Jumlah vs kualitas kaum muslim

image

Jumlah Kaum Muslimin Terlihat Ketika Shalat ‘Ied, Kualitasnya Terlihat Ketika Shalat Berjamaah Di Masjid

Memang ketika shalat ‘ied, alhamdulillah seluruh kaum muslim merasakan kebahagiaan dan keluar untuk shalat ‘ied. Bahkan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan agar wanita pingitan dan wanita haid ikut hadir dalam pelaksanaan shalat ‘ied hanya saja wanita haid tidak ikut shalat. Dan ini menggambarkan dan hampir wewakili jumlah kaum muslimin di suatu daerah.

Akan tetapi jumlah yang banyak saja belum tentu diikuti oleh kualitas yang baik. Kita lihat hadits di manasuatu saat jumlah kaum muslimin banyak akan tetapi kualitasnya kurang baik akibat penyakit al-wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُوْشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْكَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا.فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُيَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍكَثِيْرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِوَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ الْمَهَابَةَ مِنْ صُدُوْرِعَدُوِّكُمْ وَليَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْقُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ. قَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ:حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَّةُ الْمَوْتِ

“Nyaris para umat akan mengerubungi kalian sebagaimana mengerumuni makanan. Seseorang bertanya: Apakah karena  jumlah kita sedikit? Jawab beliau: Tidak, bahkan jumlah kalian banyak, hanya saja seperti buih banjir. Allah telah m,encabut rasa takut mereka terhadap kalian. Dan sungguh Allah telah menyusupkan wahn ke dalam hati kalian. Mereka bertanya: Apa wahn itu? jawab beliau: Cinta dunia dan takut mati”.[1]

Begitu juga terkadang jumlah yang banyak bisa membawa kepada kesombogan. Misalnya pada perang Hunain.

Firman Allah,

{لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئاً وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ، ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُوداً لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ}

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (wahai kaum mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaituketika kamu merasa bangga dengan banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberi ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada oang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikian pembalasan kepada mereka” (QS At Taubah:25-26).

 

Kualitas pada shalat berjamaah

Telah kita ketahui bahwa shalat adalah tiang agama, jika baik maka insyaAllah Islam baik dan jaya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُالصَّلاَةُ، وَذَرْوَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ

em>“Kepala dari seluruh perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.”[2]

Shalat adalah ukuran kualitas, jika shalat baik maka amal yang lain juga baik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Pertama kali yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya, maka baiklah seluruh amalnya dan jika buruk, maka buruklah seluruh amalnya.”[3]

 

Tentu kualitasnya bisa dilihat pada shalat, terutama shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki yang menurut pendapat terkuat wajib. Alasannya sangat banyak, berikut kami sampaikan beberapa saja:

Allah yang langsung memerintahkan dalam al-Quran agar shalat berjamaah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (Al-Baqarah: 43)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah berkata,

، فلا بد لقوله { مع الراكعين } من فائدة أخرى وليست إلا فعلها مع جماعة المصلين والمعية تفيد ذلك

“makna firman Allah “ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama.”[4]

 

saat-saat perang berkecamuk, tetap diperintahkan shalat berjamaah. Maka apalagi suasana aman dan tentram. Dan ini perintah langsung dari Allah dalam al-Quran

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةُُ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلِيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَى أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ إِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

 

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan  satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.” (An-Nisa’ 102)

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

ففي أمر الله بإقامة الجماعة في حال الخوف : دليل على أن ذلك في حال الأمن أوجب .

 

“pada perintah Allah untuk tetap menegakkan shalat jamaah ketika takut (perang) adalah dalil bahwa shalat berjamaah ketika kondisi aman lebih wajib lagi.”[5]

 

Ibnul Qayyim Al-Jauziyahrahimahullah menjelaskan,

وفي هذا دليل على أن الجماعة فرض على الأعيان إذ لم يسقطها سبحانه عن الطائفة الثانية بفعل الأولى، ولو كانت الجماعة سنة لكان أولى الأعذار بسقوطها عذر الخوف، ولو كانت فرض كفاية لسقطت بفعل الطائفة الأولى …وأنه لم يرخص لهم في تركها حال الخوف

 

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ain bukan hanya sunnah atau fardhu kifayah,  Seandainya hukumnya sunnah tentu keadaan takut dari musuh adalah udzur yang utama. Juga bukan fardhu kifayah karena Alloh menggugurkan kewajiban berjamaah atas rombongan kedua dengan telah berjamaahnya rombongan pertama… dan Allah tidak memberi keringanan bagi mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah dalam keadaan ketakutan (perang).“[6]

 

3.Orang buta yang tidak ada penuntut ke masjid tetap di perintahkan shalat berjamaah ke masjid jika mendengar adzan, maka bagaimana yang matanya sehat?

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhudia berkata,

أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَرَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِإِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَىالْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُفَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّاوَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَبِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ

“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).”[7] 

Dalam hadits yang lain yaitu, Ibnu Ummi Maktum (ia buta matanya). Dia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.”[8]

 

Demikian semoga bermanfaat

 

Penyusun: Raehanul Bahraen

 

[1]HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Asakir dan At-Thabrani dan dishahihkan Al-Albani dalam As-Shahihah no. 958

[2]HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 2/138

[3] HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’no. 2573

[4] Ash-Shalatu wa hukmu tarikihahal. 139-141

[5] Al- Ausath 4/135

[6] Kitab Sholah hal. 138, Ibnu Qoyyim

[7] HR. Muslim no. 653

[8] HR. Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih

Add Pاn BB muslimafiyah.com 5FA776FE
Telegram (klik): bit.ly/muslimafiyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s