Indahnya memperbaiki tauhid

by _Ari Wahyudi_
*Memperbaiki tauhid pada diri kita itu sangatlah penting*. Syaikh Abdul Malik

Ramadhani hafizhahullah berkata, “ _Sesungguhnya memperbaiki tauhid bagi agama seseorang seperti kedudukan perbaikan jantung bagi badan_ .” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar , hal. 16)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ _Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging_.

_Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh Dan apabila ia rusak/sakit maka sakitlah seluruh tubuh_. _Ketahuilah_ ,

_segumpal daging itu adalah jantung_.” (HR. Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu )

Oleh sebab itu mendakwahkan tauhid merupakan program yang sangat mulia.
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “ *Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia*. 

*Sebab dakwah kepada tauhid*

*merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi*.” (Sittu Durar

min Ushul Ahli al-Atsar , hal. 16)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ _Iman terdiri dari tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang_.

_Yang paling utama adalah *laa ilaaha illallaah*, sedangkan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan_.” (HR.Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anh)
Jati diri seorang muslim sangat ditentukan oleh sejauh mana kualitas tauhidnya. Karena tauhid dalam jiwanya laksana pondasi bagi sebuah bangunan.

Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “ _Tauhid ini memiliki kedudukan penting laksana pondasi bagi suatu bangunan_.” (Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 13)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

” _Manakah yang lebih baik ,orang yang menegakkan_ _bangunannya di atas pondasi ketakwaan_ _kepada Allah dan_

_keridhaan-Nya, ataukah orang yang menegakkan _bangunannya di atas tepi jurang yang akan runtuh dan ia pun_

_akan runtuh bersamanya ke dalam neraka Jahannam_ .” (QS. at-Taubah: 109 )
Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafizhahullah berkata, “Hal itu dikarenakan ayat ini turun berkenaan dengan kaum munafikin yang membangun masjid untuk sholat padanya. Akan tetapi tatkala mereka tidak membarengi amalan yang agung dan utama ini _yaitu membangun masjid_ dengan keikhlasan yang tertanam didalam hatinya, maka amalan itu sama sekali tidak memberikan manfaat bagi mereka. Bahkan, justru amalan itu yang akan menjerumuskan mereka jatuh ke dalam Jahannam, sebagaimana ditegaskan di dalam ayat tersebut.” (Sittu

Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 13)
*Tauhid ibarat sebatang pohon. Cabang- cabangnya adalah amalan. Adapun buahnya adalah kebahagiaan hidup di dunia dan kenikmatan tiada tara diakhirat*. Demikian pula syirik, dusta dan riya’ seperti sebatang pohon, yang buah- buahnya di dunia adalah cekaman rasa takut, kekhawatiran, sempit dada, dan gelapnya hati. 
Dan di akhirat nanti pohon yang jelek itu akan membuahkan siksaan dan penyesalan (lihat Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar, hal. 14)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “ _Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah memberikan perumpamaan suatu kalimat yang baik seperti pohon yang indah, pokoknya tertanam kuat di dalam tanah sedangkan cabangnya menjulang ke langit_.” (QS. Ibrahim: 24). Yang dimaksud ‘kalimat yang baik’ di dalam ayat ini adalah syahadat *laa ilaaha illallaah* (lihat Taisir al-Karim ar- Rahman, hal. 425)
Saudara-saudaraku, sangat banyak ayat maupun hadits yang menerangkan tentang keutamaan memperbaiki dan

mendakwahkan tauhid ini. Tidak sanggup rasanya lisan dan tangan ini untuk menggambarkan betapa agungnya dakwah tauhid ini. Bagaimana tidak?
Sementara inilah hak AllahRabb

penguasa alam semesta dan intisari dakwah para Rasul ‘alaihimush sholatu was salam!
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “ _Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya_.

_Ketahuilah, agama yang murni adalah milik Allah_.” (QS. az-Zumar: 2-3 )
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“ _Katakanlah, Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku, semuanya untuk Allah Rabb seru sekalian alam Tiada sekutu bagi-Nya dengan itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah orang yang pertama-tama pasrah_ ” (QS.

al-An’aam: 162-163 )
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“ _Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya.Tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja_.” (QS. al-Anbiyaa’: 25 )
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“ _Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman_.” (QS. al-Ma’idah: 23)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“ _Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Allah pun membuat mereka lupa akan diri mereka sendiri_ .” (QS. al-Hasyr:19)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“ _Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tentram dengan mengingat Allah_. _Ketahuilah dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi_

_tentram_.” (QS. ar-Ra’d: 28 )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ _Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku adalah orang yang mengucapkan *laa ilaaha illallaah* dengan ikhlas dari dalam hatinya_.” (HR. Bukhari

dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu )
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “_Barangsiapa yang ucapan

terakhirnya adalah *laa ilaha illallaah* niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu )
Syaikh Abdul Malik Ramadhani

hafizhahullah berkata, “Berdasarkan hal ini, maka sesungguhnya seluruh seruan

yang ditegakkan dengan klaim ishlah/perbaikan sedangkan ia tidak memiliki pusat perhatian dalam masalah tauhid,

tidak pula berangkat dari sana, niscaya dakwah semacam itu akan tertimpa penyimpangan sebanding dengan jauhnya

mereka dari pokok yang agung ini.
Seperti halnya orang-orang yang menghabiskan umur mereka dalam upaya

memperbaiki hubungan antara sesama makhluk semata, akan tetapi hubungan mereka terhadap al-Khaliq yaitu aqidah

mereka sangat menyelisihi petunjuk salafus shalih.” 

(Sittu Durar min Ushul Ahli al-Atsar , hal. 17)
Maka tidaklah berlebihan jika kita katakan, “ *Di mana pun bumi dipijak_, _maka di situlah dakwah tauhid harus ditegakkan!* ” 
Kebahagiaan seperti apakah yang anda idamkan, kejayaan macam apakah yang anda impikan, apabila semangat dakwah tauhid sama sekali tidak bergejolak di dalam hati anda?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s