Tahukah hukum asal obat (makanan) halal

telo godog“Mana dalilnya obat ini halal?”
Mungkin ini pertanyaan yang muncul dari sebagian orang yang bertanya kehalalan suatu obat.

Pola pikirnya adalah, bertanya dalil halalnya dahulu, jika tidak ada, maka otomatis menjadi haram.
Yang benar adalah hukum asal obat (makanan) adalah halal sampai jelas ada dalilnya haram, baik kandungannya atau prosesnya. 

Jika hanya dugaan saja atau masih ragu-ragu halal atau haram, maka kembali ke hukum asal yaitu halal

karena ini sesuai dengan kaidah fikh.
اليقين لا يزول بشك
“Yakin itu tidak bisa hilang dengan keraguan”
Jika ragu-ragu boleh ia tinggalkan obat itu dan tidak menggunakannya, tapi jangan mengecapnya haram dan menyebarkan info bahwa obat itu haram.

Karena untuk bilang haram obat (makanan) butuh dalil. Jika tidak ada dalilnya maka kembali ke hukum asalnya yaitu halal
Hukum asal makanan (obat) adalah halal sampai ada dalil atau pentunjuk jelas yang mengharamkannya.
اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ
“Hukum asal dari sesuatu (muamalah/keduniaan) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya“

لاَ تُشْرَعُ عِبَا دَةٌ إِلاَّ بِشَرْعِ اللهِ , وَلاَ تُحَرَّمُ عاَ دَةٌ إِلاَّ بِتَحْرِيْمِ اللهِ
“Tidak boleh dilakukan suatu ibadah kecuali yang disyari’atkan oleh Allah, dan tidak dilarang suatu adat (muamalah) kecuali yang diharamkan oleh Allah“
Misalnya ada makanan atau minuman yang belum kita ketahui, kemudian kita bertanya-tanya apakah makanan ini haram atau tidak? Maka yang perlu kita tanyakan adalah mana dalil dan bukti bahwa makanan atau minuman ini haram.

Kita tidak bertanya, mana dalil atau bukti yang menyebabkan makanan ini menjadi halal dengan berkata :
“Mana dalil halalnya makanan dan obat ini?”.
Begitu juga dalam hal duniawi lain, bepergian misalnya.

Ketika hendak berpergian, hukum asalnya kita boleh saja pergi ke mana saja sampai ada dalil yang mengharamkan kita dilarang pergi ke sana. Bepergian yang terlarang misalnya pergi dan bertanya ke dukun dan paranormal untuk masalah ghaib, masa depan dan peruntungan.

Dalil kaidah ini adalah bahwa dunia dan seisinya ini diperuntukkan untuk manusia dan manusia boleh memanfaatkannya. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al Baqarah: 29)
Jadi obat tersebut hukumnya halal sampai jelas ada kandungan yang haram yang tidak boleh dikonsumsi.

Bukan sekedar memperkirakan saja atau sekedar alasan obat tersebut berasal dari negara kafir.

Karena Rasulullah dahulu juga bermuamalah dan menerima makanan dari orang kafir sebagaimana riwayat beliau menerima hadiah daging dari wanita Yahudi.
Karena kaidah menyebutkan bahwa keragu-raguan tidak bisa menghilangkan keyakinan.

Yakin hukum asalnya halal, kemudian ragu-ragu atau sekedar memperkirakan ada kandungan haram, maka tidak membuat makanan (obat) tersebut menjadi haram.
Demikian semoga bermanfaat
@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta
Penyusun :

dr. Raehanul Bahraen
Artikel http://www.muslimafiyah.com
silahkan like fanspage FB , subscribe facebook dan   follow twitter

Shared from Muslim Afiyah for android http://bit.ly/MuslimAfiyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s