (memiliki kulit yang sama) dan berbicara dengan lisan kita (memiliki bahasa yang sama)!! 

 «الإجابات المهمة» (٤٧-٤٨).

📚 al-Ijåbåt al-Muhimmah hal. 47-48

✍ Al-Ustâdz Abu Salma, Muhammad bin Burhan bin Yusuf ( @abinyasalma ) 

__________________

✉Grup WhatsApp _Al-Wasathiyah Wal I’tidål_

♻Telegram:  https://bit.ly/abusalma 

🌐 Blog : alwasathiyah.com

💠Facebook : http://fb.me/abinyasalma81

🔰Youtube : http://bit.ly/abusalmatube

📷 Instagram : http://instagram.com/abinyasalma/

🌀Mixlr : http://mixlr.com/abusalmamuhammad/

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahIslam 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Kisah teladan

🌷 *kisah Teladan* 🌷

📚 *Balasan Menghafal al Qur’an al Karim* 📖📖📖

🌾 Dr. Sayid Husain Al-Afanie menulis dalam bukunya yang berjudul *AI-Jazaau min Jinsil Amal* (Balasan itu Sesuai dengan Jenis Amalnya) kisah berikut ini, yang beliau sadur dari Syaikh Abdurrahman bin Aqil Adz-Dzahiri, dari Syaikh Mahfudh Asy Syanqathi (–Direktur Utama Majma’ Raja Fahd untuk Pengadaan Al-Qur’an–) dari Syaikh para qari’ di Majma’ tersebut, yakni Syaikh Amir Sayyid Utsman Rahimahullah. 
🌾 Syaikh Amir pada akhir usia yang ke-70 tahun,  syaraf bicaranya  terganggu sehingga tidak bisa bersuara.
🌾 Ketika itu, beliau mengajar murid-murid yang belajar qira’ah, tetapi secara tiba-tiba tidak mampu bersuara, hanya terdengar desahan saja. 
🌾Kemudian, beliau sakit kerasdan selama itu beliau terbaring di rumah sakit.
🌾 Suatu ketika para perawat dan pasien rumah sakit dikagetkan dengan seorang pasien lelaki yang syaraf bicaranya putus, tetapi ia masih sanggup duduk, bahkan melantunkan firman- firman Allah Ta’ala dengan suara jelas lagi merdu;  mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an dari ‘ayat Al-Fatihah hingga An- Naas selama 3 hari. Setelah itu, beliau meninggal dunia.
Subhanallah..
🍃 Bukankah balasan suatu kebaikan itu berupa kebaikan pula?!
*Sumber: Dikutip dari buku “Bila Amal di Bayar Kontan’, Sayyid Abdullah Sayyid Abdurrahman ar-Rifai, Penerbit Darul Falah*
🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷
🌎 KisahIslam.net
⏩ repost by grup wa

🏝sharing seputar islam🍒

Tahukah keberkahan ilmu agama

🍋💫 *KEBERKAHAN ILMU AGAMA* 💫🍋
Keberkahan ilmu agama yang tiada duanya…
===
Syeikh Abdurrahman Assi’di -rohimahulloh-:
“Kebaikan apakah yg lebih agung daripada kebaikan ilmu (agama)?! 
Semua kebaikan akan terhenti kecuali kebaikan ilmu (agama), nasehat, dan arahan.
Setiap masalah ilmu yg diambil faedahnya dari seseorang, baik satu masalah atau lebih, sehingga orang yg mempelajarinya atau orang lain mendapat manfaat darinya; sesungguhnya itu adalah kebaikan-kebaikan yang pahalanya akan terus mengalir kepada pemilik faedah ilmu tersebut. 
Ada seorang sahabat yang mengabarkan kepadaku, dia berfatwa pada suatu permasalah faraidh (ilmu waris) di saat syeikhnya sudah meninggal, lalu dia bermimpi melihat syeiknya mengatakan di dalam kuburnya: ‘Permasalahan ini yang kamu telah berfatwa tentangnya, pahalanya telah sampai kepadaku’.
Dan ini adalah perkara yang sudah maklum dalam syariat : 
(sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits) : 
‘Barangsiapa memberikan contoh kebaikan, maka baginya pahala dari amalannya dan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat’.
Jika amal-amal yang lain akan terhenti oleh kematian, maka para ulama kebaikannya akan semakin bertambah setiap kali arahannya dimanfaatkan”.
[Alfatawa Assi’diyyah, hal: 73]
——-
MasyaAllah… betapa besarnya pahala para ulama… para penyebar ilmu agama.. dan orang-orang yang ngeshare status-status kebaikan sehingga diambil manfaatnya oleh orang lain.. 
Semoga kita semua mendapatkan pahala yang agung ini, Aamiin.
☕ Silahkan disebarkan, mudah2an anda mendapatkan bagian dari pahalanya ☕

 Barakallah fikum.                                           

✒ ?Ditulis oleh Ust. Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى
*** 
⏩ Republishing by grup wa 

🏝sharing seputar islam🍒

Apakah sutroh cukup dengan sajadah

◾ *Apakah Sutroh Cukup dengan Garis Sajadah ?* ◾

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

اذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

(1). “Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah (pembatas) terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba melewati antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. Jika ia enggan dicegah, maka perangilah (dihalau dengan sekuat tenaga), karena sesungguhnya ia adalah syaitan” (HR. Bukhari no.509, hadits dari Abu Sa’id al-Khudri)

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

(2). Janganlah kalian sholat, kecuali sholat menghadap kearah sutrah, jangan biarkan seorangpun lewat dihadapan kalian jika dia menolak maka perangilah (tahanlah dengan kuat) dia, karena sesungguhnya dia bersama Qorinnya” (HR. Ibnu Khuzaimah no 800, hadits dari Ibnu Umar)

إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

(3). Jika salah seorang dari kalian sholat maka, sholatlah dengan menghadap kepada sutrah (pembatas) dan mendekatlah  kepadanya” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, hadits dari Abu Sa’id al-Khudri)

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

(4). “Seandainya orang yang lewat dihadapan orang yang sedang sholat mengetahui apa yang akan didapatnya dari dosa, maka lebih baik bagi dia untuk berdiri 40 (dalam suatu riwayat : 40 tahun) daripada lewat dihadapan orang yang sedang sholat” (Muttafaqun ‘alaihi, hadits dari Abu Juhaim Abdillah bin al-Harits)

Di dalam banyak hadits shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersutroh setinggi pelana unta, di belakang tiang, menancapkan tongkat di depannya, melintangkan hewan tunggangan di hadapannya, menghadap pohon dan menghadap tempat tidur.

❓ Lalu bagaimana bersutroh dengan garis sajadah ?

Yang membolehkan bersutroh dengan garis sajadah berdasarkan hadits di bawah ini 👇 

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَل تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لاَ يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ

“Jika salah seorang diantara kalian shalat, maka letakkanlah sesuatu berada di hadapannya. Jika ia tidak mendapatkan sesuatu maka hendaklah ia menancapkan tongkat. Jika ia tidak mendapatkan tongkat maka buatlah garis. Setelah itu apa saja yang lewat di depannya tidak akan merusak sholatnya (HR. Ahmad 7392 dan Ibnu Majah 943, hadits dari Abu Hurairah).

Hadits ini dari jalan Isma’il bin Umayyah, dari Abu Amr bin Muhammad bin Amr bin Huraits, dari kakeknya, Huraits bin Sulaim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Abu ‘Amr bin Muhammad dan juga kakeknya Huraits bin Sulaim berstatus majhul. Sehingga sanad ini sangat lemah (Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah oleh Imam al Albani XII/674-679). 

Juga dianggap dhoif oleh Imam asy-Syafi’i, Sufyan bin Uyainah, an-Nawawi dalam al-Khulashoh 1/520, al-Baghowi, Imam Ahmad Syakir dalam takhrij Musnad Ahmad XIII/124, Imam al-Albani dalam Dho’iiful Jaami’ no.569 dll.

(1). Karena hadits di atas dho’if, maka tidak bisa dijadikan hujjah untuk sutroh berupa garis.

(2). Jika kita perhatikan perkataan dan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits-hadits shahih, ternyata beliau tidak pernah menggunakan garis sebagai sutroh.

(3). Jika hadits tersebut dianggap shahih, maka bukankah pada hadits di atas tentang bolehnya menggunakan sutroh berupa garis merupakan pilihan ke 3 (yaitu jika 2 pilihan pertama tidak dapat dilaksanakan), sedangkan kaum muslimin saat ini tidak berusaha untuk beramal sesuai dengan cara yang pertama dan kedua di atas.

✍ Al-Ustâdz Najmi Umar Bakkar

[Penulis Buku : 

• 100 Kiat bagi Orang Tua agar Anak -Insya Allah- jadi Shalih dan Shalihah, Penerbit Perisai Qur’an

• 50 Sebab Do’a Tidak Terkabul, Penerbit Perisai Qur’an

• 50 Kiat agar Cinta Suami kepada Istri Semakin Dahsyat, Penerbit Cahaya As-Sunnah] 

Cahaya Sunnah

↪ Join : https://t.me/najmiumar

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.