nyeri dadaSuatu hari aku terima sms dari salah satu kolega kalau beliau baru saja keluar dari rumah sakit karena menjalani operasi pemasangan stent disaluran darah menuju jantung di rumah sakit pertamina Jakarta.
Aku nggak ngerti apa itu stent. Apa sejenis senjata laras panjang? Apa sejenis jarum yang dipasang kedalam tubuh? Dipicu oleh rasa penasaran, maka mulailah berburu informasi di media cetak dan dunia maya tentang si misterius “stent”
Sampai sekarang, penyakit jantung masih menjadi penyakit yang menakutkan dan merupakan salah penyebab utama kematian di dunia, begitu juga di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, penyakit sirkulasi (jantung dan pembuluh darah) menempati urutan tertinggi sebagai penyakit penyebab kematian di Indonesia (26,4%).
Persentase ini meningkat dibandingkan SKRT sebelumnya (SKRT 1995: 19%; SKRT 1992: 9,9%). Di Amerika Serikat sekarang ini, sekitar 12,6 juta orang mengalami penyakit jantung dan 25% dari seluruh rakyatnya memiliki minimal satu faktor risiko penyakit jantung.
Beragam penyebab dan pemicu serangan jantung, sebagian besar (52%) disebabkan oleh penyempitan pembuluh darah, yang tidak disadari oleh sebagian besar penderitanya. Faktor-faktor risiko ada yang mudah dideteksi seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, perokok, pengidap diabetes mellitus (DM), kelebihan berat badan, laki-laki berusia diatas 45 tahun dan memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Dr. Jayaram Lingamanaicker ahli jantung dari Lifeline Heart Centre Mt. Elizabeth Medical Centre Singapura menyatakan, kebanyakan factor risiko bersifat silent, tanpa memperlihatkan gejala apapun.

Salah satu gangguan sirkulasi yang banyak terjadi dan ditakuti adalah penyakit jantung koroner (PJK/coronary artery disease). strechingPenyakit jantung koroner terdiri atas angina pektoris dan infark jantung, biasanya disebabkan oleh aterosklerosis pada pembuluh darah jantung. Aterosklerosis secara harfiah berarti lemak yang mengeras. Proses aterosklerosis terjadi melalui beberapa tahap dan membutuhkan waktu bertahun-tahun

Penebalan lapisan dinding jantung, yang terdiri atas lemak, sel busa, sel otot, dan matriks, menyebabkan penyempitan pembuluh darah jantung. Penyempitan ini menyebabkan aliran darah yang mengandung makanan untuk jantung berkurang. Otot jantung kekurangan oksigen dan terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen dan suplai oksigen ke jantung.

Hal ini menimbulkan rasa nyeri, disebut angina pektoris, yang khas jantung, seperti: rasa tidak enak di dada tengah/kiri, seperti tertekan, diperas, panas atau baal. Nyeri dapat menjalar ke leher, lengan kiri, punggung, atau ulu hati. Angina dapat dicetuskan oleh aktivitas fisik, stres, perubahan suhu, dan lainnya, serta biasanya hilang dengan istirahat atau makan obat golongan nitrat.

Sumbatan aterosklerosis bersifat rentan untuk pecah. Bila sumbatan tersebut pecah akan terjadi reaksi pembekuan darah (trombosis) sehingga terbentuk bekuan darah yang menambah tebal sumbatan. Reaksi trombosis ini melibatkan platelet (sel pembeku darah) yang teraktivasi dan faktor-faktor pembekuan darah. Akibatnya derajat sumbatan meningkat, bahkan bisa sampai menyumbat total.

Pada sumbatan yang tidak total dapat timbul angina pektoris yang tidak stabil. Serangan jenis ini biasanya lebih berat, lebih lama, dan dapat timbul akibat aktivitas fisik yang lebih ringan. Bila terjadi sumbatan total, sel otot jantung dapat mati/infark (infark miokard akut), yang menimbulkan rasa nyeri yang amat sangat. Selain itu, nyeri tidak harus dicetuskan aktivitas fisik atau stres, durasi lebih lama, dan tidak hilang dengan cara biasa.

Penyakit jantung koroner dapat dideteksi melalui tes ECG treadmill, latihan echo-scan, 64-slice CT angiogram koroner atau katerisasi koroner. Dari hasil test dapat ditentukan pengobatan atau terapi yang tepat untuk dilakukan. Menurut dr. jayaram, cara umum yang dilakukan antara lain terapi medis menggunakan obat, ballon angioplasty, pemsangan stent atau stenting dan bedah by-pass.

azka senamTerapi medis untuk penyakit jantung koroner telah berkembang pesat sejak tahun 1970. Baik terapi ballon angioplasty maupun by-pass pada pembuluh darah jantung, memiliki peluang 50% untuk menyempit kembali. Sedangkan pemasangan stent memiliki kemungkinan penyempitan kembali sebesar 20-30%. Penyempitan kembali ini menurut beliau merupakan hal yang wajar. Biasanya membutuhkan waktu 6 hingga 12 bulan.

Stent adalah semacam tiang yang dipasang didalam pembuluh darah agar saluran pembuluh darah yang menyempit menjadi lebar atau memperbesar, sehinga aliran darah bisa kembali lancar. Stent logam versi terdahulu bersalut bahan kimia sirolimus dan paclitaxel, yaitu antibiotic dengan efek anti kanker dan antigrowth effect. Obat-obatan ini memperlambat juga proses penyembuhan pembuluh darah. Stent versi baru, yang diklaim dr Jayaram sebagai yang pertama menggunakannya adalah bio-stent pada tahun 2007 lalu. Bio-stent (absorbable stent) berbahan poli asam laktat yang diserap dan dimetabolisme oleh tubuh. Penggantian bahan ini memungkinkan stent baru mampu membuat pembuluh darah arteri koroner jantung berfungsi normal secara maksimal dan alami dengan risiko penyempitan yang relatif lebih kecil. European Society of Cardiology Meeting di Jerman, September tahu lalu, telah mengumumkan hasil percobaan membandingkan penggunaan bio-stent dengan tindakan operasi. Hasil keseluruhan menunjukkan penggunaan bio-stent sama baiknya dengan bedah by-pass koroner.

Ech…tapi aku belum nanya apakah kolega-kolegaku yang dipasangi stent itu pakai versi terdahulu apa yang versi baru ya….tapi apapun yang dipasang semoga relatif kecil penyempitan kembali, karena aku tahu beliau-beliau sudah merubah gaya hidupnya menjadi gaya hidup sehat alias tidak merokok kembali dan mulai berolah raga. Selamat ya pak Amin dan pak Wasis.

About these ads