Tahukah hikmah i’tikaf

Hikmah I’tikaf

Al-Alamah Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata : “Kebaikan hati dan kelurusan seseorang dalam menempuh jalan Allah tergantung pada totalitasnya beribadah kepada Allah dan kebulatannya secara total hanya tertuju kepada-Nya. Kekusutan hati tidak bisa dibenahi, kecuali setiap langkah ditujukan kepada Allah.

Berlebihan dalam hal makanan, minuman, perbauran dengan umat manusia, banyak berbicara dan tidur, semua itu hanya akan menambah kekusutan hati. Hal tersebut akan terserak di setiap tempat, memutusnya dari jalan menuju Allah, melemahkan, meringtangi, atau menghentikannya dari hubungan kepada Allah.

Adanya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang kepada para hamba-Nya menuntut disyariatkannya puasa bagi mereka. Dengannya diharapkan dapat menyingkirkan ketamakan pada makanan dan minuman serta mengosongkan hati dari gejolak hawa nafsu yang menjadi perintang bagi perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dia mensyariatkan puasa sesuai dengan kemaslahatan. Dia akan memberi manfaat kepada hamba-Nya di dunia dan di akhirat, tidak mencelakakannya, dan tidak memutuskan dirinya dari kepentingan duniawi dan ukhrawinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mensyariatkan i’tikaf bagi mereka agar ruh dan hatinya berkonsentrasi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, serta ketulusannya hanya untuk-Nya, berkhalwat (menyendiri) dengan-Nya, dan memutuskan diri dari kesibukan duniawi dan hanya menyibukkan dengan Allah. Dia menjadikan seluruh perhatiannya untuk dzikir, cinta, dan perhatiannya kepada-Nya. Selanjutnya, keinginan dan detak jantungnya hanya tertuju pada dzikir kepada-Nya, bertafakkur untuk mendapatkan keridhaan-Nya, serta mengerjakan apa yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya sehingga keakrabannya hanya kepada Allah, sebagai ganti keakrabannya terhadap manusia. Sesungguhnya jauhnya posisi dari semua perangkat tersebut akan menjadikannya akrab dengan-Nya pada hari yang penuh kelengangan di dalam kubur; pada saat dia tidak mempunyai teman akrab. Tidak ada sesuatu yang dapat menyenangkannya, selain Dia. Itulah maksud dari i’tikaf yang agung.” [1]

_

[1] Zâdul Ma’âd (II/86-87).


🖊 Asy-Syaikh Abu Al-Harits – ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabi & 

🖊 Asy-Syaikh Abu Usamah – Salim bin ‘Ied Al-Hilali

📚 Judul Asli : Shifatu Shaumin Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam fii Ramadhan – Ahkaamul ‘Iidain fis Sunnatil Muthahharah; Penerbit/Tahun : Al-Maktabah Al-Islamiyyah, Yordania. Cet. IV, Th. 1412 H – 1992 M | Daar Ibnu Hazm, Libanon. Cet. II, Th. 1414 H – 1993 M; Judul Terjemahan : Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Berpuasa & Berhari Raya; Penerjemah : M. Abdul Ghofar E.M.; Editor : Taufik Saleh AlKatsiri, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Arman Amry, Lc; Murajaah Akhir : Tim Pustaka Imam Asy-Syafi’i; Cetakan Keempat : Rajab 1435 H/Mei 2014 M; Penerbit : Pustaka Imam Asy-Syafi’i; Kedua Puluh : I’tikaf; A. Hikmah I’tikaf; Hal. : 126-127

🌐 pustakaimamsyafii.com | Penerbit Penebar Sunnah

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📂 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahRamadhan 

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan Allâh membalas anda dengan kebaikan karena telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s