Apakah mayat disiksa karena tangisan keluarganya

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Terkadang kita tidak bisa memahami dan bisa salah memahami jika hanya meninjau satu dua hadits saja. Terkadang kita juga bisa salah sangka dengan maksud sabda Rasulullah s.a.w. karena sesungguhnya kita tidak tahu konteks peristiwa yang melatarbelakangi mengapa Rasulullah s.a.w. bersabda demikian itu. Maka jalan terbaik adalah merujuk pada penjelasan dan tafsir sahabat yang hadir dan mengetahu pangkal masalahnya.
Seperti halnya kita jumpai banyak hadits yang menyatakan bahwa mayat disiksa atau diadzab karena tangisan keluarga yang ditinggalkannya. Secara zhahir atau tekstual kita akan langsung menangkap bahwa mayat tersebut disiksa di alam kuburnya karena tangisan kita.
Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Khalil telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dia adalah dari suku Asy-Syaibaniy dari Abu Burdah dari bapaknya berkata; Ketika ‘Umar r.a. terbunuh Shuhaib berkata, sambil menangis: “Wahai saudaraku”. Maka ‘Umar r.a.h. berkata,: Bukankah kamu mengetahui bahwa Nabi s.a.w. telah bersabda “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan orang yang masih hidup“. (H.R. Bukhari No. 1208)
“Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “mayat itu diadzab karena ratapan keluarganya”. (H.R. Muslim)
Secara zahir dan sepintas lalu, bunyi hadits di atas mengesankan bahwa mayit akan disiksa akibat keluarga atau kerabat nya yang menangisi kematiannya. Namun pertanyaannya apa salah si mayit? Apakah si mayit itu ketika hidupnya dulu menyuruh kerabatnya agar menangisinya jika kelak ia sudah meninggal? Bagaimana ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang tidak ia laukan? Bukankah seseorang tidak memikul dosa orang lain? Mengapa orang disiksa akibat kesalahan yang dilakukan orang lain?
Orang tidak menanggung dosa orang lain yang berdosa (Q.S. Al-An’am [6] : 164)
Sebagian ulama menjelaskan bahwa salahnya si mayit adalah karena ia meminta keluarganya untuk menangisinya seperti dijelaskan pada wanita yahudi ini :
Telah menceritakan kepada kami Ishaq, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Malik, dari Abdullah bin Abi Bakar, dari ayahnya, dari Amroh bahwasanya dia telah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Aisyah dan diceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berkata; “Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan orang yang masih hidup.” Maka Aisyah berkata; “Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Sesungguhnya dia tidak berdusta hanya saja kemungkinan dia lupa atau salah, bahwasanya Rasulullah s.a.w. pernah melewati seorang wanita yahudi yang minta ditangisi, maka Rasulullah bersabda: “Mereka menangisinya, padahal dia (wanita yahudi) betul-betul tengah di siksa dikuburnya.” (H.R. Ahmad No. 23614)
Wanita yahudi itu dikatakan inta ditangisi maka ia disiksa karena nya
Ada ulama lain yang menjelaskan bahwa di masa hidupnya sang mayit tidak berpesan atau berwasiat kepada keluarganya agar jangan menangisinya. Si mayit disiksa karena ia tidak mengajarkan aqidah kepada keluarganya. Salah satu yang menjelaskan seperti ini adalah Syaikh Nashiruddin Al-Albani.
Sedangkan Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa maksud “disiksa” di sini bukanlah adzab kubur atau adzab akhirat melainkan sang mayit menjadi tersiksa atau bertambah sedih mengetahui keluarga yang ditinggalkannya menangisi atau meratapi kematiannya.
Senada dengan itu Ibnul Qoyyim Al-Jauzi menjelaskan bahwa maksud disiksa di sini bukanlah disiksa sebagaimana jika ia berbuat salah. Melainkan si mayit merasa susah dan tersiksa karena sedih mengetahui keluarganya meratapinya atau tidak mengikhlashkan kepergiannya. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah s.a.w yang bermakna : “Perjalanan jauh adalah sebagian dari siksaan” Orang yang bepergian tidak benar-benar disiksa melainkan ia tersiksa memendam rindu karena jauh dari keluarga (Ar Ruh li Ibnil Qoyyim hal. 166)
Apa yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim ini berdasarkan penjelasan Aisyah r.a. ketika ditanya oleh Ibnu Abbas r.a. mengenai hadits “mayat disiksa karena tangis” ini.
Ibnu Abbas r.a. (generasi sahabat) berkata, ‘Pada waktu Umar sudah wafat, aku menyebutkan hal itu kepada Aisyah r.a., lalu ia berkata:  ‘Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Umar. Demi Allah, Rasulullah tidak mensabdakan bahwa Allah menyiksa orang-orang mukmin karena ditangisi keluarganya. Akan tetapi, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya orang kafir itu semakin bertambah siksanya karena ditangisi keluarganya.’ Cukup bagimu Al-Qur’an (surah al-Fathiir ayat 18) yang mengatakan, ‘Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.’”(Atsar Riwayat Bukhari)
Lalu bagaimana jika ia sudah berpesan dan sudah mengajari keluarga agar jangan menangisinya namun keluarganya tetap menangisinya? Bagaimana jika ia telah mengajari keluarganya dengan agama yang benar, namun tetap saja keluarganya meratapinya, apakah ia tetap disiksa?? Tentu saja penjelasan seperti ini kurang memuaskan.
Rasulullah Menjelaskan Bahwa Mayat Tidak Disiksa Karena Air Mata
Penjelasan mengenai maksud hadits di atas bahwa mayat disiksa karena tangis keluarganya maksudnya bukanlah karena tangisannya itu sendiri melainkan karena lisan yang mengumpat, meratap, dan mengucapkan perkataan kekufuran yang mengingkari takdir atau mempertanyakan keadilan Allah akibat ditinggal oleh orang yang dicintainya :
Selanjutnya di :
https://seteteshidayah.wordpress.com/2013/05/11/apakah-mayat-disiksa-karena-tangisan-keluarganyaoleh-abu/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s