Hukum sholat hari raya

sholat di tanah lapangبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sholat hari raya disyari’atkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’. Allah ta’ala berfirman,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka sholatlah hanya untuk Rabb-mu dan berqurbanlah hanya untuk-Nya.” [Al-Kautsar: 2]
Sebagian ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa maksud sholat dalam ayat ini adalah sholat ‘Ied.[1]
Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا
“Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sholat Idul Fitri dua raka’at, beliau tidak sholat apa pun sebelumnya dan setelahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Ulama sepakat bahwa sholat ‘Ied disyari’atkan, akan tetapi ulama berbeda pendapat tentang hukumnya.
● Pendapat Pertama: Sunnah, ini adalah pendapat Al-Imam Malik dan kebanyakan ulama Syafi’iyyah.
● Pendapat Kedua: Fardhu kifayah, ini adalah pendapat Al-Imam Ahmad.
● Pendapat Ketiga: Fardhu ‘Ain, ini adalah pendapat Abu Hanifah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.
Pendapat yang kuat insya Allah adalah fardhu ‘ain. Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim, Asy-Syaikh As-Sa’di, Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumullah.[2]
Karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sholat ‘Ied dan beliau memerintahkan untuk melakukannya, hingga para wanita pun diperintahkan hadir, sebagaimana hadits Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,
أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، الْعَوَاتِقَ، وَالْحُيَّضَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ، وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengeluarkan para wanita di hari Idul Fitri dan Idul Adha, yaitu wanita-wanita yang masih perawan, yang haid dan yang dipingit. Adapun wanita haid hendaklah menjauhi tempat sholat dan hendaklah tetap menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Aku berkata: Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab. Beliau bersabda: Hendaklah saudaranya memakaikan jilbab kepadanya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
———————-
[1] Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 619.
[2] Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 620.

sofyanruray.info | Home Page Pribadi Al-Ustâdz Abu Abdillah, Sofyan Chalid bin Idham

Dikutip, selengkapnya di:

Ringkasan Pembahasan Sholat Hari Raya

♻ Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📁 Grup WA & TG : Dakwah Islam

🌐 TG Channel : @DakwahFiqih
Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s