Hindari kebocoran amal

Intisari
Tausiyah KH Abdullah Gymnastiar
Selasa ( 2 Ramadhan 1437 H, 7 Juni 2016)

“Sempurnakan Ibadah Ramadhan”

Semoga dalam setiap aktivitas, yakin Allah menyaksikan, sehingga terus menjaga niat, pikiran, perkataan dan perilaku semata-mata mencari Ridho Allah, bukan penilaian manusia.

Di Ramadhan hari ke-2 ini, selain  meningkatkan amal, tapi harus menjaga dari  kebocoran amal, jangan sampai di akhirat nanti bangkrut (muflis).

Banyak amal, tapi kalau tidak diikuti dengan menutup bocoran, maka amal akan sia-sia.

Kebocoran amal yang paling banyak  berasal dari mulut, waspada terhadap lisan.

Rasulullah SAW bersabda : ” Siapa yang beriman kepada hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi selain shaum perut, harus juga shaum lisan. Apakah yang diucapkan penting, perlu, manfaat ? Jika harus bicara, maka sampaikan secukupnya.
Hindari ghibah, dusta, fitnah, namimah, berkata keji, bertengkar, sumpah palsu, mencaci, menghina, dan sebagainya.

Waspadai kebocoran amal dari mata, tontonan yang sia-sia, bisa mengotori hati. Dari pandangan mata akan memandu keinginan.

Membeli makanan kadang hanya lapar mata, padahal tak diperlukan oleh tubuh.
Belanja barang-barang, beli sesuatu karena pandangan, hanya ingin, tapi tak terpakai dan mubazir.
Memandang lawan jenis, lewat televisi, tidak halal karena melihat aurat orang.

Menjaga pandangan membuat bersih hati.

Waspada kebocoran amal dari pendengaran, mendengar musik yang sia-sia, mendengar obrolan yang tak manfaat, mencari tau keburukan orang lain.

Carilah teman yang jika berjumpa dengannya membuat ingat kepada Allah, kata-katanya membuat bertambah ilmu dan amal, perilakunya mengingatkan akan akhirat.

Ramadhan harus mengekang keinginan, ketika berbuka dikendalikan. Seharusnya Ramadhan membuat perekonomian menjadi lebih baik, karena untuk diri hemat dan terkendali, untuk orang lain harus banyak bersedekah. Jangan ada makanan yang tersisa dan terbuang, jaga kebersihan lingkungan. Mencegah penggunaan plastik agar tak membebani generasi ke depan.

Jika 30 hari ramadhan, menjadi pembiasaan, meningkatkan amal dan menjaga dari kebocoran amal, semata-mata ingin mendapat Ridho Allah, maka Allah akan  mengijinkan kita berubah menjadi lebih baik,  tak hanya dilihat dari meningkatnya  ibadah, tapi juga terlihat dari kemampuan menghindari kebocoran amal.

Islam tak hanyak ibadah mahdhoh, tapi harus benar-benar bisa diamalkan dalam keseharian.

Semoga manfaat, Allahu’alam
(Khairati-DT)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s