Haruskah pembantu berhijab dihadapan majikannya

Oleh : 

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan : 
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : 

Haruskah wanita yang bekerja sebagai pembantu di rumah berhijab dari majikan laki-lakinya?
Jawaban : 
Benar, ia diwajibkan berhijab dari majikannya dan tidak boleh menampakkan perhiasan di hadapannya, dan diharamkan bagi mereka berduaan berdasarkan keumuman dalil yang melarang ‘khalwat’. Melepas hijab di hadapan majikannya bisa menimbulkan fitnah, demikian pula berduaan dengannya, merupakan sebab-sebab setan menjadikan fitnah tampak seperti indah. Hanya kepada Allah kita minta pertolongan.
[Fatawa Mar’ah. 2/81]

HUKUM BERDIAM DI RUMAH YANG ADA PEMBANTUNYA, TANPA KHALWAT

Oleh : 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan : 
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : 

Apa hukum berdiam di rumah bersama pembantu laki-laki tapi tanpa ber-khlawat?
Jawaban : 
Permasalahan pembantu sekarang telah menjadi masalah sosial yang membahayakan. Berapa banyak kita mendengar peristiwa yang menakutkan yang berhubungan dengan masalah pengadaan tenaga kerja baik laki-laki maupun perempuan. 

Telah jelas sekali bahayanya yang besar dalam masyarakat selain juga tidak ada kebutuhan mendesak untuk itu dan hanya menampakkan tingkat kehidupan yang sejahatera. 

Didalamnya terdapat sebab-sebab timbulnya fitnah yang menjadikannya harus dilarang.
Pertama.

Tidak sepantasnya bagi orang yang berakal untuk mempekerjakan pembantu di rumahnya, kecuali dalam keadaan sangat mendesak sekali, tidak sekedar karena kebutuhan biasa dan untuk menampakkan tingkat kesejahteraan hidupnya. 

Karena ini merupakan bahaya bagi agama, kebodohan pada akal dan membuang-buang uang.
Kedua.

Pembantu yang bekerja haruslah taat pada agama dengan mengenakan hijab secara sempurna di hadapan laki-laki yang ada di rumah tersebut. Tidak diperbolehkan baginya untuk membuka wajah dan perhiasan di hadapan mereka.
Ketiga.

Kedatangan mereka harus disertai oleh mahramnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk bepergian kecuali bersama mahramnya”
Ada sebagian orang yang mempekerjakan pembantunya karena ikut-ikutan saja, yang akhirnya hanya membawa bencana yang besar bagi mereka. 

Di antaranya, wanita meninggalkan kewajiban mengurus anak dan diserahkan kepada pembantunya, sehingga anak tidak mendapatkan kasih sayang dan didikan ibunya.
Adapun pertanyaan yang ditanyakan, jawabannya adalah selama pembantu tersebut mengenakan hijab secara sempurna, maka diperbolehkan baginya untuk berdiam di rumah selama tidak berduaan dan tidak membuka apa yang seharusnya ditutupi. 

[Durus wa Fatawal Haramil Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/347]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Edisi Indonesiap Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq]

Shared from Almanhaj.or.id for android http://bit.ly/Almanhaj

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s