tugu-yogya1Kalau sempat jalan-jalan ke yogya dan bisa meluangkan waktu berbelanja di pasar beringhardjo, pasar gedhenya Yogya, yang terletak diujung jalan malioboro, tidak akan menemui penjual yang sudah berumur dengan busana kebaya dan kainnya. Mungkin ini juga menjadi daya tarik belanja di yogya, yang sudah jarang dijumpai di kota-kota lainnya. Menurut data statistik yang dikeluarkan BPS tahun 2005 tentang indikator kesejahteraan bangsa Indonesia, penduduk yogya mempunyai usia harapan hidup yang tertinggi di Indonesia yaitu 73 tahun. Alhamdulillah, aku masih dikarunia orang tua yang panjang umur sampai saat ini berumur 74 dan 75 tahun dalam keadaan sehat wal afiat dan ini berarti sudah melewati usia harapan hidup di Indonesia.

Menurut dr. Robert Butler, umur sel manusia (biogenetic maximum lifespan) bisa direntang sampai 120 tahun atau satu juta jam, jadi sebenarnya usia harapan hidup tertinggi di Indonesia masih dibawah potensi umur manusia. Menurut national geographic penduduk suku Hunza (Pakistan), Ekuador dan Rusia, rata-rata hidup sehat dan tetap aktif sampai umur 130 tahun. Menurut dr. Hendrawan Nadesul, modal sehat (biocapital) yang tubuh peroleh sejak lahir tak kurang dari 99%. Hanya 1% yang hilang pada`mereka yang mewarisi penyakit keturunan, cacat lahir dan punya kelainan bawaan. Kalau cerdas mengelola modal sehat, umur optimal akan bisa diraih, syukur-syukur bisa nambah bonus lagi. Kalau di Jepang ada orang Okinawa yang dikenal panjang usia, maka di Indonesia kita perlu belajar dari orang yogya yang bisa panjang umur.

Menurut Prof. Dr. Ali Khomsan, ahli gizi dan guru besar departemen gizi masyarakat IPB, rahasia sehat orang Yogya ada pada konsumsi serat yang tinggi dan tingkat stress yang rendah. Wach…yang ini aku setuju banget, bayangin jam kantorku jam 7 pagi, berangkat dari rumah naik sepeda jam 6 -hitung-hitung mensukseskan program sego segawe (sepeda kanggo sekolah lan nyambut gawe atau sepeda dipakai untuk pergi sekolah dan pergi bekerja) nya pak walikota, kalau di ibukota lebih dikenal sebagai bike to work alias B2W), sampai kantor masih jam 6.30, sudah gitu jam 16 sudah sampai rumah, bagaimana mau stress, ya to?

Bahkan kalau nanti sempat ke yogya, amatilah aktivitas pagi hari, maka teman-teman masih bisa menemui orang berbondong-bondong bersepeda dari daerah bantul menuju kota yogya untuk bekerja dan mereka akan pulang bersama-sama disore harinya. Tingkat stress yang rendah juga didukung oleh lingkungannya yang relatif tenang dan akses fasilitas kehidupan yang mudah. Meski jalan-jalan di Yogya tidak selebar jalan-jalan di ibukota, tetapi Yogyakarta tidak mengenal kata macet, sehingga orang berangkat dan pulang sekolah/kuliah/kerja tidak perlu stress di jalan. Disepanjang jalan yang ada juga masih bisa ditemui pohon-pohon yang rindang sebagia bagian dari paru-paru kota untuk menghirup karbondioksida hasil pembakaran kendaraan bermotor yang lalu lalang sepanjang hari.

Yogyakarta sebagai daerah dataran rendah penghasil buah dan sayuran mendorong penduduknya banyak mengkonsumsi buah dan sayuran, karena harga terjangkau dari pada harus beli buah-buahan impor dari Cina, yang belum tentu lebih sehat dari buah lokal. Selain itu, orang yogya makan nasi cukup dengan lauk tempe, tahu dan sambel sudah merupakan hal yang biasa, padahal 2 lauk berbahan kedelai ini tinggi antioksidan sebagai pelawan radikal bebas ditubuh. Sehingga kebiasaan makan buah-buahan, sayuran, tahu, dan tempe memenuhi kebutuhan tubuh akan serat, lemak sehat, antioksidan dan tidak mengandung kolesterol. Dari sisi sikap hidup, orang Yogya terkenal sikap “nrimo” yaitu sikap hidup penuh kepasrahan.

Orang tua-tua jaman dulu selalu mengingatkan untuk “nrimo ing pandum” menerima apa yang menjadi haknya, jangan sampai mengambil hak orang lain, apalagi menjadi serakah. Pesan luhur orang tua ini masih banyak di anut orang Yogya sampai dengan sekarang ini, sehingga orang tidak senang bersaing, mereka lebih seneng membantu atau yang lebih dikenal dengan budaya gotong royong. Pola hidup yang nrimo ini pula yang menyebabkan ketika orang sudah makan dengan lauk tahu tempe apalagi ditambah sambel, mereka tidak merasa harus ditambah dengan daging. Dan orang Yogya juga makan dengan porsi sedang. Tidak lebih dan tidak kurang.

Nach, tidak aneh, jika muncul daerah di sekitar yogya utara di bangun perumahan untuk para pensiunan dari negeri sakura, mereka sadar bahwa Yogya sangat nyaman untuk menghabiskan sisa hidup di hari tua. Lha anehnya justru, kenapa orang Indonesia, tidak melihat dan memanfaatkan peluang ini ya? Kalaupun ada, biasanya karena ada keluarga yang sekolah/kuliah/kerja di Yogya sehingga mereka membeli rumah di Yogya, tetapi tidak untuk tinggal.

Aneh khan? Atau mungkin, ada alasan yang lain ya? Nggak tahulah aku….mungkin pembaca ada yang mau ngasih tahu…..

About these ads