Larangan suudhan, tajassus, 

bapakAhad, 01 Mei 2016/23 Rajab 1437

Brosur No.

Firman Allah SWT :

~

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim. (11)

Hai orang-orang yang beriman, jauhkanlah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (12) [QS. Al-Hujuraat : 11-12]

~

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya. [QS. Al-Qalam : 10-13]

~

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. [QS. An-Nisaa’ :112]

~

Hadits Nabi SAW :

~

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jauhkanlah diri kalian dari berprasangka (buruk), karena prasangka (buruk) itu adalah sedusta-dusta perkataan (hati), janganlah kalian mendengar-dengarkan (pembicaraan orang lain) dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kalian bersaing yang tidak sehat, janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling membenci dan janganlah saling membelakangi. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1985]

~

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (kepada para shahabatnya), “Tahukah kalian apakah ghibah itu ?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda, “(Ghibah) ialah kamu menyebut tentang saudaramu dengan apa-apa yang dia tidak suka”. Ada yang bertanya kepada beliau, “Bagaimana pendapat engkau jika keadaan saudaraku itu memang betul-betul seperti apa yang aku katakan ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Jika keadaan saudaramu itu betul seperti apa yang kamu katakan, maka sungguh kamu telah berbuat ghibah kepadanya. Dan jika (apa yang kamu katakan itu) tidak ada padanya, maka berarti kamu telah berbuat buhtan (kebohongan) kepadanya”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2001]

~

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Saya pernah berkata kepada Nabi SAW, “Cukup bagimu dari Shafiyah begini dan begitu”. Sebagian orang-orang yang meriwayatkan mengatakan : Yang dimaksud ‘Aisyah ialah, “Ia wanita yang pendek”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh kamu telah mengatakan suatu kalimat seandainya dicampur dengan air laut sungguh air laut itu menjadi keruh”. Dan ‘Aisyah pernah berkata, “Saya pernah menceritakan tentang seseorang kepada beliau, maka beliau bersabda, “Aku tidak suka menceritakan (keburukan) seseorang meskipun akan mendapatkan upah sekian dan sekian”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 269, no. 4875]

~

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Sesungguhnya untanya Shafiyah binti Huyaiyyin sedang sakit, sedang Zainab mempunyai kelebihan kendaraan. Maka Rasulullah SAW bersabda kepada Zainab, “Berikanlah onta kepadanya !”. Lalu (Zainab) menjawab, “Saya disuruh memberi kepada wanita Yahudi itu ?”. Kemudian Nabi SAW marah dan meninggalkan Zainab pada bulan Dzulhijjah, Muharram dan sebagian bulan Shafar. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 199, no. 4602]

~

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Dahulu ketika kami di sisi Nabi SAW, ada seorang laki-laki berdiri. Lalu ada orang yang berkata, “Ya Rasulullah, alangkah loyonya si fulan itu !”. Atau ia berkata, “Alangkah lemahnya orang itu”. Maka Nabi SAW bersabda, “Kalian telah berbuat ghibah kepada teman kalian dan kalian telah makan dagingnya”. [HR. Abu Ya’la juz 5, hal. 362, no. 6125, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Muhammad bin Abi Humaid]

~

Dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki berdiri di sisi Rasulullah SAW, lalu orang-orang melihat ketika dia berdiri dalam keadan loyo. Mereka berkata, “Alangkah loyonya si fulan itu”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Kalian telah makan (daging) saudara kalian, dan kalian telah berbuat ghibah kepadanya”. [HR. Thabaraniy di dalam Al-Mu’jamul Ausath juz 1, hal. 283, no.461, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Hammaad (Muhammad) bin Abi Humaid]

~

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah datang seorang laki-laki (dari suku) Aslam kepada Rasulullah SAW lalu dia bersaksi atas dirinya sendiri empat kali (bahwa dia berbuat zina). Ia berkata, “Saya mendatangi wanita secara haram”. Pada yang demikian itu Rasulullah SAW berpaling darinya. Sehingga dia bersaksi yang ke lima kali, lalu Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kamu sampai menyetubuhinya ?”. Ia menjawab, “Ya”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apakah sampai masuk ke dalamnya sebagaimana celak masuk ke dalam wadahnya atau tali timba masuk ke dalam sumur ?”. Orang tersebut menjawab, “Ya”. Rasulullah SAW bertanya lagi, “Apakah kamu tahu apakah zina itu ?”. Orang tersebut menjawab, “Ya saya tahu, yaitu saya mendatangi wanita secara haram sebagaimana seorang laki-laki mendatangi istrinya secara halal”. Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang kamu inginkan dengan perkataan ini ?”. Orang itu menjawab, “Saya menginginkan supaya engkau membersihkan diriku”. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan supaya ia dirajam. Lalu orang tersebut dirajam. Kemudian Rasulullah SAW mendengar ada dua orang laki-laki dari shahabat beliau, salah satunya berkata kepada temannya, “Lihatlah kepada orang ini yang Allah telah menutupinya, tetapi dirinya tidak membiarkan, sehingga dia dirajam seperti anjing yang dilempari batu”. (Abu Hurairah) berkata : Ketika itu Rasulullah SAW diam saja. Kemudian beliau berjalan (bersama para shahabat), lalu melewati bangkai himar di dekat kaki beliau. Maka beliau bersabda, “Mana si fulan dan si fulan tadi ?”. Mereka menjawab, “Ini kami ya Rasulullah”. Beliau bersabda kepada kedua orang itu, “Makanlah bangkai himar ini !”. Mereka berdua menjawab, “Ya Rasulullah, semoga Allah mengampuni engkau. Siapa yang mau memakan bangkai himar ini ?”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Apa-apa yang kalian dapat dari (menjelek-jelekkan) kehormatan orang laki-laki tadi adalah lebih buruk dari makan bangkai himar ini. Dan demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya (orang laki-laki yang telah dirajam itu) sekarang sedang (berendam) di sungai surga”. [HR. Ibnu Hibban di dalam shahihnya, juz 10, hal. 244, no. 4399, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abdur Rahman bin Ash-Shaamit]

~

Dari ‘Aisyah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda kepada para shahabatnya, “Tahukah kalian sebesar-besar zina di sisi Allah ?”. Para shahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebesar-besar zina di sisi Allah ialah menganggap halal (menjatuhkan) kehormatan orang Islam”. Kemudian (Rasulullah SAW) membaca ayat : Walladziina yu’dzuunal-mu’miniina wal mu’minaati bi ghairi maktasabuu faqodihtamaluu buhtaanaw wa itsmam mubiinaa [QS. Al-Ahzab : 58] (Dan orang-orang yang menyakiti orang mukmin laki-laki dan orang mukmin perempuan tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka sungguh mereka telah berbuat buhtan (kebohongan) dan dosa yang nyata). [HR. Abu Ya’la, juz 4, hal. 189, no. 4670]

~

Dari Hudzaifah bahwasanya ia mendengar ada seorang laki-laki yang suka berbuat namimah, maka Hudzaifah berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka berbuat namimah”. [HR. Muslim juz 1, hal. 101]

~

Dari Hammam bin Harits, ia berkata : Dahulu ketika kami sedang duduk bersama Hudzaifah di masjid, datanglah seorang laki-laki ikut duduk diantara kami, lalu dikatakan kepada Hudzaifah, “Sesungguhnya orang ini suka melaporkan omongan-omongan kepada penguasa”. Maka Hudzaifah berkata agar didengar orang tersebut : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka berbuat namimah”. [HR. Muslim juz 1, hal. 101]

~

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Namimah (adu-adu), syatimah (suka mencaci) dan hamiyyah (kesombongan) adalah di neraka, tidaklah bersemayam di dalam dada seorang mu’min”. [HR. Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabiir juz 12, hal 340, no. 13615, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama Muhammad bin Yazid bin Sinaan]

~

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Orang Islam itu ialah orang yangmana orang-orang Islam yang lain selamat dari perbuatan lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. [HR. Bukhari juz 1, hal. 8]

~

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW pernah melewati dua qubur, lalu beliau bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya dua penghuni qubur ini sedang disiksa. Keduanya tidak disiksa lantaran perkara yang besar (menurut anggapannya). Adapun seorang dari keduanya dahulu biasa kesana-kemari berbuat namimah. Adapun seorang yang lain dahulu tidak menjaga (tidak bersih) dari kencing”. Ibnu ‘Abbas berkata : Lalu beliau minta diambilkan pelepah kurma yang masih basah, lalu beliau membelahnya menjadi dua, kemudian beliau menancapkan untuk yang ini satu, dan yang itu satu. Kemudian beliau bersabda, “Mudah-mudahan mereka diringankan dari siksa, selama pelepah kurma itu masih basah”. [HR. Muslim juz 1, hal. 240]

~

Dari Abu Umamah, ia berkata : Pada suatu hari yang sangat panas Nabi SAW berjalan lewat arah (quburan) Baqii’il Gharqad. Abu Umamah berkata, “Maka setelah beliau mendengar suara sandal-sandal, beliau menenangkan diri lalu duduk, sehingga beliau mempersilakan orang-orang berjalan di depannya supaya tidak timbul suatu kesombongan pada diri beliau. Setelah beliau melewati (quburan) Baqii’il Gharqad, tiba-tiba beliau melihat dua quburan orang laki-laki yang orang-orang (baru saja) menguburkannya. Lalu Nabi SAW berhenti dan bertanya, “Siapa yang telah kalian qubur di sini pada hari ini ?”. Mereka menjawab, “Ya Nabiyyallah, si Fulan dan si Fulan”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya sekarang ini sedang mendapat siksa dan fitnah qubur. Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa sebabnya ?”. Nabi SAW menjawab, “Adapun salah satu dari keduanya, dia tidak bersih dari kencing, adapun yang lain, dia dahulu kesana-kemari berbuat namimah”. Kemudian Nabi SAW mengambil pelepah kurma yang masih basah, lalu membelahnya dan menancapkannya pada kedua qubur itu. Para shahabat bertanya, “Ya Nabiyyallah, mengapa engkau berbuat begitu ?”. Beliau SAW menjawab, “Supaya diringankan (siksa) dari keduanya”. Mereka bertanya, “Ya Nabiyyallah, sampai kapan Allah menyiksa mereka berdua ?”. Nabi SAW menjawab, “Itu hal yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dan seandainya hati kalian tidak keluh-kesah dan kalian tidak banyak bicara, sesungguhnya kalian pasti bisa mendengar apa yang aku dengar”. [HR. Ahmad, juz 8, hal. 303, no. 22355]

~

Dari ‘Abdur Rahman bin Ghanmin, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sebaik-baik hamba Allah ialah orang-orang yang apabila mereka itu dipuji, disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah ialah orang-orang yang berjalan kesana-kemari berbuat namimah, orang-orang yang memecah persatuan dengan mencari-cari cela dan keburukan orang-orang yang bersih”. [HR. Ahmad juz 6, hal. 291, no. 18020]

~

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, aku berkata, “Ya Rasulullah, amal perbuatan yang bagaimana yang lebih utama ?”. Nabi SAW menjawab, “(Amal yang lebih utama) ialah shalat pada waktunya”. Saya bertanya lagi, “Kemudian apalagi, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Berbhakti kepada kedua orang tua”. Saya bertanya lagi, “Kemudian apalagi, ya Rasululah ?”. Beliau bersabda, “Supaya orang-orang selamat dari lisanmu”. Kemudian beliau diam, seandainya aku minta tambah lagi, tentu beliau menambah padaku lagi”. [HR. Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir juz 10, hal. 19, no. 9802]

~

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian, apakah al-’adlhu itu ?. Al-’Adlhu adalah perbuatan namimah yang tersebar di tengah-tengah manusia”. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang berbuat jujur sehingga dicatat sebagai orang yang jujur, dan seseorang berbuat dusta sehingga dicatat sebagai pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2012].

~

~oO[ @ ]Oo~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s