Selftalk

image

Ahaaa…selftalk…satu kata yang membuatku penasaran untuk membaca artikel yang dishare di grup wa berikut:

Kesan pertama mendarat di Lampung adalah _masih lebih banyak pohon daripada orang_. Kondisi inilah yang saya suka, banyak pohon artinya banyak racun CO2 yang diubah menjadi oksigen.

Kalau di Jakarta, pohon besar di pinggir jalan biasanya sering menjadi tempat mangkal pedagang gerobak dorong. Bukan sekedar udaranya yang sejuk, tapi juga terhindar dari panasnya sinar matahari sehingga banyak orang yang ikut berteduh disana.

Ngomong-ngomong tentang berteduh, kita bisa memahami bahwa berteduh adalah kata kerja, dimaknai sebagai usaha kita agar terhindar dari sinar matahari dengan berada di bawah pohon yang rindang. Nah fungsi pohon ini menghalangi kita dari teriknya sinar matahari.

Memang arti berteduh tidak sesempit itu, tapi saya sengaja memilih makna yang berlaku lebih umum agar mudah memahami perumpamaan yang akan saya sampaikan.

Seandainya sinar matahari dianggap membahayakan tubuh, adalah tepat bila kita berteduh. Namun bila sinar matahari justru dibutuhkan tubuh, selayaknya kita harus terpapar sinar matahari.

Seperti pagi hari saat matahari baru beranjak dari ufuk timur. Sinarnya yang hangat sangat diperlukan tubuh kita. Makanya sangat jarang kita temui orang yang berteduh di pagi hari.

Bila ada orang yang berteduh di pagi hari, rasanya lucu. Kecuali dia mengidap penyakit yang bila terkena sinar matahari, penyakitnya bertambah parah (walau pun saya tidak tahu ada gak penyakit seperti itu).

Bila sinar matahari kita umpamakan rizki (memang sinar matahari hakikatnya adalah rizki), sebenarnya banyak orang yang berikhtiar dan berdoa mendapatkan limpahan rizki tapi tidak sadar malah “berteduh” dari curahan rizki Allah.

Bukannya membiarkan diri menerima limpahan rizki, malah berteduh menghindari curahan rizki. Allah mau ngasih rumah, dia malah “berteduh” dari rizki itu dan memilih tetap menumpang di rumah orang lain. Kok bisa?

Iya bisa, dalam kadar tertentu saya pun seperti itu. Apa yang membuat kita di posisi berteduh alias menghindar dari curahan rizki Allah?

Nah ini dia inti tulisan ini sekaligus memenuhi janji saya beberapa waktu lalu, *SELF TALK*. Selftalk atau berbicara dengan diri sendiri atau istilah umum *MEMBATIN* hakikatnya adalah *”do’a jalur cepat”* kepada Allah SWT.

Lebih jauh tentang Seltalk, kita akan belajar dari hasil penelitian _The National Science Foundation_ bahwa setiap hari kita melakukan 60.000 kali selftalk dan dari sebanyak itu, hanya 5% yang disadari!

Artinya, 95% selftalk telah “beroperasi secara otomatis” alias “berdoa di jalur cepat secara otomatis”. Bila selftalk ini *DIBIASAKAN* negatif, maka ada 57.000 doa negatif yang *TIDAK DISADARI*. Mengerikan bukan?

Jangan bayangkan bahwa dengan do’a negatif sebanyak itu setiap hari  Anda telah menciptakan pohon besar dengan dedaunan yang sangat rapat dan Anda berada di bawahnya, *menghindarkan Anda dari curahan hujan rizki Allah*.

Mau sampai kapan?

Baiklah Anda menyerah sekarang dan bersedia keluar dari bawah pohon itu untuk menerima curahan rizki dari langit. Apa yang perlu dilakukan sekarang?

_Pertama_, input selftalk positif secara sadar *SEKARANG* agar dia bisa beroperasi otomatis tanpa sadar *KELAK*. Caranya tulis hal-hal positif berulang-ulang tiap hari.

Contoh, saya bisa saya bisa saya bisa saya bisa saya bisa saya bisa saya bisa saya bisa saya bisa. Tulislah pada kertas A4 sebanyak 4 lembar bolak-balik tiap malam selama 14 hari berturut-turut.

_Kedua_, perbaiki keyakinan. Semua hal negatif dalam hidup kita adalah pengalaman di masa lalu, bukan fakta esok hari. Seburuk-buruknya kita menilai hidup ini, hanya menjelaskan masa lalu, bukan realitas yang akan kita alami di masa depan.

Jadi saat hidup Anda terpuruk hari ini, itu adalah fakta detik ini hingga kemarin dan sebelumnya, bukan fakta detik yang akan datang. Bukankah masa depan masih rahasia Allah?

Jadi saat ditanya _apa kabar?_ dan Anda sedang terlilit hutang, bukan menjawab _kabar buruk, aku sedang bingung dengan hutang._ Seolah-olah hutang itu beban Anda di masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Tapi jawab saja, _Kemarin aku terlilit hutang, jadi sempat bingung bayarnya dari mana._

Tanpa Anda sadari, Anda membuat doa dan harapan bahwa hutang dan kebingungannya hanya kemarin, artinya hari ini berakhir!

Coba Anda baca baik-baik sekali lagi.

Apa kabar?

a) “Kabar buruk, aku sedang bingung dengan hutang.”

b)  “Kemarin aku terlilit hutang, jadi sempat bingung bayarnya dari mana.”

Mana yang lebih memberikan energi positif, (a) atau (b)? Tentu saja (b).

Masa lalu tidak mesti sama dengan masa depan. Itu keyakinan yang benar. Penolakan seseorang di masa lalu tidak berarti penolakan yang sama dari dia di masa yang akan datang.

Pun kesusahan kita di masa lalu tidak berarti tetap susah di masa depan. Kuasa Allah sangat mungkin terjadi bahkan membalikkan kondisi kita ke depan.

Bukankah masa depan tak ada yang tahu, bahkan sepersekian detik ke depan? Itu sebabnya, bagi muslim diajarkan mengucapkan Insya Allah untuk rencana di masa depan.

Ada seorang siswa SMA saya tanya, “Setelah lulus mau kemana?” Dia jawab, “Gak tahu Kang. Pengen kuliah gak ada biaya, pengen kerja gak ada lowongan.”

Saya kagum dengan anak ini, dia bisa meneropong apa yang belum terjadi bahkan meyakini dengan keimanan tingkat tinggi bahwa masa depannya tidak sanggup membayar kuliah serta tidak mendapat pekerjaan.

Seandainya dia meyakini itu, sesuai ajaran Rasulullah SAW, mestinya dia menjawab,

“Gak tahu Kang. Pengen kuliah *Insya Allah* gak ada biaya, pengen kerja *Insya Allah* gak ada lowongan.”

Ini baru jawaban yang shahih.

Banyak diantara kita memiliki kemampuan lintas waktu, meneropong dan meyakini apa yang belum terjadi tanpa menyebut Insya Allah. Seolah-olah dia mendapat bocoran hidup di masa depan dari malaikat langsung.

Saya pribadi memilih tidak tahu atau hanya Allah yang tahu apa yang akan terjadi dan itu alasan saya berikhtiar.

Apakah kerja saya menghasilkan kelak? Apakah belajar bisa membuat saya paham? Apakah olah raga bisa menyehatkan? Apakah teman lama akan menyambut dengan hangat saat saya berkunjung? Apakah tulisan ini bermanfaat untuk saya dan Anda kelak?

Saya tidak tahu dan hanya Allah yang tahu. Karena tidak tahu, saya akan mencari tahu. Bila sampai mati tidak menemukan jawaban, barulah saya tahu bahwa saya ditakdirkan untuk tetap tidak tahu.

Artinya, tidak tahu memberi saya motivasi untuk berikhtiar sampai saya tahu tujuan tercapai atau *MATI*.

_Ketiga_, pelihara pikiran dan selftalk positif setiap hari. Menanam tanpa memelihara bisa berakibat apa yang ditanam tidak produktif bahkan berumur pendek.

Dalam konteks pikiran dan selftalk, cara kita memelihara adalah dengan repetisi alias pengulangan. Sebenarnya banyak hal yang kita lakukan berulang sepanjang hidup, diantaranya adalah *IBADAH*.

Ibadah seyogyanya adalah cara kita membersihkan pikiran dan selftalk setiap hari, namun karena dilakukan tanpa kesadaran (hanya sebagai syarat), kita kehilangan makna dari ibadah.

Sekarang -bagi yang muslim- biasakan membaca Al Quran dan pahami artinya SETIAP HARI. Lalu baca Al Matsurat dan artinya setiap pagi (Anda bisa download di playstrore untuk HP Android).

Membaca dengan artinya memberi kesempatan kepada kita untuk input keyakinan dan sugesti positif setiap hari. Bila keyakinan sudah positif, selftalk otomatis positif.

Bila selftalk positif, Anda akan menarik hal-hal positif setiap waktu. Anda menjadi lebih percaya diri yang artinya menarik orang-orang yang menghargai Anda ke dalam hidup Anda.

Anda lebih bersyukur yang artinya menarik lebih banyak keberlimpahan ke dalam hidup Anda. Anda lebih antusias yang artinya menarik lebih banyak kemudahan ke dalam hidup Anda.

Benarlah kata Allah dalam salah satu hadits Qudsi, *”Aku bersama prasangka hamba-Ku.”* Jadi, mari kita kreasikan keajaiban hidup melalui selftalk.

Mungkin di awal tidak begitu mudah dan kurang menyenangkan, tapi bukankah lebih baik *SEMENTARA* memaksakan diri melakukan hal baru walau pun tidak mudah dan tidak menyenangkan, daripada bertahan dengan pola lama *SELAMANYA* padahal memaksa terus hidup dalam kondisi jauh dari mudah dan menyenangkan?

Tanpa terasa waktu terus bergulir dan jarum jam berdetak maju. Dalam setiap perpindahannya, ada milyaran kejadian yang tidak diduga di dunia ini. Selftalk positif membantu kita menyikapinya dengan positif pula.

Akhirnya, saya ucapkan selamat pagi dan selamat berakhir pekan. Mumpung masih pagi, yuk olah raga dan biarkan sinar matahari mengenai tubuh.

Gak perlu mencari pohon untuk berteduh, kecuali hari sudah siang dan sinar matahari sudah terik terasa. Itu pun tak perlu berlama-lama karena banyak kewajiban yang perlu kita tuntaskan hari ini.

Bukankah kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia?

*Bersambung*

Bandar Lampung, 28 Mei 20[truncated by WhatsApp]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s