Minimalkan….jangan terlalu kaku

image

Kalau ada kemungkaran di suatu tempat, bukan berarti kita tinggalkan hajat kita sama sekali di tempat tersebut. Yang mesti dilakukan adalah meminimalkan.

Coba perhatikan dan ambil pelajaran dialog Syaik Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ketika ada yang bertanya pada beliau berikut ini.

“Apakah aku mesti meninggalkan mengunjungi orang sakit di Rumah Sakit karena di sana ada godaan? Apalagi orang sakit tersebut akan keluar setelah beberapa hari”, demikian yang pertanyaan dari murid beliau dalam pertemuan Liqa’ Al-Bab Al-Maftuh setiap hari Kamis di kediaman beliau.

Syaikh Muhammad balik bertanya, “Emangnya apa godaannya?”

Si penanya menjawab, “Ada di sana wanita yang berpakaian namun telanjang.”

Syaikh Muhammad lantas memberi tanggapan, “Bagaimana menurutmu jika engkau butuh membeli sayur dan seperti itu cuma ada di pasar. Di pasar, jelas kita akan bertemu banyak wanita. Apakah engkau tetap di rumah dan katakan bahwa andai aku tetap membeli hajat tersebut, aku akan dapat kejelekan di sana?”

Penanya menjawab, “Tidak, wahai Syaikh.”

Syaikh kembali memberi tanggapan, “Semacam itu pulalah ketika engkau mengambil pilihan untuk menilik orang sakit di rumah sakit.”

“Namun orang sakit tersebut akan segera keluar”, ujar si penanya.

“Engkau bukannya tidak tahu kapan ia akan keluar?”, Syaikh balik bertanya.

“Orang tersebut baru saja melahirkan. Wanita yang melahirkan biasa akan keluar dua atau tiga hari setelah lahiran”, jawab si penanya.

Syaikh lantas menjelaskan, “Lihatlah jika memang pergi ke sana bukan kewajiban, yaitu yang akan dikunjungi bukanlah saudara perempuan, bukan bibimu,  maka tidak menjadi suatu keharusan untuk ke sana. Namun jika yang akan dijenguk itu masih kerabatmu, jenguklah.

Namun kami ingatkan, janganlah terlalu bersikap kaku seperti tadi. Sekarang saja kalau kita bepergian dengan pesawat, sama juga penuh kemungkaran (campur baur dan banyak wanita yang tidak menutupi aurat, pen.). Apakah mungkin kita katakan, ‘Ah saya tidak mau pergi dengan pesawat karena ada kemungkaran di dalamnya.’ Tidak seperti itu wahai saudaraku. Pergilah dengan pesawat, tak masalah. Namun kurangilah kemungkaran semampu kita, seperti dengan banyak-banyak menundukkan pandangan.”

Semoga kita bisa memahami dialog di atas.

Kalau memang kita terpaksa mendatangi tempat yang ada kemungkaran, maka minimalkan saja kemungkaran yang ada. Karena ada kaedah yang sering para ulama utarakan, jika bertemu dua kejelekan yang mesti dipilih, maka ambillah yang lebih ringan.

Semoga kita terus bisa meraih ilmu yang manfaat dari alim rabbani kita.

Referensi:

Silsilah Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh, pertemuan no. 236.

Ditulis dan diterjemahkan @ Citilink menuju Jakarta, pagi hari 23 Sya’ban 1437 H

Oleh akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

[BOLEH UNTUK DISHARE]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s