Kedokteran umum dan tibbun nabawi tidak bertentangan bahkan bisa dikombinasikan

🟦⬛️ Kedokteran Modern Dan Thibbun Nabawi Tidak Bertentangan, Bahkan Bisa DiKombinasikan

Ustadz dr Raehanul Bahraen Sp PK

Ulama syaikh Muhammad bin Shalih Al-Ustaimin rahimahullah berkata,

أرى أن يجمع الإنسان بين هذا وهذا ولا منافاة بأن يجمع بين الرقية الشرعية وكذلك الأدوية الحسية ولا مانع،

“Saya berpendapat sebaiknya manusia mengkombinasikan antara ini (ruqyah syar’iyyah) dengan itu (kedokteran modern). Tidak ada pertentangan antara ruqyah syar’iyyah dengan pengobatan fisik (obat yang diminum).

( Al-Irysad Ila Tahabibil Muslim hal. 14, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syamilah)

Berikut kisah nyata (insyaAllah karena kami kenal orangnya) semoga bisa menjadi Ibrah bagi kita:

▶️ 1. Tidak mau cuci darah hanya mau bekam saja

Ada seorang ustadz yang terkena penyakit gagal ginjal stadium akhir, beliau tidak mau cuci darah dengan kedokteran modern. Hanya mau bekam saja, hanya saja kondisi beliau terus memburuk. Mual-muntah yang sangat sering dan kaki semakin bengkak.

Akhirnya kami melakukan pendekatan kepada beliau. Kami jelaskan agar beliau mau cuci darah dan MENGKOMBINASIKAN dengan bekam.

Alhadulillah beliau menerima dan beliau akhirnya mengakui setelah cuci darah kondisi beliau jauh lebih enak dan nyaman. Beliau juga terus melanjutkan terapi bekam.

▶️ 2. Demam tinggi tidak mau minum obat hanya mau habbatus sauda dan madu saja

Seorang senior kami penuntut ilmu agama (sekarang beliau adalah pengasuh situs islam yang cukup terkenal), ia sudah terkena demam cukup tinggi selama tiga hari, ditambah batuk dan pilek.

Tetapi beliau tidak mau mengkonsumsi obat-obat kimia dari kedokteran barat, apalagi konsultasi ke dokter.

Beliau hanya mengkomsumsi madu dan habbatus sauda selama sakit, akan tetapi qaddarullah, Allah belum berkehendak memberikan kesembuhan kepadanya, kemudian ustadz kami menanyakan kepada beliau kenapa tidak periksa ke dokter.

Saya [penulis] juga sempat berdiskusi dengan beliau, saya berkata, mengapa tidak DIKOMBINASI saja pengobatannya minum obat kedokteran barat dengan minum madu dan habbatus sauda. Karena demam tinggi jika tidak diobati akan berdampak cukup serius bagi tubuh.

Dengan mengkonsumsi obat penurun panas sederhana seperti paracetamol maka demam tubuh bisa turun dan kondisi tubuh bisa lebih stabil untuk melakukan upaya peyembuhan sendiri melalui imunitas tubuh

Dan masih ada beberapa kisah yang lain, misalnya seseorang yang minum habbatus sauda dengan terus-menerus tanpa dosis dan saking semangatnya mungkin dosisnya agak banyak.

Tetapi qadarullah penyakit belum sembuh dan mengalami gagal ginjal.

Mohon maaf, kami tidak mengatakan gagal ginjlanya karena terlalu banyak minum habbatus sauda, tetapi perlu diketahui bahwa habbatus sauda MENGANDUNG ZAT KIMIA AKTIF seperti seperti thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY)

Semoga semakin banyak ilmuan muslim yang meneliti mengenai thibbun nabawi berserta penjelasan ulama terhadap Al-Quran dan hadits.

Sehingga cita-cita kita bersama thibbun nabawi menjadi rujukan pertama dalam pengobatan.

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/DTyf3gywHyWDbsbgQDRZZg

Selingkuh adalah dosa besar

⬛️⬛️ Selingkuh Adalah Dosa Besar

Ustadz Yulian Purnama, S.Kom.

Selingkuh Adalah Dosa Besar
Perselingkuhan adalah bencana yang menimpa banyak rumah tangga di sekitar kita, wal’iyadzubillah.

Karena jauhnya masyarakat kita dari ilmu agama, merebaknya maksiat dan banyak panutan buruk yang dicontoh oleh masyarakat.

Selingkuh yang kami maksud di sini adalah memiliki hubungan asmara dengan orang lain, padahal sudah memiliki pasangan dalam pernikahan yang sah.

Adapun selingkuh terhadap pacar, tidak perlu kita dibahas karena pacaran sendiri itu jelas keharamannya.

Sedangkan poligami, itu tidak disebut selingkuh. Karena poligami jelas disyariatkan dalam agama.

Selingkuh dalam definisi di atas, adalah dosa besar. Karena di dalamnya terkandung beberapa dosa besar. Di antaranya:

⬛️ Khianat

Suami atau istri yang selingkuh, ia telah berbuat khianat kepada pasangannya. Makna khianat dijelaskan ar Raghib al Asfahani rahimahullah:

الخيانة مخالفة الحق بنقض العهد في السر

“Khianat adalah melanggar hak dan merusak perjanjian secara sembunyi-sembunyi” (Al Mufradat, 305).

Dan khianat adalah dosa besar. Allah ta’ala berfirman:

وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

“Allah tidak akan memberi hidayah terhadap tipu daya orang-orang yang berkhianat” (QS. Yusuf: 52).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ المُنافِقِ ثَلاثٌ: إذا حَدَّثَ كَذَبَ، وإذا وعَدَ أخْلَفَ، وإذا اؤْتُمِنَ خانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia berdusta, jika berjanji ia ingkar janji, jika diberi amanah ia berkhianat” (HR. Al Bukhari 6095, Muslim no.59).

Mujahid bin Jabr Al Makki mengatakan:

المكر والخديعة والخيانة في النار، وليس من أخلاق المؤمن المكر ولا الخيانة

“Makar, penipuan dan khianat, pelakunya diancam neraka. Makar dan khianat bukanlah akhlak seorang Mukmin” (Makarimul Akhlak, karya Al Khara’ithi, hal. 72).

Perbuatan khianat juga akan menghilangkan keberkahan dalam keluarga, sehingga rumah tangga akan terasa suram, sesak dan sempit, walaupun perbuatan khianatnya tidak diketahui.

Anas bin Malik radhiyallahu’anhu mengatakan:

إذا كانت في البيت خيانة ذهبت منه البركة

“Ketika khianat terjadi di suatu rumah, akan hilanglah keberkahan” (Makarimul Akhlak, karya Al Khara’ithi, hal. 155).

⬛️ Al Ghisy (Curang)

Makna al ghisy (الغش) secara bahasa adalah:

الغِشُّ: كتم كل ما لو علمه المبتاع كرهه

“al ghisy adalah seorang penjual menyembunyikan sesuatu yang jika diketahui oleh pembeli maka ia akan membencinya” (Adz Dzakhirah lil Qarafi, 5/172).

Dalam bahasa kita, ghisy artinya curang; berlaku tidak jujur; main belakang. Dan orang yang selingkuh pasti akan melakukan ghisy.

Karena ia menyembunyikan hubungan gelap dari pasangannya yang jika pasangannya mengetahui, tentu ia akan membencinya. Padahal al ghisy adalah dosa besar.

Dari Ma’qal bin Yasar radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

ما مِن عبدٍ يسترعيه اللهُ رعيَّةً يموتُ يومَ يموتُ وهو غاشٌّ لرعيَّتِه إلَّا حرَّم اللهُ عليه الجنَّةَ

“Siapapun yang Allah takdirkan ia menjadi pemimpin bagi rakyatnya, kemudian ia mati dalam keadaan berbuat ghisy (tidak jujur) kepada rakyatnya. Pasti Allah akan haramkan ia surga” (HR. Al Bukhari no.7150, Muslim no.142).

Dan suami adalah pemimpin dan rakyatnya adalah keluarganya. Namun tentu saja bukan hanya suami yang dilarang berbuat ghisy, istri pun dilarang.

Berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلَاحَ ، فَلَيْسَ مِنَّا ، وَمَنْ غَشَّنَا ، فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa mengacungkan senjata kepada kami (kaum Muslimin), bukan bagian dari kami. Barangsiapa berbuat ghisy (curang) kepada kami (kaum Muslimin), bukan bagian dari kami” (HR. Muslim no. 147).

Dan ghisy itu tidak hanya terlarang dalam jual-beli, namun dalam semua perkara. Syekh Ibnu Baz menjelaskan:

الغش في جميع المواد حرام ومنكر؛ لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: ((من غشنا فليس منا)) وهذا لفظ عام، يعم الغشَّ في المعاملات، وفي النصيحة، والمشورة، وفي العلم، بجميع مواده الدينية والدنيوية

“Ghisy dalam semua perkara itu haram hukumnya dan merupakan perbuatan munkar. Berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa berbuat curang kepada kami (kaum Muslimin), bukan bagian dari kami”. Hadits ini lafaznya umum. Mencakup ghisy dalam semua muamalah, dalam nasehat, dalam musyawarah, dalam ilmu dan dalam semua perkara agama dan dunia” (Majmu’ Fatawa Bin Baz, 24/61).

⬛️ Dusta

Perbuatan selingkuh pasti tidak akan lepas dari dusta. Sedangkan dusta adalah dosa besar.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

“Sesungguhnya Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang yang melebihi batas lagi pendusta” (QS. Ghafir: 28).

Dan dusta itu akan menyeret seseorang ke dalam neraka. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ؛ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ يَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتب عند الله كذاباً

“Wajib bagi kalian untuk berlaku jujur. Karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa jujur, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai Shiddiq (orang yang sangat jujur). Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada perbuatan fajir (maksiat) dan perbuatan fajir membawa ke neraka. Seseorang yang sering berdusta, akan di tulis di sisi Allah sebagai kadzab (orang yang sangat pendusta)” (HR. Muslim no. 2607).

⬛️ Selingkuh Membawa Kepada Banyak Maksiat

Perbuatan selingkuh, selain terjerumus dalam dosa-dosa besar di atas, juga akan membawa kepada banyak maksiat lainnya. Di antaranya:

▶️ Zina

Perbuatan selingkuh terkadang membawa kepada perbuatan zina. Padahal Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra’: 32).

▶️ Berduaan dengan lawan jenis yang non mahram

Perbuatan selingkuh terkadang diwarnai perbuatan berdua-duaan dengan pasangan selingkuhnya, dan ini adalah perbuatan maksiat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

▶️ Bersentuhan dengan lawan jenis yang non mahram

Perbuatan selingkuh biasanya juga diwarnai berpegangan tangan dan bersentuhan dengan pasangan selingkuhnya, dan ini juga perbuatan maksiat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahramnya)” (HR. Ar Ruyani dalam Musnad-nya, 2/227, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 1/447).

▶️ Safar dengan lawan jenis yang non mahram

Orang yang berselingkuh terkadang sampai melakukan perjalanan jauh (safar) dengan pasangan selingkuhnya. Padahal Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

لا تُسافِرُ المرأةُ ثلاثةَ أيامٍ إلا مع ذِي مَحْرَمٍ

“seorang wanita tidak boleh bersafar tiga hari kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari 1086, Muslim 1338)

Beliau juga bersabda:

لا يخلوَنَّ رجلٌ بامرأةٍ إلا ومعها ذو محرمٍ . ولا تسافرُ المرأةُ إلا مع ذي محرمٍ

“Tidak boleh seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahramnya, dan tidak boleh seorang wanita bersafar kecuali bersama mahramnya” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341).

▶️ Zina hati

Orang yang berselingkuh hampir bisa dipastikan ia melakukan zina hati, walaupun tidak melakukan zina badan. Zina hati adalah membayangkan, mengangankan dan menginginkan orang yang tidak halal baginya.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

إن اللهَ كتب على ابنِ آدمَ حظَّه من الزنا ، أدرك ذلك لا محالةَ ، فزنا العينِ النظرُ ، وزنا اللسانِ المنطقُ ، والنفسُ تتمنى وتشتهي ، والفرجُ يصدقُ ذلك كلَّه أو يكذبُه

“sesungguhnya Allah telah menakdirkan bahwa pada setiap anak Adam memiliki bagian dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari. Zinanya mata adalah penglihatan, zinanya lisan adalah ucapan, sedangkan nafsu (zina hati) adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mengingkarinya” (HR. Al Bukhari no. 6243).

Tabdzir (mengeluarkan harta pada perkara yang tidak layak)

Orang berselingkuh akan mengeluarkan harta untuk melakukan selingkuh, padahal harta tersebut tidak layak dikeluarkan untuk selingkuh.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Sesungguhnya orang yang melakukan tabdzir itu adalah saudaranya setan” (QS. Al Isra: 27).

Imam Asy Syafi’i rahimahullah menyatakan,

التبذير إنفاق المال في غير حقِّه

“At Tabzir artinya membelanjakan harta tidak sesuai dengan hak (peruntukan) harta tersebut” (Al Jami li Ahkam Al Qur’an, 10/247).

▶️ Menyia-nyiakan keluarga

Orang yang berselingkuh, padahal ia sudah memiliki keluarga, biasanya akan membuat ia enggan kepada keluarganya sampai akhirnya menelantarkan keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرء إثما أن يضيع من يقوت

“Cukuplah seseorang itu berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Daud no.1692. Al Hakim berkata bahwa sanad hadits ini shahih, dan disetujui oleh Adz Dzahabi).

Dan perbuatan maksiat lainnya.

Maka jelas selingkuh itu perbuatan yang sangat rusak, maksiat di atas maksiat. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan rusak ini.

Semoga Allah memberi taufik.

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/BEeDi1dTJBm9NyGvCtazlU

Sikap umat muslim terhadap pandemi

🟥⬛️ Sikap umat muslim terhadap Pandemi

Ustadz dr Raehanul Baharen Sp PK.
(Dokter spesialis patologi klinik sekaligus Alumni Ma’had Al ‘ilmi Yogyakarta, Pembina Yayasan Indonesia Bertauhid)

Rangkuman Kajian Online Islamadina
1 Safar 1443H / 9 Sept 2021

Bismillahirrahmanirrahim.

⬛️ Lock down merupakan ajaran syariat islam. Dan IDI telah sejak awal Memberi masukan kepada pemerintah untuk melakukan lockdown. Yang belakangan baru di ikuti.

Berikut adalah dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa Islam juga mengakui adanya wabah penyakit menular.

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”.2

Dan Sabda beliau,

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.3

Maka kompromi hadits ini:maksud dari hadits pertama yang menafikan penyakit menular adalah penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya, tetapi menular dengan kehendak dan takdir Allah. Berikut keterangan dari Al-Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi):

▶️ Referensi: https://muslim.or.id/14922-tidak-ada-wabah-penyakit-menular-dalam-pandangan-islam.html

⬛️ Mencegah virus corona kita bisa menempuh sebab syar’i dan sebab kauniy sebagaimana dalam pelajar tauhid
✅ Sebab syar’i yaitu sebab yang ditetapkan oleh sayriat, misalnya:

-Doa-doa untuk mencegah terkena penyakit dan bala’, misalnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk/mengerikan lainnya.”

-Doa dzikir pagi dan petang

-Memakan kurwa ajwa tujuh butir pada pagi hari

-Menggunakan thibbun nabawi semisal madu dan habbatus sauda, tetapi perlu diperhatikan bahwa konsep thibbun nabawi itu perlu dosis dan indikasi, tidak asal-asalan minum tanpa dosis. Berapa dosisnya? Ini perlu ilmu dari ahli thibbun nabawi yang telah meneliti dan berpengalaman, tentu penelitiannya tidak bisa cepat

-Minum air zam-zam dan berdoa agar dijauhkan dari wabah

-Berusaha mendakwahkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, karena wabah penyakit disebabkan dosa manusia dan tersebarnya fashiyah dan zina. Amar ma’ruf nahi mungkar ini dimulai dari diri sendiri dulu, keluarga kemudian masyarakat dengan cara yang sesuai syariat

✅ Sebab kauniy yaitu hukum alam dan sunnatullah suatu kejadian alam, misalnya melaksanakan saran ahli dari bidang kesehatan dan para thabib ahli herbal

Saran kesehatan misalnya: rajin cuci tangan yang benar secara medis dan perhatikan kapan saja waktu cuci tangan yang dianjurkan, jaga stamina dan kesehatan dgn olahraga, makan buah dan sayur, istirahat cukup

▶️ Referensi: https://muslimafiyah.com/pencegahan-virus-corona-secara-syariat-dan-medis.html

⬛️ Vaksin merupakan pemuan para ulama Muslim.

Fakta ini membantah HOAX yang disebarkan oleh oknum tertentu yang mengatakan vaksin adalah konspirasi yahudi dan Amerika, program depopulasi umat dan hanya untuk umat Islam saja. Hal ini tidak benar.

Ilmuan Islam menyumbang penemuan dalam vaksin, bahkan secara umum di ilmuan Islam yang meletakkan dasar-dasar pengobatan yang menjadi acuan kedokteran modern sekarang. Anggapan bahwa kedokteran modern adalah monopoli oleh barat tentu tidak benar (apalagi dibawa-bawa kata-kata pengobatan dari “negara kafir” agar kaum muslmin anti).

▶️ Referensi: https://muslimafiyah.com/temuan-vaksin-oleh-ilmuan-islam.html

⬛️ Di antara hikmah terjadinya wabah covid19 adalah:

  1. Bumi menjadi bersih kembali dengan berkurangnya polusi dan lapisan ozon kembali menutup dengan sempurna. Mungkin wabah ini adalah cara Allah mengistirahatkan bumi dari eksploitasi manusia tanpa batas
  2. Manusia lebih punya waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan anak-anak, yang selama ini waktu untuk keluarga itu sulit terwujudkan
  3. Menyadarkan beberapa orang bahwa pekerjaan itu bisa dilakukan jarak jauh dan cukup efektif, tidak harus berkumpul terus dan rapat terus
  4. Muncul relawan-relawan yang melakukan bakti sosial bersama-sama melawan wabah ini.

Hikmah lainnya yang cukup besar adalah kesempatan “mendapatkan pahala mati syahid”.

Pahala mati syahid bukanlah pahala yang kecil, tetapi pahala yang sangat besar. Kapan lagi ada kesempatan mendapatkan dapat pahala mati syahid?

Bisa jadi kita tidak menemukan fase peperangan jihad yang sesungguhnya dan sesuai syariat untuk mendapatkan pahala mati syahid.

Mereka yang meninggal karena wabah akan mendapatkan pahala mati syahid.

َوَمْنَماَتِفالَّطاُعوِنفَهَُو َشهِيدٌ

“Barang siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid ” [HR. Muslim]

Maksud hadits di atas bukanlah mati syahid sebagaimana mati syahid di medan peperangan yang jenazahnya tidak dimandikan, tidak dikafankan lalu dishalatkan kemudian langsung dikuburkan. Maksudnya adalah “mendapatkan pahala mati syahid” sehingga jenazahnya tetap dimandikan, dikafankan, dishalatkan dan dikuburkan.

Berita gembira bahwa tidak harus meninggal untuk mendapatkan pahala mati syahid.

Bagi suatu penduduk yang terkena wabah, lalu mereka bersabar tetap tinggal di daerah tersebut dengan risiko tertular juga, maka mereka mendapatkan pahala mati syahid meskipun tidak meninggal.

Karena mereka menerapkan hadits untuk tidak keluar dari daerah wabah dan tetap tinggal untuk merawat yang sakit di daerah wabah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الَّطاُعْوُن َشهَاَدةٌ ِل ُِّك ُمْسِل ٍ

“Tha’un adalah syahadah bagi setiap muslim.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Bagi yang tidak keluar dari daerah wabah dan bersabar, mereka juga ikut mendapatkan pahala mati syahid meskipun tidak meninggal.

Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan,

“Pahala mati syahid hanyalah tercatat bagi orang yang tidak keluar dari daerah wabah tha- un, dan ia tetap tinggal karena mencari pahala dari Allah, berharap janji Allah, menyadari bahwa jika wabah tersebut menimpanya atau terhindar darinya semuanya dengan takdir Allah dan ia tidak mengeluh jika menimpanya” [Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra 4/14].

▶️ Referensi: https://indonesiabertauhid.com/wp-content/uploads/2020/06/Hikmah-Di-Balik-Musibah-Wabah-Covid19.pdf

⬛️ Ada banyak pendapat ulama dan fatwa yang membolehkan untuk tidak melaksanakan shalat berjamaah dan shalat jumat apabila ada wabah yang cepat menular di suatu tempat, bahkan sejarahnya disebutkan oleh Az-Zahabi bahwa dahulu masjid di Mesir dan Andulusia pernah ditutup dan dikosongkan karena wabah pada tahun 448 H.

▶️ Referensi: https://muslimafiyah.com/shalat-berjamaah-dan-jumat-ketika-ada-wabah.html

⬛️ Sejarah Islam dahulu menjelaskan bahwa masjid dahulu pernah ditutup karena ada wabah. Ini berarti tidak ada shalat berjamaah dan shalat jumat.

Adz-Zahabi menceritakan,
وكان القحط عظيما بمصر وبالأندلس وما عهد قحط ولا وباء مثله بقرطبة حتى بقيت المساجد مغلقة بلا مصل وسمي عام الجوع الكبير

“Dahulu terjadi musim paceklik besar-besaran di Mesir dan Andalus, kemudian terjadi juga paceklik dan wabah di Qordoba sehingga masjid-masjid ditutup dan tidak ada orang yang shalat. Tahun itu dinamakan tahun kelaparan besar.” [Siyar A’lam An-Nubala 18/311]

▶️ Referensi: https://muslim.or.id/55384-masjid-ditutup-karena-wabah.html

⬛️ Terkait dengan shalat dengan shaf tenggang, ada perbedaan pendapat dan fatwa ulama kontemporer di zaman ini. Ada ulama yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.

Dalam hal ini kita berlapang-lapang menerima perbedaan pendapat ini. Dasar perbedaan mereka yaitu

  1. Apakah merapatkan shaf hukumnya sunnah atau wajib?

Apabila sunnah, maka hal yang disunnahkan boleh ditinggalkan. Terlebih ada hajat dan udzur

  1. Apabila wajib, bolehkan yang wajib ini gugur dengannya udzur?

Ulama yang membolehkan menyatakan yang wajib bisa gugur apabila ada bahaya, sebagaimana shalat di masjidil haram dan masjid Nabawi karena sangat luas (dan ini udzur), terkadang shaf banyak yang tidak menyambung, tapi masih dianggap shalat berjamaah dan bagian dari shalat berjamaah

Terlebih udzurnya adalah bahaya, dalam hadits:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain. (HR. Ahmad)

▶️ Referensi: https://muslim.or.id/56359-hukum-shalat-berjamaah-dengan-shaf-renggang.html

⬛️ Ahli kesehatan mengatakan vaksin aman dan bermanfaat, ulama dan MUI juga mengatakan aman dan bermanfaat (bahkan sampai membolehkan yang haram karena darurat).

Nah kalau ahli kesehatan dan ulama mengatakan vaksin aman dan bermanfaat, hendaknya yang bukan ahli agama dan kesehatan tidak menyebarkan info valid alias hoax tanpa ilmu bahwa vaksin itu berbahaya, mengandung bahan bahaya, konspirasi yahudi, amerika dan komunis mengancurkan Islam dll.

Mengenai Vaksin astrazeneca menggunakan tripsin babi yang berfungsi sebagai katalisator.

Prinsip katalisator itu “bersinggungan” lalu dibersihkan dan tidak ada pada hasil akhir, sehingga vaksin astrazeneca TIDAK MENGANDUNG BABI.

Pada label vaksin ada dua tulisan keterangan, yaitu

Pertama: “Bersinggungan dengan bahan dari babi (ini maksudnya enzim katalisator)

Kedua: “Mengandung babi” (misalnya menggunakan gelatin dari babi)

Dua keterangan ini perlu dibedakan dan sebagian media sering salah memberitakan

Mayoritas dewan fatwa dunia dan internasional berfatwa bahwa vaksin dengan pronsip katalisator dari babi itu MUBAH karena sudah tidak ada lagi pada hasil akhir dengan menggunakan prinsip istihalah dan istihlak.

Vaksin astrazeneca SUDAH dipakai oleh beberapa negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair, dan Maroko.

Tentu mereka punya ulama dan dewan fatwa masing-masing yang membahas halal-haram vaksin

▶️ Referensi: https://muslimafiyah.com/terkait-vaksin-astrazeneca-dan-fatwa-haram-mui.html

Dirangkum oleh Abu ISLAMADINA

“Jika ada kesalahan dalam materi maka hal itu berasal dari perangkum dan bukan dari materi kajian atau ustadz pemberi materi”

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/BEeDi1dTJBm9NyGvCtazlU

Jangan ceritakan dosa zina sampai mati

⬜️⬛️ Jangan Ceritakan Dosa Zina Kepada Siapapun Sampai Mati!!

Ustadz Ammi Nur Baits

Bismillahirrahmanirrahim.

Saya telah melakukan dosa zina sewaktu kecil, tapi saya tidak tahu itu dosa tpi saat bersamaan saya takut ketahuan, saya saat ini ingin menikah tapi saya tidak mau mengatakan dosa zina tersebut kepada calon suami saya karena ini bersangkutan nanti dengan keluarga besar, bagaimana saya harus bersikap secara islam?

✅ Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Bukan syarat taubat dari zina harus menceritakan dan melaporkan dosa zina itu kepada orang lain, siapapun dia. Baik calon suaminya, orang tuanya, saudaranya, ustadnya, gurunya, bahkan termasuk pemimpin yang ada di negerinya.

Buraidah bin Hashib Radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita,

Suatun ketika Maiz bin Malik datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي

“Ya Rasulullah, sucikan aku…”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ

“Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”

Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan,

يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي

“Ya Rasulullah, sucikan aku…”

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ

“Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”

Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan yang sama dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama sampai 3 kali. Hingga di kedatangan yang keempat, baru Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pengaduan Maiz. (HR. Muslim 1695 dan Nasai dalam al-Kubro 7125).

Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa BUKAN syarat taubat harus mengaku. Karena inti dari taubat adalah memohon ampun kepada Allah karena menyesali perbuatannya. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan sebisa mungkin dirahasiakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ

“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

ويؤخذ من قضيته – أي : ماعز عندما أقرَّ بالزنى – أنه يستحب لمن وقع في مثل قضيته أن يتوب إلى الله تعالى ويستر نفسه ولا يذكر ذلك لأحدٍ . . .

Berdasarkan kasus ini – Sahabat Maiz yang mengaku berzina – menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus ke dalam kasus zina untuk bertaubat kepada Allah – Ta’ala – dan menutupi kesalahan dirinya, dan tidak menceritakannya kepada siapapun.

Lalu beliau mengatakan,

وبهذا جزم الشافعي رضي الله عنه فقال : أُحبُّ لمن أصاب ذنباً فستره الله عليه أن يستره على نفسه ويتوب..

Dan ini juga yang ditegaskan as-Syafii Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

Saya menyukai bagi orang yang pernah melakukan perbuata dosa, lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya dan serius bertaubat kepada Allah… (Fathul Bari, 12/124).

Orang lain tidak memiliki kepentingan dengan maksiat kita yang sifatnya pribadi. Sehingga sekalipun dia tidak tahu, tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi kehidupannya. Sebaliknya, ketika dia tahu, tidak akan semakin memperbaiki dirinya. Apalagi ketika maksiat itu dilakukan saat belum baligh, yang tidak ada nilai dosa sama sekali.

Karena itu, bertaubatlah dan jangan ceritakan dosa zina kepada siapapun sampai mati!!

Demikian. Allahu a’lam.

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/5rDJglYIVeGKmZ4yNif7Tp

Sholat ba’diyah jum’at, 2 atau 4 rakaat

🟩⬛️ Shalat Ba’diyah Jum’at: Dua atau Empat Raka’at?

Ustadz dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D.

Berkaitan dengan shalat Jum’at, shalat Jum’at tidaklah memiliki qabliyah rawatib.

Oleh karena itu, jamaah shalat Jum’at boleh shalat berapa pun raka’at yang dia kehendaki, tidak ada batasan khusus.

Adapun setelahnya, maka terdapat beberapa hadits yang menjelaskan shalat ba’diyah Jum’at yang sekilas tampaknya bertentangan.

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

“Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka shalatlah setelahnya sebanyak empat raka’at.” (HR. Muslim no. 881)

Dalam hadits di atas, terdapat perintah lisan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendirikan shalat ba’diyah Jum’at sebanyak empat raka’at.

Adapun hadits lain yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan tentang contoh perbuatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي قَبْلَ الظُّهْرِ رَكْعَتَيْنِ، وَبَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ، وَبَعْدَ المَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ فِي بَيْتِهِ، وَبَعْدَ العِشَاءِ رَكْعَتَيْنِ، وَكَانَ لاَ يُصَلِّي بَعْدَ الجُمُعَةِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dan dua rakaat sesudah ‘isya. Dan beliau tidak mengerjakan shalat setelah shalat Jum’at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari no. 937)

Di hadits yang lain, Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menceritakan,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الظُّهْرِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَهَا سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الْعِشَاءِ سَجْدَتَيْنِ، وَبَعْدَ الْجُمُعَةِ سَجْدَتَيْنِ، فَأَمَّا الْمَغْرِبُ، وَالْعِشَاءُ، وَالْجُمُعَةُ، فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ

“Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua raka’at sebelum zhuhur dan dua raka’at setelahnya, dan dua raka’at setelah maghrib dan dua raka’at setelah isya`, dan dua raka’at setelah shalat Jum’at. Adapun (sunnah) maghrib, ‘isya, dan jumat, aku shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya.” (HR. Muslim no. 729)

Dari hadits di atas, yang tampak dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau shalat ba’diyah Jum’at dua raka’at di rumah.

Berkaitan dengan hadits-hadits tersebut, para ulama berbeda pandangan menjadi tiga pendapat [1].

▶️ 1. Pendapat pertama, mereka mendahulukan ucapan (perintah lisan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga membuat kesimpulan bahwa yang dianjurkan adalah shalat ba’diyah Jum’at itu sebanyak empat raka’at.

▶️ 2. Pendapat ke dua, mereka yang mengkompromikan antara perintah lisan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sehingga membuat kesimpulan bahwa shalat ba’diyah Jum’at itu enam raka’at, empat raka’at diambil dari perintah lisan, sedangkan dua raka’at dari contoh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

▶️ 3. Pendapat ke tiga, mereka yang mengkompromikan antara perintah lisan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dengan kesimpulan yang berbeda.

Jika shalat di rumah, maka dua raka’at, karena kita tidak boleh menambah lebih dari yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun jika shalat di masjid, maka shalat empat raka’at. Ini adalah pendapat yang dinukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Setelah menjelaskan tiga perbedaan ulama di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Adapun pendapat yang aku pilih adalah shalat empat raka’at, baik shalat di rumah, ataupun di masjid. Hal ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian shalat Jum’at, maka shalatlah setelahnya sebanyak empat raka’at.”

Adapun perbuatan beliau yang mendirikan shalat dua raka’at, bisa jadi hal itu karena kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan kita dibebani untuk menjalankan perintah lisan beliau dan diperintahkan untuk meneladani perbuatan beliau. Akan tetapi, selama sampai kepada kita perintah lisan, maka tidak boleh tidak wajib dilaksanakan.” (Syarh ‘Umdatul Ahkaam, 2: 339)

Mengklaim adanya kemungkinan bahwa shalat ba’diyah Jum’at dua raka’at itu termasuk khushusiyyah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (alias tidak berlaku bagi umatnya), tentu perlu ditinjau ulang.

Karena berdasarkan riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas, Ibnu ‘Umar ikut shalat dua raka’at bersama beliau di rumahnya. Jika ini termasuk khushushiyyah Nabi, tentu Ibnu ‘Umar tidak ikut shalat sebanyak dua raka’at.

Oleh karena itu, wallahu Ta’ala a’alam, yang lebih tepat bahwa perkara ini adalah perkara yang longgar.

Jika menghendaki, seseorang boleh shalat dua raka’at; dan jika menghendaki, dia bisa shalat empat raka’at.

Syaikh Abu Malik hafidzahullah berkata,

“Dianjurkan –setelah shalat Jum’at- untuk shalat (ba’diyah) sebanyak dua atau empat raka’at, dan lebih afdhal dikerjakan di rumah.” (Shahih Fiqh Sunnah, 1: 593)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah berkata,

أما بعدها فلها سنة راتبة أقلها ركعتان وأكثرها أربع

“Adapun setelah shalat Jum’at, maka shalat Jum’at memiliki rawatib ba’diyyah, paling sedikit dua raka’at, dan paling banyak empat raka’at.” (Majmu’ Fataawa Ibnu Baaz, 12: 387).

@Rumah Lendah, 24 Dzulqa’dah 1440/21 Juli 2019

🟥 Catatan kaki:

[1] Syarh ‘Umdatul Ahkaam, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala, 2: 338 (penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyyah, cetakan pertama tahun 1437 H).

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/5rDJglYIVeGKmZ4yNif7Tp

Doa meminta hidayah dan istiqomah di atas kebenaran

🟩⬛️ Doa Meminta Hidayah dan Istiqamah di Atas Kebenaran.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Doa ini bagus sekali diamalkan agar kita terus mendapatkan petunjuk dan keistiqamahan.

Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa

✅ Hadits #1473

وَعَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : قُلْ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي

وَفِي رِوَايَةٍ : (( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ )) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Ucapkanlah:

“ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII”
(artinya: Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran).”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD”
(artinya: Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2725]

⬛️ Keterangan Doa

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa meminta hidayah (as-alukal huda) di sini adalah hidayah berupa petunjuk dan bimbingan, berarti berupa pengajaran.

Sedangkan meminta as-sadaad adalah meminta istiqamah dan pertengahan dalam berbagai urusan. Maksudnya kita meminta kepada Allah agar diberi taufik senantiasa berada dalam kebenaran untuk setiap perkara.

Intinya doa ini berisi permintaan yang sangat penting yang dengan keduanya bila diperoleh akan mendapatkan keburuntungan dan kebahagiaan, yaitu yang diminta dalam doa adalah al-huda (hidayah petunjuk) dan as-sadaad (istiqamah di atas kebenaran).

Meminta kepada Allah petunjuk berarti kita meminta agar diberi petunjuk kebenaran secara global dan terperinci, juga diberi taufik untuk mengikuti kebenaran tersebut secara lahir dan batin.

Adapun meminta kepada Allah as-sadaad berarti meminta kepada Allah taufik dan istiqamah dalam segala perkara, agar terus berada dalam kebenaran. Jalan istiqamah ini dalam perkataan, perbuatan, dan i’tiqod (keyakinan).

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْۗوَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71).

Bagi yang memperoleh as-sadaad akan mendapatkan dua faedah yaitu, amalan akan diperbaiki (shalahul a’mal) dan dosa-dosa akan diampuni (maghfirotudz dzunuub).

Dari Abu Burdah bin Abu Musa, bahwa ‘Ali berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَلِ اللهَ تَعَالَى الْهُدَى، وَالسَّدَادَ ، وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ، وَاذْكُرْ بِالسَّدَادِ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ

“Mintalah kepada Allah hidayah (petunjuk) dan istiqamah di atas kebenaran. Sebutlah al-huda (petunjuk), maka engkau akan mendapatkan hidayah petunjuk. Sebutlah as-sadaad, maka arah panahmu akan lurus sampai tujuan.” (HR. Ahmad, 2:91; Al-Hakim, 4:268; Al-Bazar, 2:119. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Al-Jami’, no. 3046)

⬛️ Faedah Hadits

Orang yang berdoa hendaklah semangat meminta kepada Allah hidayah dan istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Hendaklah setiap orang meminta tolong kepada Allah dalam setiap urusannya, termasuk dalam meminta hidayah dan istiqamah. Tak boleh kita bergantung pada diri kita sendiri yang lemah.

Doa dalam hadits di atas bisa dirangkai menjadi:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي ، وَسَدِّدْنِي,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالسَّدَادَ

“ALLOHUMMAH-DINII WA SADDIDNII. ALLOHUMMA INNI AS-ALUKAL HUDAA WAS SADAAD”.

“Ya Allah, berilah aku hidayah dan berilah aku kebenaran. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu hidayah dan kebenaran.”

🟥 Referensi:

Bahjah An-Nazhirin Syarh Riyadh Ash-Shalihin. Cetakan pertama, Tahun 1430 H. Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.
https://kalemtayeb.com/safahat/item/3099

Disusun di Garuda, 28 Rajab 1440 H (4 April 2019, Kamis pagi)

Jenis-jenis perbuatan dzalim

🟥⬛️ Jenis-Jenis Perbuatan Zalim.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan: “Zalim ada dua macam: pertama, kezaliman terkait dengan hak Allah ‘Azza wa Jalla, kedua, kezaliman terkait dengan hak hamba.

✅ Kezaliman terhadap hak Allah

Kezaliman yang terbesar yang terkait dengan hak Allah adalah kesyirikan. Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya: ‘dosa apa yang paling besar?’, beliau menjawab:

أن تجعل لله نداً وهو خلقك

‘Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu’ (HR. Bukhari no. 4477, Muslim no. 86).

lalu tingkatan setelahnya adalah kezaliman berupa dosa-dosa besar, kemudian setelahnya adalah dosa-dosa kecil.

✅ Kezaliman terhadap hak hamba

Adapun kezaliman yang terkait hak hamba, berporos pada tiga hal, yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam khutbahnya ketika haji Wada’, beliau bersabda:

إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم حرام عليكم، كحرمة يومكم هذا، في شهركم هذا، في بلدكم هذا

‘Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, semuanya haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini, di tanah kalian ini’ (HR. Bukhari no. 67, Muslim no. 1679).

▶️ 1. Kezaliman terhadap jiwa

Kezaliman terhadap jiwa seseorang itulah yang dimaksud kezaliman dalam darah, yaitu seseorang berbuat melebihi batas kepada sesama Muslim dengan menumpahkan darahnya, melukainya, atau semisal itu.

▶️ 2. Kezaliman terhadap harta

Kezaliman terhadap harta yaitu seseorang berbuat melebihi batas terhadap sesama Muslim dalam masalah harta, baik berupa enggan mengeluarkan yang wajib ia keluarkan, atau dengan melakukan hal yang haram dalam masalah harta, atau berupa meninggalkan hal wajib ia lakukan, atau juga berupa melakukan sesuatu yang diharamkan terhadap harta orang lain.

▶️ 3. Kezaliman terhadap kehormatan

Adapun kezaliman terhadap kehormatan orang lain itu mencakup berbuat melebihi batas terhadap sesama Muslim dengan melakukan zina, atau liwath (sodomi), qodzaf, dan semisalnya. Semua jenis kezaliman ini haram hukumnya” (Syarah Riyadus Shalihin, 2/485).

Dan barangsiapa yang melakukan dua jenis kezaliman di atas, baik zalim terhadap hak Allah maupun zalim terhadap hak hamba, maka ia telah melakukan kezaliman kepada dirinya sendiri.

Karena ia adalah makhluk yang dicipta untuk beribadah kepada-Nya, dengan menaati segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Maka dengan melanggar hal itu, ia tepat menempatkan dirinya pada tempat yang tidak sesuai dan inilah kezaliman. Oleh karena itu Allah Ta’ala menyebutkan hamba-Nya yang bermaksiat dengan “menzalimi dirinya sendiri”,

مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ

“di antara hamba Kami ada yang menzalimi dirinya sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang berlomba berbuat kebaikan” (QS. Fathir: 32).

As Sa’di mengatakan: “ada yang menzalimi dirinya, yaitu dengan maksiat” (Taisir Karimirrahman).

⬛️ Syirik Adalah Kezaliman Terbesar

Ketahuilah bahwa kezaliman terbesar itu bukanlah kezaliman dari penguasa, bukan kezaliman dari diktator yang keji, bukan kezaliman dari kaum kapitalis, namun kezaliman terbesar di dunia ini adalah mempersembahkan ibadah kepada selain Allah, atau perbuatan syirik.

Kezaliman mana lagi yang lebih besar dari menyekutukan Rabb yang telah menciptakan kita, memberi segala nikmat dan keselamatan selama ini?

Oleh karena itu ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ditanya: ‘dosa apa yang paling besar’, beliau menjawab:

أن تجعل لله نداً وهو خلقك

‘Engkau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu’

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezaliman yang terbesar” (QS. Luqman: 13).

As Sa’di menjelaskan ayat ini, “alasan mengapa syirik adalah kezaliman tersbesar adalah, bahwasanya tidak ada yang lebih parah dan lebih buruk dari orang yang menyetarakan makhluk yang terbuat dari tanah dengan Sang Pemilik semua makhluk, menyetarakan makhluk yang tidak memiliki sesuatu apapun dengan Dzat yang memiliki semuanya, menyetarakan makhluk yang serba kurang dan fakir dari segala sisinya dengan Rabb yang sempurna dan Maha Kaya dari segala sisinya, menyetarakan makhluk yang tidak bisa memberikan satu nikmat pun dengan Dzat yang memberikan semua nikmat dalam agamanya, dunianya dan akhiratnya.

Padahal hati orang tersebut beserta raganya, adalah dari Allah. Dan tidaklah keburukan tercegah darinya, kecuali karena Allah. Maka adakah kezaliman yang lebih besar dari ini?” (Taisir Karimirrahman).

Maka saudaraku, jauhilah perbuatan syirik! jauhilah semua bentuk perbuatan zalim! Berlaku adil lah dalam segala sesuatu.

Semoga Allah memberi taufiq. Wallahu waliyyu dzalika wal qaadiru ‘alaihi.

Akhukum fillah,

Penulis: Yulian Purnama

🟥 Sumber: https://muslim.or.id/53105-janganlah-berbuat-zalim.html

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/5rDJglYIVeGKmZ4yNif7Tp

Bagi aktivis dakwah, setan lebih suka merusak akhlaknya daripada akidahnya

🟨⬛️ BAGI AKTIVIS DAKWAH SETAN LEBIH SUKA MERUSAK AKHLAKNYA, JARANG AQIDAHNYA

Ustadz dr Raehanul Bahraen

Semoga kita para penuntut ilmu tidak lupa memperhatikan masalah adab dan akhlak, serta menjaga lisan dari kata-kata yang tidak baik, mengumpat, mencaci dan menggibah apalagi di depan umum seperti mimbar dan media sosial.

Karena sudah mulai muncul (semoga sedikit) mereka yang mengaku penuntut ilmu bahkan
ustadz, tetapi akhlak dan lisannya sangat kasar dan tidak pantas dinisbatkan kepada ajaran Islam.

Padahal adab dan akhlak adalah cerminan iman dan itulah agamanya.

Jika seseorang mengalahkan engkau dalam akhlak, maka ia telah mengalahkan dalam agama. Bukan hanya ilmu yang menjadi patokan saja.

Kaum muslimin hendaknya hati-hati dengan mereka yang mengaku ustadz atau ulama tetapi akhlaknya rusak.

Dan hati-hati juga terjerumus
dalam berkata-kata dan berkomentar di dunia maya dan media sosial yang sangat mudah, jaga lisan serta sibuklah melihat aib kita yang ternyata sangat banyak dan Allah yang Maha Pemurah
menutupinya.

Seandainya masyarakat dunia dan dunia maya tahu aib kita satu saja, pasti kita sangat dan sangat malu karena kita “sangat garang” di dunia
dan dunia maya.

Bagi aktifis dakwah atau yang sudah mengenal dakwah ahlus sunnah wal jamaah, yang notabenenya insyaAllah sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara
mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat. Akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya.

Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelek lainnya.

Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Allah azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:

ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺒِﻤَﺎ ﺃَﻏْﻮَﻳْﺘَﻨِﻲ ﻷَﻗْﻌُﺪَﻥَّ ﻟَﻬُﻢْ ﺻِﺮَﺍﻃَﻚَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘِﻴﻢَْ ﺛُﻢَّ
ﻵﺗِﻴَﻨَّﻬُﻢ ﻣِّﻦ ﺑَﻴْﻦِ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ ﻭَﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻔِﻬِﻢْ ﻭَﻋَﻦْ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧِﻬِﻢْ ﻭَﻋَﻦ
ﺷَﻤَﺂﺋِﻠِﻬِﻢْ ﻭَﻻَ ﺗَﺠِﺪُ ﺃَﻛْﺜَﺮَﻫُﻢْ ﺷَﺎﻛِﺮِﻳﻦَ

“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS Al-A’raf: 16-17).

✔️ Akhlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah.

Umumnya Aktivis dakwah ahlus sunnah wal jamaah sangat perhatian terhadap akhlak karena ini memang sangat penting sekali, akan tetapi
terkadang lalai (semoga tidak, aamiin).

Karena itu kita jangan melupakan pelajaran akhlak mulia, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
memasukkan penerapan akhlak yang mulia dalam permasalahan aqidah.

Beliau berkata, “Dan mereka (al-firqoh an-najiah ahlus sunnah
wal jama’ah) menyeru kepada (penerapan) akhlak yang mulia dan amal-amal yang baik.

Mereka meyakini kandungan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yang paling sempuna imannya dari kaum mukminin adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka“.
Dan mereka mengajakmu untuk menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskan silaturahmi denganmu, dan agar engkau memberi kepada orang yang tidak memberi kepadamu, engkau memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, dan ahlus sunnah wal jama’ah memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, bertetangga dengan baik, berbuat baik kepada anak-anak yatim, fakir miskin, dan para musafir, serta
bersikap lembut kepada para budak.

Mereka (Ahlus sunnah wal jama’ah) melarang sikap sombong dan keangkuhan, serta merlarang perbuatan dzolim dan permusuhan terhadap orang lain baik dengan sebab ataupun tanpa sebab yang benar.

Mereka memerintahkan untuk berakhlak yang tinggi (mulia) dan melarang dari akhlaq yang rendah dan buruk”. [lihat Matan
‘Aqiidah al-Waashithiyyah]

✔️ Kita butuh teladan akhlak
dan takwa.

Di saat ini kita tidak hanya butuh terhadap teladan ilmu tetapi kita lebih butuh teladan ahklak dan takwa, sehingga kita bisa melihat dengan nyata dan mencontoh langsung akhlak dan takwa orang tersebut terutama para ustadz dan syaikh.

Yang perlu kita camkan juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adab orang tersebut baru kita mengambil ilmunya.

Ibu Imam Malik rahimahullahu, sangat paham hal ini dalam mendidik anaknya, beliau memerhatikan keadaan putranya saat hendak pergi belajar.

Imam Malik rahimahullahu mengisahkan:

“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ ‘Kemarilah!’ kata ibuku, ‘Pakailah pakaian ilmu!’
Lalu ibuku memakaikan aku
mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’

Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)!
Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’. (Waratsatul Anbiya’, )

Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini.

Baru melihat saja teladan tersebut, sudah sejuk dan kembali segar keimanan, belum lagi setelah mendengar embun nasihat darinya

Para ulama pun demikian sebagaimana Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata,
“Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk, atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami mendatangi beliau, maka dengan hanya memandang beliau dan mendengarkan ucapan beliau, maka hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”
[Al Waabilush Shayyib hal 48, cetakan ketiga, Darul Hadist,
Maktabah Syamilah]

Demikian semoga bermanfaat
@Kota Metro, Lampung

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/5rDJglYIVeGKmZ4yNif7Tp

Sholat: sutrah masih boleh dengan garis dan ujung sajadah

🟨⬛️ Shalat: Sutrah Masih Boleh dengan Garis dan Ujung Sajadah

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sutrah masih boleh dan sah dengan menggunakan garis dan ujung sajadah. Coba perhatikan pelajaran Bulughul Maram kali ini.

Bulughul Maram karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani

بَابُ سُتْرَةِ اَلْمُصَلِّي

Bab Sutrah (Pembatas) bagi Orang yang Shalat

✅ Hadits #236

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ( قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ ( { إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا , فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا , فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا , ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ } أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ , وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ , بَلْ هُوَ حَسَنٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian shalat hendaklah ia membuat sesuatu di depannya. Jika ia tidak mendapatkan, hendaknya ia menancapkan tongkat. Jika tidak memungkinkan, hendaknya ia membuat garis. Sehingga dengan hal itu, orang yang lewat di depannya tidak merusak shalatnya.” (Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Hadits ini sahih menurut Ibnu Hibban. Tidak benar orang yang menganggap hadits ini berkedudukan mudh-tharib, tetapi yang benar hadits ini adalah hasan). [HR. Ahmad, 12:354-355; Abu Daud, no. 689; Ibnu Majah, no. 943; Ibnu Hibban, no. 2361].

⬛️ Takhrij dan faedah hadits

Para ulama berselisih pendapat mengenai derajat hadits ini apakah sahih ataukah tidak.

Sebagian ulama mensahihkan hadits ini. Sebagian ulama lagi melemahkan (menyatakan “dhaif”) hadits ini.

Ulama yang melemahkan hadits ini adalah Sufyan bin ‘Uyainah. Ad-Daruquthni menyatakan bahwa hadits ini “laa yatsbut”, tidak kuat. Imam Al-‘Iraqi, Imam Ibnu Ash-Shalah, Imam Ibnu Hazm, Imam Nawawi, dan Imam Al-Baghawi adalah deretan ulama yang melemahkan hadits ini.

Hadits ini dinyatakan sebagai hadits mudh-tharib.

Hadits mudh-tharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan bentuk yang bervariasi yang sama-sama kuat.

Secara jelas, hadits mudh-tharib adalah hadits yang diriwayatkan dengan riwayat yang saling bertentangan yang tidak mungkin dikompromikan antara riwayat-riwayat yang ada.

Bahkan pertentangan yang ada adalah antara riwayat yang sama-sama kuat dan tak mungkin dikuatkan riwayat yang ada satu dan lainnya dengan jalan tarjih (penguatan).

Ulama yang mensahihkan hadits ini adalah Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu ‘Abdil Barr, Imam Ahmad, ‘Ali bin Al-Madini, ‘Abdul Haqq Al-Isybiliy, dan Al-Baihaqi.

Al-Hafizh Ibnu Hajar sendiri menyatakan hadits ini hasan.

Ada juga sanggahan dari Ibnu Hajar dan ulama lainnya terhadap mereka yang menyatakan hadits ini bermasalah.

Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan menyatakan bahwa hadits ini dhaif.

Argumen dari ulama yang menyatakan hadits ini sahih tidaklah kuat dalam menyanggah kritikan hadits ini sebagai hadits mudh-tharib.

Syaikh ‘Abdullah Al-Fauzan berkata, “Sebaiknya orang yang shalat tidak menjadi garis sebagai sutrah kecuali tidak ada lainnya yang dijadikan sebagai sutrah.

Hadits ini sejatinya diamalkan karena ketidakmampuan mendapatkan sutrah lainnya yang pantas.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghabun: 16). Oleh karenanya, Imam Nawawi rahimahullah berkata,

والمختار استحباب الخط؛ لأنه وإن لم يثبت الحديث؛ ففيه تحصيل حريم
للمصلي.

“Pendapat terpilih, memakai garis sebagai sutrah itu masih disunnahkan. Walaupun haditsnya tidak sahih, sebenarnya garis sudah melindungi orang yang sedang shalat.” (Al-Majmu’, 3:248). Lihat bahasan ini dalam Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, 2:424.

Garis di sini bisa dianalogikan (diqiyaskan) dengan sajadah. Ujung sajadah itulah yang menjadi sutrah selama sajadah itu tidak terlalu panjang ke depan.

Inilah yang dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali dan Imam Al-Baghawi sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’, 3:284.

▶️Kesimpulan:

Masih boleh menggunakan garis sebagai sutrah, termasuk pula sajadah.

Namun, kalau mau lebih aman bisa menjadikan sutrah dengan tembok, tiang, dan semacamnya yang lebih tinggi. Misal menggunakan sutrah 45 cm seperti mu’khiroh ar-rohli (tiang atau kayu sandaran di belakang kendaraannya atau tunggangannya) atau bisa lebih rendah dari itu seperti ukuran anak panah.

Wallahu a’lam.

🟥 Referensi:

Minhah Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram. Cetakan ketiga, Tahun 1431 H. Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan. Penerbit Dar Ibnul Jauzi. 2:421-425.

Malam Senin, 28 Muharram 1443 H, 5 September 2021.
@ Darush Sholihin Pangggang Gunungkidul

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/5rDJglYIVeGKmZ4yNif7Tp

Nasehat untuk sesama kaum muslim

🟩⬛️ Nasehat Untuk Sesama Kaum Muslimin.

Nasehat merupakan pilar ajaran Islam.

Di antara bentuk nasehat yang wajib dilakukan oleh setiap muslim adalah memberikan nasehat kepada saudaranya sesama muslim.

Namun, nasehat ini tidak sempit sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang. Karena hakekat dari nasehat adalah menghendaki kebaikan bagi saudaranya.

Lawan dari nasehat adalah melakukan penipuan. Sementara menipu merupakan dosa besar yang merusak keimanan seorang hamba.

Maka sudah semestinya setiap muslim bersemangat untuk menunaikan nasehat kepada sesama saudaranya demi terjaganya iman di dalam dirinya dan demi kebaikan saudaranya.

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu’anhu, dia berkata: “Aku berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk senantiasa mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan nasehat (menghendaki kebaikan) bagi setiap muslim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang bertanya,“Apa itu ya Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

an-Nawawi rahimahullah berkata:

فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْك النَّصِيحَة ، فَعَلَيْك أَنْ تَنْصَحهُ ، وَلَا تُدَاهِنهُ ، وَلَا تَغُشّهُ ، وَلَا تُمْسِك عَنْ بَيَان النَّصِيحَة

“Maknanya: -apabila- dia meminta nasehat darimu, maka wajib bagimu untuk menasehatinya, jangan hanya mencari muka di hadapannya, jangan pula menipunya, dan janganlah kamu menahan diri untuk menerangkan nasehat –kepadanya-.” (Syarh Muslim [7/295] asy-Syamilah)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ يَعُودُهُ إِذَا مَرِضَ وَيَشْهَدُهُ إِذَا مَاتَ وَيُجِيبُهُ إِذَا دَعَاهُ وَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتُهُ إِذَا عَطَسَ وَيَنْصَحُ لَهُ إِذَا غَابَ أَوْ شَهِدَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Ada enam kewajiban seorang muslim kepada mukmin yang lain. Apabila saudaranya sakit hendaknya dia jenguk. Apabila dia akan meninggal hendaknya dia ikut menyaksikannya. Apabila bertemu maka hendaknya dia ucapkan salam kepadanya. Apabila dia bersin hendaknya mendoakannya. Dan apabila dia pergi/tidak ada atau sedang hadir -ada di hadapannya- maka hendaknya dia bersikap nasehat kepadanya.”(HR. Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan sahih)

al-Mubarakfuri rahimahullah berkata:

وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ يُرِيدُ خَيْرَهُ فِي حُضُورِهِ وَغَيْبَتِهِ ، فَلَا يَتَمَلَّقُ فِي حُضُورِهِ وَيَغْتَابُ فِي غَيْبَتِهِ فَإِنَّ هَذَا صِفَةُ الْمُنَافِقِينَ

“Kesimpulannya adalah hendaknya seorang muslim senantiasa menginginkan kebaikan bagi saudaranya, baik ketika dia ada ataupun tidak ada, dan janganlah dia hanya senang mencari muka ketika berada di hadapannya dan menggunjingnya apabila saudaranya itu tidak ada di hadapannya, karena sesungguhnyahal ini termasuk ciri orang-orang munafik.” (Tuhfat al-Ahwadzi [7/44] asy-Syamilah).

Wallahu a’lam bish-showab.

🟥 Dikutip dari: https://muslim.or.id/8945-nasehat-untuk-sesama-kaum-muslimin.html

🟥 Silahkan disebarkan. Materi ini di repost ulang oleh Group Kajian WA ISLAMADINA ▶️ Admin 0811106811

🟥 Follow Instagram https://instagram.com/kajianislamadina?utm_medium=copy_link

🟥 Silahkan bergabung dalam WA group Kajian ISLAMADINA

▶️ Click https://chat.whatsapp.com/5rDJglYIVeGKmZ4yNif7Tp