Rajin sedekah, lupa nafkah keluarga

🟥🟨 Rajin Sedekah, Lupa Nafkah Keluarga

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Bismillahirrahmanirrahim.

Perlu diprioritaskan dalam pengeluaran harta, bukan semua dipakai sedekah. Ada nafkah yang wajib yang lebih dahulu dipenuhi.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

“Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)

Ketika menjelaskan hadits di atas, Ibnu Battol rahimahullah menjelaskan:

Sebagian ulama menyebutkan bahwa pengeluaran harta dalam kebaikan dibagi menjadi tiga:

▶️ Pengeluaran untuk kepentingan pribadi,

▶️ keluarga dan

▶️ orang yang wajib dinafkahi

dengan bersikap sederhana, tidak bersifat pelit dan boros. Nafkah seperti ini lebih afdhol dari sedekah biasa dan bentuk pengeluaran harata lainnya.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu” (HR. Bukhari).

✅ Penunaian zakat dan hak Allah.

Ada ulama yang menyatakan bahwa siapa saja yang menunaikan zakat, maka telah terlepas darinya sifat pelit.

Sedekah tathowwu’ (sunnah) seperti nafkah untuk menyambung hubungan dengan kerabat yang jauh dan teman dekat, termasuk pula member makan pada mereka yang kelaparan.
Setelah merinci demikian, Ibnu Battol lantas menjelaskan, “Barangsiapa yang menyalurkan harta untuk tiga jalan di atas, maka ia berarti tidak menyia-nyiakan harta dan telah menyalurkannya tepat sasaran, juga boleh orang seperti ini didengki (bersaing dengannya dalam hal kebaikan).” (Lihat Syarh Bukhari, Ibnu Battol, 5: 454, Asy Syamilah).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskan, “Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya maka mereka merasa bahwa mereka telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti.

Adapun tatkala mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya maka seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti, padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.” (Sebagaimana penjelasan beliau dalam Riyadhus Shalihin)

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

@ DS, Panggang, Gunungkidul, 1 Safar 1438 H

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/HdziGSljjeu7mXYdPxEDu8

Berapa zakat jual rumah

🟨⬛️ Jual Rumah, Berapa Zakatnya?

Bismillahirrahmanirrahim…

Setelah rumah laku terjual, apakah ada kewajiban zakat dari hasil penjualan rumah?

Agar tidak salah paham, ada dua hal yang harus kita bedakan:

⚫️ 1. Menjual rumah

⚫️ 2. Jualan rumah.

“Menjual rumah” artinya dia bukan sebagai pedagang properti. Atau rumah yang dia beli sejak awal tidak diniatkan untuk diperdagangkan.

Adapun “jualan rumah”, dia menjadikan aktivitas menjual rumah sebagai profesi. Atau dia menggeluti bisnis properti. Dia meniatkan rumah yang dibeli untuk diperdagangkan.

Untuk yang pertama, yakni menjual rumah, ini tidak ada zakatnya.

Adapun yang kedua, yakni jualan rumah, maka ada kewajiban zakatnya. Karena di antara syarat barang menjadi wajib dizakati adalah ketika barang tersebut diniatkan untuk diperdagangkan.

Sebagaimana penjelasan Syekh As-Samarqandi rahimahullah di dalam Uyun Al-Masail,

وقَالَ هشام سألت محمداً : عن رجل اشترى خادماً للخدمة وهو ينوي إن أصاب ربحاً باع ، هل فيها الزكاة؟ قَالَ: لا، هكذا شِرَى الناس إذا أصابوا ربحاً باعوه

“Hisyam berkata, “Aku bertanya kepada Muhammad (yakni Ibnu Hasan as-Syaibani) tentang seseorang yang membeli hamba sahaya untuk dijadikan pembantu, dan dia berniat jika ada keuntungan, akan dijual. Apakah ada zakatnya?” Muhammad bin Hasan menjawab, “Tidak ada zakat. Seperti itu pula ketika ada orang beli, lalu jika nanti menguntungkan akan dijual.” (‘Uyun Al-Masail fi Furu’ Al-Hanafiyah, as-Samarqandi, hlm. 33)

Demikian pula penjelasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah,

لو كان عند إنسان عقارات لا يريد التجارة بها، ولكن لو أُعطي ثمناً كثيراً باعها فإنها لا تكون عروض تجارة ؛ لأنه لم ينوها للتجارة ، وكل إنسان إذا أتاه ثمن كثير فيما بيده، فالغالب أنه سيبيع ولو بيته ، أو سيارته ، أو ما أشبه ذلك

“Apabila seorang mempunyai tanah, bukan untuk diperdagangkan, namun jika nanti ditawar dengan harga tinggi, akan dia jual. Harta seperti ini bukan tergolong barang dagangan. Karena dia tidak berniat untuk diperdagangkan. Dan semua orang yang memiliki barang, jika barangnya ditawar dengan harga yang tinggi, biasanya dia akan menjualnya, sampai pun rumahnya, mobilnya, atau barang semisalnya.” (As-Syarh Al-Mumthi’, 6: 142).

⬛️ Zakat jualan rumah mengikuti ketentuan zakat perdagangan.

Berikut cara menghitungnya:

– Ketahui nishob (batasan kadar wajib zakat) pada zakat perdagangan.

Nishob-nya adalah seperti nishob emas. Nishob emas = 85 gram. Jika ingin diuangkan, dikalikan dengan harga beli emas di saat jatuh tempo wajib zakat.

Contohnya:

Harga emas per gram saat ini misalnya adalah: Rp. 870.263,- / gram.

Maka, nishob-nya adalah:

Rp. 870.263,- × 85 gram = Rp. 73.972.355,-

– Cara mengetahui apakah bisnis tanah atau properti sudah masuk wajib zakat perdagangan dan cara menghitung zakatnya adalah:

Menghitung nilai barang ditambah keuntungan bersih dikurangi utang dan biaya operasional. Nilai barang adalah harga barang di saat jatuh tempo zakat.

Jika hasil perhitungan tersebut sudah mencapai nishob, maka dikeluarkan 2,5 % dari jumlah tersebut.

Misalnya:

Ada seorang penjual tanah. Di akhir tahun, ia memiliki nilai aset dagang sebesar 2 milyar rupiah. Lalu keuntungan bersih sebesar 1 milyar rupiah. Hutang dan biaya operasional sebesar 500 juta rupiah.

Maka, cara menghitung zakatnya adalah:

2 milyar + 1 milyar – 500 juta = 2,5 milyar

Lalu, 2,5 milyar × 2,5 % = 62.500.000

Maka, zakat yang dikeluarkan sebesar Rp. 62.500.000.

Semoga bermanfaat.

Penulis: Ustadz Ahmad Anshori, Lc.

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/HdziGSljjeu7mXYdPxEDu8

Istri pinjam uang suami

🟦🟨 Istri Pinjam Uang Suami

Sebagai bentuk tanggung jawab, seorang suami wajib menafkahi istrinya.

Dalam Islam aturannya jelas, harta istri sepenuhnya milik istri, harta suami ada hak untuk istri, sehingga jelas dalam rumah tangga islam seandainya cerai -wal iyadzubillah- tidak perlu membagi harta gono gini.

Bagaimana dengan istri yang meminjam uang kepada suami?

Kita lihat ia meminjam untuk keperluan apa? Untuk kebutuhan apa?

Kalau untuk kebutuhan pokok seperti membeli baju -misalnya-, maka istri tidak perlu meminjam, ia boleh meminta dan suami wajib memberikan (sesuai kemampuannya).

Sebagaimana hadits shahih dari Rasulullah tentang hak istri atas suaminya, beliau bersabda:

أن تطعمها إذا طعمت، وتكسوها إذا اكتسيت-أو اكتسبت

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, dan engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.” [HR. At tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani]

Apa maksud hadits ini?

Maksudnya adalah untuk kebutuhan-kebutuhan primer, kalau seandainya suami makannya enak, istri juga harus makan enak.

Kalau suami pakaiannya bagus-bagus, istri juga harus bagus-bagus. Begitulah kaidah dalam memberikan nafkah.

Sebetulnya istri tidak perlu meminjam kepada suami untuk kebutuhan primer, karena itu sudah menjadi tanggung jawab suami, justru suami berdosa apabila tidak memberikannya nafkah, nanti akan ditanya di akhirat.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ …

“Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” [Al Baqarah: 233]

Lain apabila untuk keperluan bisnis (atau keperluan non-primer) bisa mungkin seorang istri meminjam dan mengembalikan. Tapi kalau untuk kebutuhan primer ia tidak perlu meminjam.

Wallahu a’lam

Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp PK, Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta.
🟦🟨 Istri Pinjam Uang Suami

Sebagai bentuk tanggung jawab, seorang suami wajib menafkahi istrinya.

Dalam Islam aturannya jelas, harta istri sepenuhnya milik istri, harta suami ada hak untuk istri, sehingga jelas dalam rumah tangga islam seandainya cerai -wal iyadzubillah- tidak perlu membagi harta gono gini.

Bagaimana dengan istri yang meminjam uang kepada suami?

Kita lihat ia meminjam untuk keperluan apa? Untuk kebutuhan apa?

Kalau untuk kebutuhan pokok seperti membeli baju -misalnya-, maka istri tidak perlu meminjam, ia boleh meminta dan suami wajib memberikan (sesuai kemampuannya).

Sebagaimana hadits shahih dari Rasulullah tentang hak istri atas suaminya, beliau bersabda:

أن تطعمها إذا طعمت، وتكسوها إذا اكتسيت-أو اكتسبت

“Engkau memberinya makan apabila engkau makan, dan engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.” [HR. At tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani]

Apa maksud hadits ini?

Maksudnya adalah untuk kebutuhan-kebutuhan primer, kalau seandainya suami makannya enak, istri juga harus makan enak.

Kalau suami pakaiannya bagus-bagus, istri juga harus bagus-bagus. Begitulah kaidah dalam memberikan nafkah.

Sebetulnya istri tidak perlu meminjam kepada suami untuk kebutuhan primer, karena itu sudah menjadi tanggung jawab suami, justru suami berdosa apabila tidak memberikannya nafkah, nanti akan ditanya di akhirat.

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ …

“Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” [Al Baqarah: 233]

Lain apabila untuk keperluan bisnis (atau keperluan non-primer) bisa mungkin seorang istri meminjam dan mengembalikan. Tapi kalau untuk kebutuhan primer ia tidak perlu meminjam.

Wallahu a’lam

Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp PK, Alumnus Ma’had Al-Ilmi Yogyakarta.

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

Enggan sedekah adalah ciri kemunafikan

🟪⬜️ Enggan Sedekah Adalah Ciri Kemunafikan.

Ustadz dr. Adika Mianoki, Sp.S.

Salah satu ciri orang yang beriman adalah gemar bersedekah. Sedangkan di antara ciri kemunafikan adalah enggan untuk bersedekah.

⬛️ Sedekah Adalah Bukti Iman

Rasul shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda :

وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

“ Sedekah adalah burhan (bukti) “ (H.R Muslim)

Yang dimaksud burhan adalah bukti yang menunjukkan benarnya keimanan. Tidaklah akan rela mengeluarkan harta yang ia cintai untuk disedekahkan, kecuali hanya orang yang memiliki keimanan dalam hatinya.

Maka ketika seseorang mengedepankan ketaatan kepada Allah dengan bersedekah, ini merupakan bukti benarnya keimanan di dalam hatinya.

⬛️ Orang Munafik Enggan Bersedekah

Adapun orang munafik, maka mereka enggan bersedekah. Bahkan mereka kikir dari bersedekah.

Allah menyebutkan di antara sifat orang munafik di dalam Al Qur’an :

وَلاَ يُنفِقُونَ إِلاَّ وَهُمْ كَارِهُونَ

“ … dan tidak pula menginfakkan harta mereka melainkan dengan rasa enggan karena terpaksa. ” (At Taubah : 54)

وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ

“ … dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). ” (At Taubah : 67)

Maka, sedekah adalah burhan keimanan, dan enggan bersedekah adalah ciri kemunafikan.

⬛️ Allah Mencintai Sifat Dermawan

Sifat dermawan dan gemar bersedekah adalah merupakan akhlak baik dalam Islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“ Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi. Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia dan Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi,shahih)

Pahala yang berlipat ganda Allah janjikan bagi orang-orang yang bersedekah dengan hartanya. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“ Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan balasan kebaikannya dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Al Hadid: 18)

⬛️ Sedekah Sama Sekali Tidak Mengurangi Harta

Ini merupakan jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta” (HR. Muslim)

Anggapan orang bahwa bersedekah akan mengurangi harta tidaklah tepat. Bahkan dengan banyak bersedekah, harta semakin bertambah berkah dan akan mendapat ganti yang lebih baik.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang gemar bersedekah dan kita berharap senantiasa mendapat rezeki harta yang penuh dengan berkah.

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/Csaqp5bWtCw2OvmU5K9SdG

Tidak membayar ,akat adalah dosa besar

🟥🟥 Tidak Membayar Zakat adalah Dosa Besar.

Ustadz dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang harus diperhatikan oleh kaum muslimin. Akan tetapi, sebagian di antara kaum muslimin masih meremehkan dan tidak memperhatikan kewajiban ini.

Tidak sedikit yang memiliki harta melimpah, namun tidak mau mengeluarkan zakatnya.

Padahal, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ’alaihi wasallam telah mengancam orang-orang yang tidak mau menunaikan zakat dengan siksaan yang pedih.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِّلْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُم بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

”Katakanlah, ‘Bahwasanya Aku hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.’ ” (QS Fushilat: 6-7)

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa di antara sifat orang-orang musyrik adalah tidak membayar zakat.

Oleh karena itu, jika ada seorang muslim yang tidak mau membayar (menunaikan) zakat, maka orang tersebut memiliki keserupaan dengan orang-orang musyrik.

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala dengan tegas mengancam orang-orang yang tidak mau membayar zakat dari harta emas dan perak yang mereka miliki.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيراً مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.’ ” (QS. At Taubah: 34-35)

Dalam surah At-Taubah ayat 34-35 di atas, Allah Ta’ala mengancam dengan siksaan yang pedih orang-orang yang tidak mau menunaikan hak dari harta yang dia miliki, seperti belum dibayarkan zakatnya.

Semua orang yang mempunyai harta berupa emas atau perak, namun tidak menunaikan haknya (tidak dibayarkan zakatnya), maka pada hari kiamat akan dibentangkan untuknya beberapa lembaran atau lempengan (dari api).

Lalu dia akan dipanggang di atas lembaran-lembaran (lempengan) tersebut di neraka. Lembaran-lembaran tersebut digunakan untuk menyetrika lambung, wajah, dan punggungnya.

Jika lembaran-lembaran tersebut sudah kembali lagi menjadi dingin, maka dipanaskan lagi. Hal ini terus-menerus diulangi selama satu hari yang panjangnya setara dengan lima puluh ribu tahun.

Demikianlah keadaannya, sampai Allah Ta’ala memberi keputusan kepada makhluk-Nya tersebut, boleh jadi menuju surga dan boleh jadi menuju neraka.

Hukuman ini juga berlaku pada harta yang bisa berfungsi untuk menggantikan emas dan perak, yaitu uang. Karena dalam bertransaksi, emas dan perak bisa diganti dengan uang.

Maka, siapa saja yang memiliki uang, baik ditabung di bank ataupun disimpan di dalam rumah atau tempat yang lainnya dan nilainya sama dengan harga emas dan perak yang sudah memenuhi nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasululah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا، فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ، ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ – يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ – ثُمَّ يَقُولُ أَنَا مَالُكَ أَنَا كَنْزُكَ، ثُمَّ تَلاَ: (لَا يَحْسِبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ) ” الآيَةَ

”Barangsiapa yang Allah Ta’ala berikan harta, namun tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti harta tersebut akan dijelmakan dalam bentuk ular jantan yang ganas. Ular itu memiliki dua taring yang akan mengalunginya. Kemudian ular tersebut akan memakannya dengan kedua rahangnya, kemudian berkata, ’Aku adalah hartamu, aku adalah emas dan perakmu’ …”

Lalu, beliau shallallahu ’alaihi wasallam membaca surah Ali Imran ayat 180,

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

”Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS. Ali Imran: 180) (HR. Bukhari no. 1403)

Demikianlah Allah Ta’ala tegaskan bahwa ketika mereka tidak mau membayar zakat, hal itu berdampak buruk bagi mereka pada hari kiamat.

Hal ini karena harta yang tidak dizakatkan tersebut akan dijadikan kalung di leher-leher mereka pada hari kiamat.

Demikian pula, setelah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam wafat, ternyata terdapat orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Mereka pun diperangi oleh Abu Bakar radhiyallahu ’anhu. Abu Bakar radhiyallahu ’anhu merupakan sahabat yang sangat lembut hatinya dan sangat mudah menangis. Akan tetapi, beliau bersikap tegas terhadap orang-orang yang tidak mau membayar zakat.

Beliau radhiyallahu ’anhu berkata,

وَاللَّهِ لَأُقَاتِلَنَّ مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ، فَإِنَّ الزَّكَاةَ حَقُّ المَالِ، وَاللَّهِ لَوْ مَنَعُونِي عَنَاقًا كَانُوا يُؤَدُّونَهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَاتَلْتُهُمْ عَلَى مَنْعِهَا

”Demi Allah, aku pasti akan memerangi siapa yang memisahkan antara kewajiban salat dan zakat, karena zakat adalah hak harta. Demi Allah, seandainya mereka enggan membayarkan anak kambing yang dahulu mereka menyerahkannya kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, pasti akan aku perangi mereka disebabkan keengganan itu.” (HR. Bukhari no. 1400)

Hadis tersebut adalah dalil bahwa termasuk tugas penguasa adalah mengatur pembayaran zakat.

Penguasa mempunyai kewenangan untuk menarik secara paksa bagi orang yang tidak mau membayar zakat. Bahkan, bagi orang yang menolak membayar zakat akan diberi hukuman (denda). Jika mereka tetap melawan, maka mereka boleh untuk diperangi.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ مَنَعَهَا فَإِنَّا آخِذُوهَا وَشَطْرَ مَالِهِ، عَزْمَةً مِنْ عَزَمَاتِ رَبِّنَا عَزَّ وَجَلَّ

”Barangsiapa yang tidak membayar zakat, maka kami akan mengambilnya, dan setengah hartanya kami sita. Demikian kewajiban di antara kewajiban-kewajiban yang Allah Ta’ala bebankan kepada kami.” (HR. Abu Dawud no. 1575, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)

Harta yang disita tersebut kemudian dimasukkan ke baitul mal. Sekali lagi, hadis-hadis ini menunjukkan pentingnya peran negara dalam pengambilan zakat.

Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kepada seluruh kaum muslimin agar mereka bersegera dalam menunaikan kewajiban zakat.

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

Mudah memahami jual beli

🟪⬛️ MUDAH SEBENARNYA UNTUK MEMAHAMI JUAL BELI.

1️⃣ HUKUM ASAL JUAL BELI ITU HALAL.

2️⃣ YANG PENTING TIDAK ADA RIBA.

3️⃣ YANG PENTING BELI SUATU BARANG YANG JELAS, TIDAK ADA GHARAR.

4️⃣ YANG PENTING TIDAK ADA KEZALIMAN, MISAL PENJUAL TIDAK MENIPU DAN MENGELABUI PELANGGAN.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أَنَّ الأَصْلَ فِي المُعَامَلاَتِ الحِلُّ وَالصِحَّةُ مَالَمْ يُوْجَدْ دَلِيْلٌ عَلَى التَّحْرِيْمِ وَالفَسَادِ

“Sesungguhnya hukum asal dalam muamalat adalah halal dan sah selama tidak ada dalil yang menunjukkan diharamkan dan menunjukkan rusaknya.” (Syarh Al-Mumti’, 9:120)

Lalu beliau melanjutkan,

مَا دَامَ لَيْسَ فِيْهِ ظُلْمٌ وَلاَ غَرَرٌ وَلاَ رِبًا فَالأَصْلُ الصِحَّةُ

“Selama dalam akad tidak terdapat unsur kezaliman, gharar (ada unsur ketidakjelasan), dan riba, maka akad tersebut sah.” (Syarh Al-Mumthi’, 9:120)

Referensi:
https://rumaysho.com/23499-harta-haram-itu-sumbernya-dari-zalim-riba-dan-gharar.html

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

Menyogok masuk PNS dan hukum gajinya

🟩⬜️ Menyogok Masuk PNS (Kerja) dan Hukum Gajinya

Ustad dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK

⬛️ Hukum menyogok untuk masuk kerja

Menyogok untuk masuk kerja tentu tidak diperbolehkan dalam Islam dan hukumnya adalah haram.

Kita dapati ada oknum (segelintir orang) yang berusaha untuk menyogok agar bisa diterima oleh PNS (semoga tidak terjadi lagi di negara kita tercinta Indonesia).

Mereka berpikir tidak apa-apa menyogok dengan jumlah uang yang besar untuk masuk PNS. Sangkaan mereka bahwa ketika jadi PNS, maka hidup mereka akan terjamin oleh negara sampai mati, bahkan ada pesangon untuk anak dan istri sepeninggalnya.

Memberikan sogok (suap) dan menerima sogokan (suap) adalah dosa besar dan mendapat laknat.

Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

“Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. [HR. Abu Daud, shahih]

Kerusakan di muka bumi ini terjadi karena merajalelanya sogok dan suap. Allah Ta’ala berfirman mengenai sifat orang Yahudi,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” [Al-Maidah : 42]

Maksud memakan yang haram (أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ) yaitu suap dan sogok. Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya,

أي : الحرام ، وهو الرشوة كما قاله ابن مسعود وغير واحد أي : ومن كانت هذه صفته كيف يطهر الله قلبه؟ وأنى يستجيب له

“Yaitu harta yang haram berupa sogok/suap sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud dan yang lainnya. Apabila ada orang yang bersifat dengan sifat ini, bagaimana Allah akan membersihkan hatinya? Bagaimana bisa doanya dikabulkan?” [Tafsir Ibnu Kastir]

Demikian juga Allah berfirman agar manusia jangan saling memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang haram. Termasuk dalam hal ini adalah harta dari suap/sogok.

Allah berfirman,

وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188).

⬛️ Bagaimana hukum gaji apabila dahulunya masuk kerja dengan cara menyogok atau menyuap?

Dalam hal ini dirinci, perlu dibedakan antara hukum masuk kerja dengan cara menyogok dan gaji yang didapatkan setelah dia bekerja.

Rinciannya sebagai berikut:

✅ Pertama:

Apabila ia tidak ahli dan tidak kompeten dalam pekerjaan tersebut, maka dia harus mengundurkan diri dan gajinya adalah haram

Bisa jadi dia menyogok karena tidak ahli/kompeten atau bukan bidangnya (tidak profesional) dalam pekerjaan tersebut, akan tetapi karena dia menyogok, maka ia diterima pada pekerjaan tersebut.

Dalam hal ini dia harus bertaubat dan segera mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut, karena dia telah melakukan kedzaliman bekerja bukan pada keahliannya. Sebuah amanah pekerjaan harus diserahkan pada ahlinya.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa`: 58)

✅ Kedua:

Apabila ia ahli dan kompeten dalam pekerjaan tersebut, maka ia harus bertaubat dari menyogoknya, berusaha memperbaiki diri dan gajinya adalah halal

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa gajinya halal apabila dia adalah seorang yang kompeten dan ahli hanya saja dia harus bertaubat dari perbuatan menyogok.

لا حرج إن شاء الله، عليه التوبة إلى الله مما جرى من الغش، وهو إذا كان قائما بالعمل كما ينبغي ، فلا حرج عليه من جهة كسبه؛ لكنه أخطأ في الغش السابق، وعليه التوبة إلى الله من ذلك

“Tidak mengapa (gajinya halal) –insyaallah- dan wajib baginya bertaubat karena telah melakukan sogok. Hal ini apabila ia mampu (kompeten) melakukan pekerjaan tersebut sebagaimana seharusnya. Tidak mengapa baginya dari sisi pekerjaannya (gajinya), akan tetapi dia telah salah dalam perbuatan sogok sebelumnya dan wajib baginya bertaubat kepada Allah.” [Majmu’ Fatawa 19/31]

Hendaknya ia benar-benar memperhatikan zakat hartanya untuk membersihkan hartanya. Allah Ta’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS. At-Taubah: 103)
dan hendaknya banyak bersedekah juga dari gajinya tersebut.

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

Khianat itu lawan dari amanat

🟥⬛️ Khianat itu lawan dari amanat.

Dalam Mufradat Alfazh Al-Qur’an disebutkan bahwa khianat adalah,

‎مخالفة الحق بنقض العهد في السر

“Menyelisihi kebenaran dengan membatalkan perjanjian diam-diam.”

Hakikat khianat menurut Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir adalah,

‎عمل من اؤتمن على شيء بضد ما اؤتمن لأجله، بدون علم صاحب الأمانة

Menjalankan berbeda dari yang diamanatkan, tanpa diketahui orang yang memberi amanat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎أَدِّ الْأَمَانَةَ إِلَى مَنْ ائْتَمَنَكَ ، وَلا تَخُنْ مَنْ خَانَكَ

“Tunaikanlah amanat pada yang memberikan amanat kepadamu. Janganlah berlaku khianat pada orang yang mengkhianatimu.” (HR. Tirmidzi, no. 1264; Abu Daud, no. 3535. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al-Albani menyatakan sahih hadits ini).

Hadits ini jadi dalil tentang perintah orang yang menunaikan amanat pada muamalat dan hal lainnya.

Akan tetapi, jika ada yang berkhianat kepada kita, tak perlu membalas dengan khianat.

Sumber: https://rumaysho.com/25972-bila-ada-yang-mengkhianati-kita-bagaimanakah-membalasnya.html

Semoga Allah beri hidayah.

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

Bendahara yang tidak amanah

🟦🟦 Bendahara Yang Tidak Amanah

Ustadz Wiwit Hardi Priyanto

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi gelar al-amin, artinya orang yang dapat dipercaya.

Beliau adalah orang yang sangat menunaikan amanah, bahkan orang kafir quraisy pun mempercayakan harta bendanya untuk dititipkan kepada beliau tatkala mereka pergi.

Amanah terbesar yang beliau emban adalah amanah risalah, yaitu menyampaikan wahyu Allah Ta’ala kepada umatnya.

Lawan dari amanah adalah khianat. Allah Ta’ala berfirman,

ياايها الذين امنوا لا تخونوا الله والرسول وتخونوا امنتكم وانتم تعلمون

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah kalian sedang kalian mengetahui” (QS: Al-Anfal: 27).

Model dari sikap khianat sangat banyak macamnya, salah satunya dalam hal pengelolaan uang yang sering dikaitkan dengan tugas seorang bendahara.

🟦 Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Pekerja

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖإِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“Seorang dari salah satu perempuan itu berkata: ‘Wahai Ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja, sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat (Al-Qawiy) dan orang yang dapat dipercaya (Al-Amin)’” (QS. Al Qashash: 26).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

“’Ifrit dari golongan Jin berkata: ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh aku adalah seorang kuat (qawiyyun) dan dapat dipercaya (amiinun)’” (QS. An-Naml: 39)

Dari dua ayat di atas, para ulama menyimpulkan dua hal yang harus dimiliki seorang pekerja. Yang pertama adalah al-qawiy, yaitu memiliki kekuatan dan yang kedua adalah al-amin, yaitu dapat dipercaya.

☑️ 1. Al-Qawiy

Syarat pertama adalah seorang itu harus memiliki kekuatan, yaitu kemampuan dalam melakukan sesuatu.

Hal ini berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya seorang yang ingin diangkat menjadi bendahara, maka dia harus memiliki kemampuan manajemen uang yang bagus, mencatat uang masuk dan keluar secara rapi, mampu memilah dan memilih uang mana saja yang berhak untuk digunakan.

☑️ 2. Al-Amin

Syarat kedua adalah orang tersebut amanah, artinya dapat dipercaya dalam melakukan tugasnya.

Hal ini berkaitan dengan urusan akhirat. Seseorang yang memiliki kemampuan manajemen yang baik, namun tidak amanah, maka bukanlah pekerja yang baik. Sebaliknya jika ia amanah namun tak cakap dalam bidang kerjanya, maka tidak termasuk pekerja yang baik pula.

Realitanya, menjumpai seseorang yang memiliki dua kriteria di atas pada zaman sekarang adalah hal yang tak mudah. Jika tidak terkumpul kedua tersebut, maka pilihlah salah satu yang dianggap paling mashlahat dan sesuai dengan tugasnya.

Sebagai contoh, seorang pemimpin perang lebih diutamakan orang yang memiliki kekuatan. Imam Ahmad ditanya manakah yang lebih pantas jadi pemimpin perang, orang yang kuat namun fajir, ataukah orang yang lemah namun shalih?

Beliau menjawab, “orang yang kuat namun fajir, karena kekuatan orang tersebut akan bermanfaat bagi orang banyak, sedangkan kefajirannya hanya merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang lemah namun shalih, kelemahannya akan merugikan orang banyak saat berperang, adapun keshalihannya hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri” (Ta’liq Siyasah Syar’iyyah hal. 47-48, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

Contoh lain adalah seorang bendahara, harus diutamakan orang yang memiliki sifat al-amin meski kemampuan manajemen keuangannya rendah, karena untuk kemampuan manajemen uang bisa dipelajari seiring berjalannya waktu.

Namun tetap yang lebih baik adalah jika terkumpul sifat al-qawiy dan al-amin.

🟦 Contoh Perbuatan Khianat Seorang Bendahara

✅ 1. Melakukan dusta

Seorang bendahara yang mencatat keluar masuknya uang, namun pencatatannya tidak sesuai dengan realita, maka telah melakukan dusta terhadap laporan keuangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ

“Sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

✅ 2. Memakai uang untuk keperluan pribadi

Hal ini jelas sebuah pelanggaran karena uang yang dipegang bendahara bukanlah uang pribadi, melainkan uang orang banyak yang dikelola oleh bendahara sebagai pengemban tugas.

✅ 3. Menyalurkan uang bukan pada haknya

Jika uang yang diberikan diamanahkan untuk kegiatan A, maka tidak boleh diselewengkan umtuk kegiatan B. Ini bukanlah sikap yang amanah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).

🟦 Ancaman Orang yang Berkhianat

☑️ 1. Pembalasan di hari kiamat kelak

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah sampai hari kiamat.” Ada yang bertanya, ‘apa contoh amanah yang telah di sia-siakan?’ Rasulullah menjawab, ‘Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah sampai kiamat terjadi’” (HR. Al Bukhari). Orang yang bukan ahlinya termasuk orang yang tidak memilki dua persyaratan pekerja yang telah disebutkan di atas.

☑️ 2. Tergolong orang munafik

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

“Tanda-tanda orang munafiq ada tiga, jika berbicara berdusta, bila berjanji tidak menepati janjinya, dan apabila diberi amanah mengkhianatinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika Terlanjur Mendapatkan Amanah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abdurrahman bin Samurah,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan, jika jabatan diberikan sedang kamu tak memintanya, maka engkau akan ditolong. Tapi jika engkau diberi jabatan karena memintanya, maka engkau tidak akan ditolong” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang yang telah diberikan jabatan, maka dia wajib bertakwa kepada Allah, menunaikan kewajibannya sesuai dengan kadar kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16).

Allah Ta’ala juga berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

“Allah tidak akan membebani seseorang di luar dari kesanggupannya “ (QS. Al-Baqarah: 286).

🟦 Keutamaan Orang yang Amanah

✅ 1. Termasuk orang-orang yang beriman

Ingatlah janji Allah tentang sifat-sifat orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al-Mukminun: 8).

✅ 2. Termasuk orang-orang yang bersedekah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْخَازِنُ الْمُسْلِمُ الأَمِينُ الَّذِى يُنْفِذُ – وَرُبَّمَا قَالَ يُعْطِى – مَا أُمِرَ بِهِ كَامِلاً مُوَفَّرًا طَيِّبٌ بِهِ نَفْسُهُ ، فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِى أُمِرَ لَهُ بِهِ ، أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ

”Bendahara muslim yang diberi amanah ketika memberi sesuai yang diperintahkan untuknya secara sempurna dan berniat baik, lalu ia menyerahkan harta tersebut pada orang yang ia ditunjuk menyerahkannya, maka keduanya (pemilik harta dan bendahara yang amanah tadi) termasuk dalam orang yang bersedekah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

🟦 Penutup

Seorang muslim yang berakhlak pada Allah dan manusia, wajib untuk menjaga amanah yang telah diberikan.

Jika amanah itu tidak ditunaikan, akan merusak perkara akhirat dan agama seseorang, jadilah hal ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Demikian pembahasan singkat yang dapat disampaian, semoga bermanfaat. Wallahul Muwaffiq.


Referensi: Kitab Siyasah Syar’iyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO

Prihatin

🟥 PRIHATIN…

Rasio aset perbankan syariah di Indonesia sejauh ini baru berada pada angka 6 %

Tertinggal dari Malaysia sebesar 29 % dan Brunei 57 %.

Penetrasi tertinggi masih dimiliki oleh Saudi Arabia dengan 63 % sedangkan Kuwait di angka 49 %.

Artinya sebagian besar dari 87 % umat muslim di Indonesia, sebagian masih memilih perbankan ribawi/ konvensional yang nyata keharamannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Riba itu ada 70 dosa. Yang paling ringan, seperti seorang anak BERZINA dengan IBUnya”. (HR. Ibnu Majah 2360 dan dishahihkan al-Albani).

Wal’ iyyadzubillah.

Bagaimana menumbuhkan perbankan syariah di negara yang mayoritasnya muslim ini?
Hanya kaum muslim Indonesia yang bisa melakukannya.

Kaum muslimin yang perduli pada agamanya, pada kegiatan ekonomi Islam dan pada perbankan yang di desain untuk mereka, perbankan syariah.

Dan bukan malah menumbuhkan praktek perbankan ribawi yang tidak diperuntukan bagi kaum muslimin.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga kita dari harta harta yang diharamkan oleh syariat kita. Aamiin. Barakallah Fiikum.

Komunitas Pengusaha Muslim

🟩 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟩 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟩 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DGVsrtGvQRlKUMM8JEb2NO