Selayang pandang sebuah menara

menara“Kemana saja jalan-jalannya” tanyaku pada kolega pak Ismono semalam, dalam perjalanan kami dari kota Pati menuju kota Yogya

“Waahh…aku dah muter-muter” jawab temanku

“Enak yaa kalau sekolah ada teman seperjuangan” jawabku dengan ada nada suara “iri”

“Iya, dan juga pak Setiawan suka diajak jalan” lanjut pak Ismono

Ya teringat saat aku sekolah saat itu…satu kampusku hanya ada 2 oang Asia, yaitu 1 orang Indonesia yaitu aku dan satu orang mahasiswa dari Malaysia, dia mengambil jalur diploma3. Mengingat masa-masa sekolah itu, mengingatkanku akan sebuah pembelajaran kehidupan yang sangat berharga.

menaraSeumur hidup aku belum pernah berpisah dengan orang tua, sekolah dari sejak taman kanak-kanak sampai mahasiswa selalu dekat sehingga tidak perlu berpisah kota. Sekali dapat kesempatan ambil master dapatnya di belahan bumi yang lain. Tidak hanya berbeda kota, pulau, maupun negara, bahkan ini berbeda belahan dunia. Sekai berpisah dengan orang tua langsung di lokasi yang sangat berjauhan.

eifel

Sudah jauh, sendirian pula di sekolah itu, kerinduan bisa makan nasi dan berbahasa Indonesia adalah sebuah kerinduan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

 

Karena hanya sendirian, tingkat keberanian untuk jalan-jalan tidak bisa optimal, namun aku selalu berusaha memanfaatkan waktu longgarku untuk mengeksplor lingkungan sekeliling. Tentu saja, lokasi yang di jalanipun yang masih dalam jangkauan sehari bisa pulang, meski tengah malam baru sampai penginapan.

menara Eifel

 

 

 

 

menara EifelKebayang kalau jalan-jalan seperti itu, bisa turun kereta tengah malam dan berjalan kaki dari stasiun ke penginapan sendirian. Namun saat itu terasa baik-baik dan aman-aman saja, karena di setiap sudut jalan tempat keramaian menuju penginapan ada kamera CCTV, sehingga kamanapun aku berjalan serasa sudah ada yang mengawal, sekarang membayangkan itu kembali……wooouuuw…betapa beraninya diriku saat itu.

Sayang sekali, ternyata aku tidak punya kenangan dalam gambar kota tempatku membangun kemandirian, keberanian dan ketangguhan hidup diperantauan. Untuk mengobati kangenku akan suasana aman dan nyaman, aku lihat-lihat kembali beberapa gambar saat napak tilas 2 tahun lalu.

Menara Eifel

Menara Eifel

 

Iklan

6 thoughts on “Selayang pandang sebuah menara

  1. Budi Santoso Maret 2, 2016 / 7:56 am

    pengen kesana suatu saat nanti, jika ada rezeki berlebih

    • purwatiwidiastuti Maret 2, 2016 / 8:24 am

      aamiin, semoga Allah mengabulkan

  2. Bonita LubiDan Maret 3, 2016 / 6:11 am

    Keadaan mmg yg buat kita bs berani dan mandiri. Skrg sdh jd suatu kenangan yg manis ya mbak?

    • purwatiwidiastuti Maret 4, 2016 / 1:44 am

      Mbak Bonita LubiDan,
      Betul sekali mbak…ingat saat kalau musim dingin..jalan berselimut es..kita harus jalan setengah berlari demi mengejar bus kota….sekarang ga usah berlari bus akan berhenti dimana kita berada

      • Bonita LubiDan Maret 4, 2016 / 8:51 am

        Hehehe itulah ajaibnya hidup ya mbak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s