Dimensi taqwa …. renungan pengingat diri sendiri

*DIMENSI TAQWA*
Tak punya anak….

Belum menikah di usia hampir 40….

Berstatus janda setelah bercerai dengan suaminya….
Masih mengontrak rumah meski sudah 20 tahun bekerja….
Berkeliling menjajakan dagangan dari satu pintu ke pintu lainnya….
Atau perjalanan hidup lainnya yang tidak masuk dalam kategori sukses bahagia adalah labelisasi dunia…
*Atau bahkan sampai terkelompokkan kategori aib…*
Itu bukan aib…

Itu peran dunia saja..
Dalam panggung sandiwara kehidupan.
*Lakon…*

*Lakonmu…*

*Lakonku…*

*Lakonnya…*
Kehidupan para artis yang berperan dalam panggung sandiwara tidak selalu sama dengan kehidupan nyata.via
_Di panggung dia miskin…_

_Bisa jadi dia seorang yang kaya raya…_
Di panggung dia hina.

Di kehidupan sesungguhnya dia sangat terhormat…
Dan dunia ini adalah senda gurau saja.

Panggung sandiwara.
Dengan kehidupan nyata berada di sebuah dimensi.
Yang bernama *dimensi taqwa*
*Orang miskin begitu kayanya karena dia sering berbagi setengah jatah berasnya pada tetangganya yang miskin…*
_Orang yang lumpuh betapa lincahnya karena dia bisa berbagi motivasi ke banyak orang di media sosial…_
Orang yang tak berputra betapa banyak anaknya yang dia asuh sampai sukses.
Orang yang belum menikah betapa sakinahnya dia dengan baktinya pada orang tuanya…
Dan peran kita adalah kehendak Allah.
*Mutlak*
Jalani saja dengan sebaik-baiknya.
Sang sutradara pasti akan menyukainya.
Siapa tau peran kita berubah.
Tapi tidak juga harus berubah.
*»»Bila Yusuf akhirnya menjadi penguasa kerajaan setelah episode menjadi budak, dipenjara…*
*»»Ibrahim dikaruniai putra yang sholih di usia tuanya…*
*»»Ayub sembuh dari sakit kulitnya…*,
_Namun tetap ada…_
*»» Uwais al Qorni tetap fakir sampai ujung hidupnya…*
*»» Ibunda Aisyah tetap tidak berputra sampai akhir hidupnya…*
*»»Ibunda Asiyah tetap bersuamikan seorang Firaun…**
*»»Anak Nuh tetap tidak mau mematuhi seruan ayahnya dan mati tenggelam…*
Karena peran dan skenario sudah di tetapkan.
Jangan bersedih saudaraku…
Hiduplah dalam *dimensi taqwa*!
Memiliki harta memang membahagiakan.
Namun esensinya harta bisa dibelanjakan untuk berinfak.
Dan berinfak sesungguhnya bukan hanya lewat harta.
_Memiliki keturunan membahagiakan.._.

_Namun esensinya anak sholih dapat terus mengalirkan pahala meski kita sudah tiada…_
Namun tidak harus lewat anak kita punya investasi pahala yang mengalir….
Menikah itu membahagiakan.

Namun esensinya menikah itu untuk beribadah yang berpahala banyak.
Namun tidak hanya melalui menikah kita bisa beribadah dengan pahala banyak.
Bahagialah lewat *dimensi taqwa*!
*Karena dunia hanya sebatas lakon semata…*
*Barakallahu fiikum*,
*_Rabbana Taqabbal Minna_*
_*Ya Allah terimalah dari kami (amalan kami)..,*_
آمِــــــــــيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِــــــــــيْنَ
*Semoga Bermanfaat*
Terima kasih pak songko atas kiriman renungannya di sepertiga malam lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s